Detik-Detik Genting Saat Malam Kudeta

Malam Juli 2016, Seorang perempuan, Tijen Karas, penyiar senior TV pemerintah TRT tampak tangan dan alis matanya bergetar menandakan ketakutan, rambutnya kusut, wajahnya membeku seperti es, dia membacakan dari layar monitor pernyataan kudeta dari “angkatan bersenjata Turki”.

“Inilah waktu terburuk dalam sejarah hidup saya,” tuturnya kemudian. “Tentara menyerbu kantor, mengikat tangan dan mengancam dengan senjata.

Kelompok yang menamakan dirinya “Perdamaian dalam Dewan Negara” adalah grup dalam militer yang dikabarkan loyal kepada Fethullah Gulen, ulama yang awalnya mentor Erdogan namun  menjadi musuh bebuyutannya. Para tentara menodongkan senjata  dan memerintahkan dia mengumumkan jam malam dan keadaan darurat lewat TV pada pukul 9 malam. Dalam deklarasi militer pelaku kudeta menyebut  presiden Erdogan telah melakukan pengkhianatan  dan menjamin masyarakat aman jika tetap tinggal di rumah.

Beberapa jam kemudian, jurnalis senior, Hande Firat menaruh iPhonenya didepan kamera untuk menayangkan pernyataan Erdogan. Dalam sambungan Skype mengajak rakyatuntuk turun ke jalan melawan kudeta dan membela demokrasi. Namun akhirnya, polisi, tentara yang turut serta dalam kudeta dan unit pasukan khusus berhasil mengalahkan mereka dan mengambil alih kembali tempat-tempat strategis yang sebelumnya diduduki.

Peristiwa ini dapat disebut sebagai momen kritis melawan kudeta karena pada akhirnya dapat membalikkan keadaan. Firat, kepala Biro Ankara mengatakan bahwa dirinya mengontak orang-orang dekat Erdogan sesegera dia tahu kudeta telah terjadi dan mengusulkan agar Erdogan berbicara via telpon. Karena itu, dia mengaku mendapatkan ucapan selamat dari penggemarnya di Saudi dan Oman, dan bahkan dirinya mendapat tawaran di twitter untuk menjual iPhone bersejarahnya seharga 250 ribu.

Setelah telpon via skype Erdogan, ribuan orang dengan membawa bendera Turki dan AKP turun ke jalan melawan kudeta, sambil berteriak, “Allahu Akbar”.

Malam Horor

Bentrokan rakyat yang marah melawan tentara pecah, beberapa tentara muda yang bersama dengan para perwira kudeta awalnya mengira bahwa mereka sedang berlatih di sepanjang malam. Di Ibukota Ankara, suara pesawat tempur F16s membelah langit, bersama kecamuk bentrokan di pelbagai tempat. Gedung parlemen tidak luput dari sasaran bom.

“Saya tidak ingin mengulangi malam itu, bom meledak di kantor polisi dekat kediaman saya” tutur mahasiswa yang tinggal di Ankara dalam status facebook-nya. “Saya benar-benar mengatur nafas saya untuk menyakinkan saya tidak apa-apa ketika ibu saya di Izmir menelpon perihal keadaannya.”

Saya benar-benar sedih dan malu. Hampir tidak mengerti apa yang terjadi di negeri saya malam itu,” tambahnya.

Diantaranya  265 meninggal dan 1440 terluka. Ada beberapa perempuan yang  terbunuh, diantaranya enam polisi wanita. Salah satu diantaranya, Zeynep Sair, ibu dua anak yang baru saja merampungkan misi internasionalnya di Kuwait. Beberapa hari ajal menjemputnya. Dia memposting foto bersama anaknya dengan caption;”Tidak ada lagi kematian.”

Foto para wanita turun ke jalan telah menyentuh emosi PM Binali Yildrim. Dia melihat foto wanita berjilbab mengendarai truk bersama wanita tak berjilbab di sisinya untuk melawan kudeta. “Ini adalah foto solidaritas untuk melindungi demokrasi,” tuturnya bangga.

Percakapan “Perintah Tembak di Tempat”

trtworld-nid-146954-fid-179106Pesan whatssap yang terekam diantara para perwira pro kudeta memerintahkan menembak rakyat yang melawan kudeta.

Sebagai bagian penyelidikan, jaksa penuntut umum di Istanbul berhasil merekam teks percakapan saat kudeta terjadi.  Dalam dokumen tersebut menunjukkan adanya perintah tembak di tempat kepada massa anti kudeta. Pesan tersebut terjadi ketika kalangan militer pembelot panik ketika melihat perlawanan rakyat.

Letnan Kolonel Muzaffer Duzenli memerintahkan anak buahnya menembak kerumunan yang menolak untuk bubar.

“Ulangi. Sebarkan. Tembak kerumunan itu,” perintah Duzenli.

Kolonel Muslum Kaya, yang merespon pesan Duzenil menulis, “Teman-teman tembakkan senjata.”

Tidak jelas dimana perintah itu dikeluarkan.

Sementara dalam percakapan lain, Mayor Mehmet Karabekir juga memerintahkan menembak kerumunan: “Saya menembak kerumunan dan menunggu mereka. Gunakan peluru secara terkendali. Sekitar 10-15 mati. Jangan kehilangan inisiatif,” perintahnya.

 

 

 

 

 

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *