Mengapa Memilih Clinton Bisa Menjadi Lebih Buruk bagi Muslim?

*Arun Kundnani

Dengan Khizr dan Gazala Khan, partai Demokrat sepertinya telah menemukan konter sempurna bagi Donald Trump. Sejak Trump mengusulkan untuk melarang Muslim masuk AS, kampanyenya sedemikian rupa mengeksploitasi ketakutan bahwa Muslim adalah orang-orang yang berbahaya dan tidak loyal. Namun siapa yang akan membantah bahwa keluarga Khan dimana anaknya meninggal dalam menjalankan tugas di Irak bukan keluarga patriotik?

Trump membantah bahwa Ghazala Khan tidak berbicara karena alasan Islam. Komentarnya ini tidak pelak menghantam dirinya dan merongrong posisi dia dalam polling beberapa saat lalu. Sementara di pihak lain, Hillary Clinton sukses menganggap dirinya sebagai kandidat presiden liberal yang toleran dan maju.

Namun coba anda lihat dari dekat dan berterus terang. Kita mudah lupa mengapa keluarga Khan kehilangan anaknya sejak mula? Humayun Khan mati karena berperang dalam perang ilegal di Irak, yang dilakukan atas dasar kebohongan Islamophobia, yang didukung Hillary Clinton saat menjabat senator New York.

Pada 2011, Clinton adalah tokoh terkemuka yang mendorong aksi militer di Libya. Dia pada awalnya menegaskan bahwa pemboman dilakukan dalam rangka menciptakan zona larangan terbang untuk melindungi warga sipil. Dalam beberapa minggu kemudian, tujuannya ternyata adalah pergantian rejim.

Ketika berita sampai ke dirinya bahwa pemimpin Libya Muammar Qaddafi ditangkap, dipukuli lalu dibunuh, Clinton berkelakar dengan wartawan CBS: “Kami datang, kami melihat dan dia mati.” Seperti di Irak, hasilnya adalah hancurnya tata sosial, ketidakamanan dan terusirnya penduduk dari kampung halaman mereka, sementara kelompok IS (Islamic State) berhasil mengeksploitasi kekacauan untuk menegaskan kehadirannya.

Tampak jelas bahwa Clinton akan melanjutkan kebijakan luar negeri AS yang haus perang jika  terpilih. Dia hampir yakin akan menaikkan aksi militer di Suriah. Sekitar 600 warga sipil tewas dalam pengemboman koalisi dalam dua tahun ini, termasuk diantaranya 163 anak-anak. Dengan Clinton di Gedung Putih, lebih banyak orang yang akan terbunuh oleh aksi militer AS di Timur Tengah, sementara akar masalahnya sendiri tidak pernah terselesaikan. Kebijakan luar negeri AS lebih sejalan dengan Netanyahu di Israel daripada kebijakan AS 8 tahun silam. Clinton sendiri secara personal menjamin tidak akan ada kritik bagi Israel seperti yang terdengar dalam konvensi Partai Demokrat.

Neo Conservatif seperti Robert Kagan pernah mengatakan di 2014; “Saya merasa nyaman dengan kebijakan luar negerinya… jika dia menerapkan kebijakan yang kami pikir dia akan kerjakan, sesuatu yang dinamakan neocon, hanya saja, para pendukungnya tidak akan mengatakan seperti itu, mereka akan mengatakan sesuatu yang lain.”

Dengan kata lain, dia akan menjalankan kebijakan luar negeri neo conservatif yang berbalut kosa kata liberal, semacam intervensi kemanusiaan. Tidak heran jika tokoh neo conservatif seperti Robert Kagan lebih mendukung dia ketimbang Trump dan secara aktif memfasilitasi penggalangan dana untuk Clinton di Washington DC.

Para pendukung neo conservatif paham apa yang para pendukung liberalnya tidak ketahui; ketika terjadi konflik antara nilai-nilai liberal yang dia dengungkan dengan tuntutan imperium AS, maka dia selalu memilih kekuasaan diatas prinsip. Ketika gerakan demokratis yang tulus bangkit mengancam kepentingan AS, seperti di Honduras pada 2009 dan di Mesir pada 2011, maka Clinton berpihak kepada para sahabatnya yang diktator ketimbang kelompok revolusioner di jalanan.

Ini membawa implikasi di dalam AS juga. Semakin lama, pemerintah berperang di Timur Tengah, maka akan menjadi sulit untuk mengkonter prasangka anti Muslim di antara masyarakat awam Amerika. Separo warga Amerika percaya bahwa Islam lebih mungkin mendorong kekerasan ketimbang penganut agama lain. Keyakinan itu jelas salah; karena kenyataannya survei global justru menunjukkan bahwa rakyat Amerika ternyata lebih mudah mendukung kekerasan atas warga sipil ketimbang warga sipil dari negara-negara lain. Sikap terhadap kekerasan tidak ada kaitannya dengan keyakinan agama.

Namun keyakinan bahwa Islam inheren dengan kekerasan muncul karena pandangan ini memberikan penjelasan simplistik dan nyaman karena adanya fakta aksi kekerasan di Timur Tengah, tanpa harus mengakui bagaimana peran pemerintah AS dalam mendorong kekerasan. Islamophobia Trump adalah gejala dari problema AS yang lebih dalam. Namun kebijakan luar negeri neo conservatif Clinton jelas menyebabkan problem itu menjadi semakin memburuk.

Jika AS mengikuti modelnya, maka penerimaan Muslim di AS akan tergantung apakah mereka tampak patriotik seperti Khan atau tidak. Mereka yang menentang atau mengkritik kebijakan AS atau Israel, maka  akan dianggap mencurigakan dan tidak loyal. Dilihat dari aspek ini, penerimaan Clinton atas patriotisme Muslim seperti Khan bukan karena prinsip liberal, namun lebih merupakan upaya menciptakan imej untuk mengaburkan kritik atas kebijakan luar negerinya.

Ini tidak dalam rangka memperlakukan Muslim sebagai saudara sebangsa, namun lebih sebagai bidak atau pion dalam pertandingan catur geopolitik. Imej positif semacam ini mungkin dapat membantu menghentikan Trump, namun juga dapat digunakan untuk memperkuat struktur rasisme anti Muslim baik di dalam negeri maupun dalam kebijakan luar negerinya.

Maka silahkan maju dan dukung Clinton untuk menyingkirkan Turmp. Namun jangan cepat bangga bahwa anda adalah seorang liberal yang baik jika melakukan hal itu, karena apa yang anda lakukan adalah memilih ‘bom’ Clinton ketimbang ‘larangan‘ model Trump.

 

* dosen di Universitas New York dan penulis buku. 

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *