Mualaf: Wanita Muslim Inggris Antara Keimanan dan Prasangka (1)

Sekitar 5000 lebih warga Inggris memeluk Islam setiap tahunnya –mayoritasnya perempuan. Berikut ini adalah pandangan para mualaf terhadap Islam, prasangka lingkungan dan interaksi mereka dengan komunitas Muslim yang dituturkan secara menarik oleh majalah Guardian 3 tahun lalu.

Cukup menarik untuk mengetahui bagaimana dilema yang dihadapi para mualaf  dalam berinteraksi dengan lingkungan, memperkenalkan agama barunya dan beragama dengan cara pandang dan kebiasaan baru. Tantangannya tidak semata dari lingkungan (agama) lama mereka. Namun juga lingkungan baru yang tidak cukup bijak menerima persepsi dan pandangan yang telah terbentuk dan berpengaruh lama dalam kehidupan pribadi para mualaf tadi.

Semoga dapat menjadi cermin.

Ioni Sullivan, 37 tahun, Pegawai pemerintah daerah,  East Sussex

Ioni-Sullivan-010Saya menikah dengan seorang Muslim dengan dua anak. Kami tinggal di Lewes dimana saya mungkin satu-satunya perempuan yang mengenakan hijab.

Saya dilahirkan dan dibesarkan dari keluarga menengah, ateis dan cenderung kiri. Ayah saya seorang profesor dan ibu seorang guru. Ketika saya menyelesaikan pendidikan master di bidang filsafat, saya sempat bekerja di Mesir, Yordania, Palestina dan Israel. Sekembalinya ke Inggris, saya masih memiliki pandangan sterotipe tentang Islam, namun terkesan dengan kuatnya keyakinan agama mereka. Meskipun kehidupan mereka sengsara, namun hampir dari setiap orang yang saya jumpai tampak menghadapi hidupnya dengan ketenangan dan keteguhan yang kontras dengan dunia yang saya jalani.

Pada 2001, saya jatuh cinta dan menikah dengan orang Yordania yang tidak relijius. Pertamanya, kami hidup dengan lifestyle Barat, suka pergi ke bar, namun selama waktu itu, saya belajar bahasa Arab dan membeli Qur’an terjemahan. Saya sedang membaca kita yang mengklaim bahwa  bukti kekuasaan Allah ada dalam keindahan yang tak terbatas dan keseimbangan ciptaannya, bukan kitab yang menyuruhku mempercayai bahwa Tuhan berjalan di bumi dalam bentuk manusia. Saya tidak membutuhkan pendeta untuk merahmati saya ataupun tempat suci untuk beribadah. Kemudian, saya mulai memperhatikan praktik ibadah dalam Islam yang saya sebut sulit dilakukan: berpuasa, membayar zakat, dan ide tentang kesopanan. Namun, saya sudah tidak menganggap lagi hal itu sebagai pembatasan kebebasan personal dan mulai memahaminya sebagai bentuk pengendalian diri.

Dalam hati saya, saya mulai menganggap diri saya muslim, namun tidak mengucapkannya; sebagian diri saya mencoba ingin menghindarkan konflik dengan keluarga dan teman. Namun, pada akhirnya,hijab sendiri yang mengantarkan saya bertemu dengan masyarakat luas. Saya merasa ada yang salah pada diri saya, jika tidak mengenakan hijab. Walaupun kemudian menimbulkan konflik dan juga humor. Beberapa orang bertanya berbisik apakah saya punya penyakit kanker. Namun saya sangat senang  jika ternyata pakaian yang saya kenakan tidak terlalu mempengaruhi hubungan baik kami.

 

Diolah dari Guardian

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *