Tragedi Palestina: Dalam Sejarah

Pada akhir 1880-an, gerakan kecil namun militan bernama “Zionisme” bangkit di Eropa. Tujuannya mendirikan negara Yahudi di suatu tempat. Para pemimpinnya akhirnya memutuskan menjadi Palestina, bekas tanah yang pernah mereka tinggali pada zaman dahulu sebagai lokasinya.

Populasi Palestina pada waktu sekitar 96 persen non Yahudi, yang mencakup pemeluk Islam dan Nasrani.

Selama beberapa dekade berikutnya, para pemimpin Zionis menggunakan pelbagai strategi untuk mewujudkan tujuannya, yakni mengambil alih Palestina, diantaranya;

  1. Mendorong imigrasi Yahudi ke Palestina, sebagiannya melalui pembuatan slogan menipu yakni, “Palestina adalah tanah tanpa penduduk untuk orang yang tidak memiliki tanah”. Kenyataannya, wilayah itu berpunghuni. Karena mayoritas Yahudi bukan Zionis hingga berakhirnya PD II, maka Zionis menggunakan pelbagai strategi yang menyesatkan, termasuk bekerjasama secara rahasia dengan NAZI (Hitler) untuk mendorong migrasi.
  2. Meyakinkan “Negara-Negara Besar” untuk mendukung proses ini. Zionis mendekati Turki Usmani, Inggris, dan AS untuk mewujudkan tujuannya. Turki Usmani menolak, Inggris (dijanjikan bahwa Zionis AS akan mendesak AS untuk mendukung Inggris dalam PD I) akhirnya setuju, sebagaimana AS (Harry Truman khawatir kalah dalam pemilu).
  3. Membeli tanah-tanah di Palestina (kadang melalui penipuan), tidak memberikan kesempatan kepada non Yahudi bekerja di tanah yang mereka beli. Pembelian tanah dilakukan melalui pelbagai cara dan mendapat dukungan dari keluarga-keluarga Yahudi kaya, seperti Rothschilds.
  4. Kekerasan digunakan jika pengambil-alihan tanah tidak berhasil.

Historic Palestine, the land now occupied by the state of Israel, was a multicultural society. During the 1947-49 War, Israel committed at least 33 massacres and expelled over 750,000 Palestinians.

Tanah yang menjadi negara Palestina sekarang dulunya adalah dihuni masyarakat multi-kultural. Selama Perang 1947-49, Israel melakukan tidak kurang 33 kali pembantaian dan pengusiran sebanyak 750 ribu penduduk Palestina.

Pada 1930-an, kepemilikan tanah oleh Yahudi meningkat dari 1 persen menjadi 6 persen, dan kekerasan meningkat tajam. Dengan bangkitnya beberapa kelompok teroris Zionis, maka maka kekerasan banyak terjadi. Banyak penduduk dari beragam etnik terbunuh, mayoritasnya adalah penduduk Palestina Muslim maupun Kristen

Bencana (Nakhba)

Kekerasan mencapai puncaknya pada 1947-1949 yang disebut kalangan Zionis sebagai “Perang Kemerdekaan”. Setidaknya 750 ribu warga Palestina  diusir dari kampung halamannya oleh pasukan Israel yang lebih unggul dalam persenjataan. Bencana kemanusian ini dikenang dalam sejarah Arab sebagai “al Nakhba” (Tragedi).

Palestinian refugees

Pasukan Zionis melakukan 33 kali pembantaian dan menghancurkan setidaknya 531 kota-kota Palestina.  Norman Finkelstein menyatakan; “Menurut dokumen tentara Israel sendiri, “hampir setiap desa yang diduduki pasukan kita selama perang…banyak tindakan yang dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang, seperti pembunuhan, pembantaian dan pemerkosaan dilakukan.”  Uri Milsteinn, sejarawan militer Israel pada Perang 1948 bahkan lebih jauh menjelaskan bahwa setiap pengepungan pasti berakhir dengan pembantaian.

Mantan petinggi Palang Merah Swedia, Count Folke Bernadotte, yang menyelamatkan ribuan Yahudi selama PD II dan selanjutnya diangkat sebagai mediator perdamaian Palestina, mengatakan tentang kondisi pengungsi Palestina: “Adalah pelanggaran terhadap prinsip keadilan yang paling mendasar jika orang-orang yang tidak berdosa dalam konflik ini dihalang-halangi hak kembalinya (ke kampung halaman).” Bernadotte kemudian dibunuh oleh organisasi Zionis yang dipimpin Yitzhak Shamir (yang kemudian menjadi PM Israel).

Ketidakadilan Yang Terus Berlanjut

Lebih dari 60 tahun sejak Israel berdiri , kezaliman demi kezaliman terus berlangsung. Para pengungsi Palestina menjadi populasi pengungsi terbesar di dunia yang masih ada.

Palestinian child refugees.

1,3 juta penduduk Palestina tinggal di Israel sebagai “warga negara Israel,  meskipun berstatus warga negara, mereka mengalami diskriminasi. Banyak dari mereka yang dilarang tinggal di pedesaan atau kembali ke kampung halamannya sebelum dipindah paksa dan harta benda mereka dirampas.  Dalam terminologi Orwellian, hukum Israel menganggap para pengungsi domestik sebagai “orang yang seharusnya tidak ada namun ada

Pada 1967, Israel kembali melancarkan perang ketiganya dan merampas lebih banyak tanah Palestina (dan negara Arab lainnya. Israel juga menyerang kapal angkatan laut AS, USS Liberty menewaskan dan melukasi lebih dari 200 marinir Amerika, peristiwa yang banyak ditutup-tutupi, meskipun banyak upaya dari pelbagai pihak baik dari para petinggi militer dan sipil yang ingin membongkarnya.

Israel menduduki Tepi Barat dan Jalur Gaza -22 persen wilayah palestina yang tersisa- dan mulai membangun pemukiman untuk warga Yahudi dari tanah warga Palestina yang dirampas. Israel menghancurkan tidak kurang 24.145 rumah warga Palestina sejak 1967. pada 2005, Israel mengembalikan tanah Gaza kepada warga Palestina, namun masih tetap mengendalikan perbatasan, pelabuhan dan wilayah udara, sehingga menjadikan Gaza sebagai penjara besar bagi  1,5 juta penduduk yang disebut Komisioner HAM PBB dalam kondisi sangat menyedihkan.

Lebih dari 7000 warga Palestina, baik laki-laki, perempuan dan anak-anak dipenjara dalam keadaan menyedihkan (banyak dari mereka dipenjara tanpa dakwaan yang jelas) dan hak dasar warga Palestina di wilayah pendudukan sering dilanggar.  beberapa tahanan mengaku disiksa. Kekerasan kembali pecah pada  5 Februari 2000. Pada 2009, Israel membunuh 6,348 warga Palestina; sebaliknya pejuang Palestina membunuh 1,072 warga Isreal. Militer Israel, kekuatan militer terbesar keempat di dunia juga memiliki ratusan senjata nuklir.

 

Tanah Palestina yang Hilang dari  1946-2005

four maps of shrinking Palestine

 

 

 

Sumber

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *