14 Tahun Rachel Corrie, Pejuang Kemanusiaan yang Meninggal Dibuldoser Israel

14 tahun sudah anaknya tewas karena buldoser Israel, ungkap ayah Rachel Corris sedih karena pemerintah AS sekarang tidak mungkin akan membantu anaknya mendapatkan keadilan, baik yang terkait kematian Rachel Corrie atau penindasan terhadap rakyat Palestina.

“Dukungan pemerintah AS sekarang dengan memberikan apa saja yang diinginkan Israel adalah hal yang sangat menganggu,” ujar Cindy, ibu mendiang Corrie.

Dia tambahkan:“Apa yang kami minta dari pemerintah sekarang adalah hendaknya mereka bersikap seimbang dan mau belajar. Perhatian kami adalah kepada rakyat Palestina sekarang.”

Pihak keluarga juga menyatakan kekhawatiran atas terpilihnya David Friedman sebagai duta besar AS untuk Israel.

“Selama bulan terakhir di AS, sulit untuk berpikir bahwa pemerintah kita akan kesana untuk menyelamatkan seseorang dari kegilaan ini,” tandas Craig, ayah Corrie.

“Banyak warga dunia mengingat Rachel sebagai contoh warga Amerika yang merasa berbeda ketimbang apa yang dilakukan oleh pemerintah kita.”

“Saya senang dia diingat seperti itu,” tambahnya.

Bagi seorang pensiunan eksekutif asuransi, Craig, 70 tahun dan ibunya, Cindy, 69 tahun, kehilangan seorang anak perempuan adalah hal yang sangat menyedihkan setiap harinya.

“Disini Karena Peduli”

“Dia adalah orang yang humanistik,” ingat mantan penyanyi Cindy. Ceria wajah dan sedikit awut-awutan sebagai seorang gadis muda, Rachel memiliki kemampuan untuk memahami banyak hal dengan pemahaman yang mendalam di usia mudanya.

Dalam video Rachel yang masih berusia 10 tahun dan kelas lima SD, dia berbicara dalam konferensi sekolah tentang kelaparan dunia:

“Saya kesini untuk anak-anak lainnya. Saya disini karena saya peduli…Kita harus memahami bahwa orang di negara-negara dunia ketiga berpikir, peduli, tersenyum dan menangis sama seperti kita.”

Pada saat menjadi mahasiswa di Universitas Evergreen di Olympia, 100 km barat daya Seattle, Rachel bergabung dengan Olympians for Peace and Solidarity yang mengantarnya ke Gaza.

“Dia mengatakan bagaimana pentingnya Gaza pada waktu itu baginya dan tidak lagi berbicara pentingnya dirinya,” tutur Cindy.

“Ini benar-benar usahanya untuk mempelajari bagaimana solidaritas dengan orang-orang yang kehidupan kesehariannya berada dibawah penindasan.”

Perusakan Sistematik

Dua hari sebelum kematiannya, Rachel menceritakan bagaimana dia melihat anak-anak ditembak dan meninggal, rumah dan sumur mereka dihancurkan.

“Saya merasa apa yang saya saksikan disini adalah penghancuran sistemik kemampuan orang untuk bertahan hidup dan ini benar-benar mengerikan,” sedihnya.

Rachel berusia 23 tahun ketika berpergian ke Jalur Gaza lewat jalur proyek kembar antara Olympia dan Rafah pada Januari 2003.  Dua bulan kemudian dia tewas karena membela seorang warga Palestina yang hendak dihancurkan rumahnya di Rafah. Israel hingga sekarang tidak bertanggung jawab atas kematiannya.
Pada hari kematiannya, Rachel adalah aktivis International Solidarity Movement yang berdiri menghadang buldozer Israel yang hendak menghancurkan rumah-rumah warga Palestina.
Dia berdiri di depan untuk menahan laju buldozer yang akan menghancurkan rumah seorang dokter sehingga kemudian terlindas. Dia dinyatakan wafat beberapa saat setelah tiba di rumah sakit.
Kemudian PM Israel Ariel Sharon menjanjikan penyelidikan yang transparan dan kredibel. “Pemerintah kita sendiri masih mengatakan bahwa hal itu tidak akan pernah terjadi,” ujar ayahnya.
Bertahun-tahun, keluarga Corrie berjuang untuk mendapatkan keadilan atas tewasnya Rachel.
Mereka mengajukan tuntutan hukum di Israel pada 2005, namun ditolak dan kembali mengajukan pada 2015.
Meskipun tidak berhasil, keluarga yang mendirikan Yayasan Rachel Corrie untuk Perdamaian dan Keadilan yakin bahwa tuntutan tersebut akan mengungkapkan masalah yang ada dalam pemerintahan dan militer Israel.
“Tuntutan tersebut menantang institusi-institusi tersebut,” ujar Cindy. “Dan pengacara kami Hussein Abu Hussein berhasil membongkar problema yang ada dalam sistem tersebut.”
Tuntutan tersebut juga mengungkapkan peran pengadilan Israel dalam mendukung penjajahan, tambah Craig. Para jenderal di Israel tahu bahwa ada negara-negara tertentu di Eropa dimana mereka tidak dapat bebas berpergian karena mereka akan ditangkap karena kejahatan mereka, namun mereka tidak pernah curiga bahwa hal tersebut akan terjadi di pengadilan Israel.
Dia mengaku pernah berbincang dengan mantan tentara Israel. “Tidak mungkin memasukkan pengemudi buldozer ke penjara karena dia hanya instruman yang tidak lebih bertanggung jawab ketimbang buldozernya sendiri. Ini adalah masalah jalur komando yang dilakukan militer. Apa yang anda lakukan adalah perubahan itu sendiri.”
Sebuah laporan PBB pekan ini menyatakan Israel adalah negara yang menjalankan rejim apartheid. “Ini adalah langkah awal untuk belajar bagi pemerintah,” tandas Craig, ketimbang mengecam laporan tersebut seperti yang dilakukan Trump.
Keluarganya kini berharap bahwa ada beberap ganti rugi bagi rakyat Palestina, jika bukan untuk Rachel. “Dalam beberapa hal, tidak ada yang dapat kita lakukan untuk Rachel,” ujar Craig.
Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *