Kelompok Militan Berada Di belakang Serangan Akademi Polisi Pakistan

Pemakaman atas korban serangan mematikan terhadap akademi kepolisian di Quetta telah usai diselenggarakan. Setidaknya 61 kadet polisi tewas dan 170 lainnya mengalami luka.

Nawaz Sharif, PM Pakistan, tiba di ibukota provinsi Balochistan Selasa untuk memberikan penghormatan kepada korban serangan teroris yang diklaim dilakukan oleh kelompok Lashkar-e-Jhangvi (LeJ).

“Kami mendengar cerita yang mengerikan bagaimana para kadet meloloskan diri ketika para penyerang menerobos tembok, masuk akademi dan melemparkan granat ke barak-barak ketika  mereka sedang tertidur, dan dua diantara mereka meledakkan dirinya,” ungkap jurnalis Al Jazeera, Osma bin Javaid.

Kelompok yang menjadi kepanjangan LeJ, yang menamakan diri Al Alami mengklaim bertanggung jawab atas serangan, yang secara khusus menarget akademi polisi karena dianggap “target gampang”.

“Kelompok ini pernah terlibat dalam serangan sektarian di Kota Quetta dan dianggap kuat di kota ini, “tambahnya.

Jenderal Sher Afgun, komandan senior militer di Balochistan mengonfirmasi laporan yang menyebutkan bahwa panggilan telepon antara penyerang dan pemberi perintah berhasil disadap, yang menunjukkan bahwa mereka adalah sayap Al Alami dari LeJ, kelompok sunni ekstrimis.

“Kami mengetahui dari sadapan komunikasi dari tiga militan yang mendapatkan instruksi dari Afghanistan,” ungkap Afgun.

Ratusan kadet tengah menempuh pendidikan di luar kota Quetta ketika para pelaku yang mengenakan masker menyerang di tengah malam dan berlangsung hampir 5 jam.

LeJ, yang berasal dari provinsi pedalaman Punjab, memiliki sejarah melakukan serangan sektarian di Balochistan, khususnya kepada minoritas Syiah Hazara.

Pakistan sebelumnya menuduh LeJ bekerjasama dengan al Qaeda.

Tahun lalu, pemerintah melancarkan operasi tas LeJ, khususnya di Provinsi Punjab.

Dalam operasi pemerintah tersebut, Maliq Ishhaq, pemimpin kelompok itu tewas pada Juli 2015 bersama 13 pemimpin lainnya.

“Dua, tiga hari yang lalu, kami memiliki laporan intelejan akan adanya serangan di kota Quetta sehingga keamanan diperketat di Quetta, namun serangan ternyata dilakukan di akademi kepolisian,” tutur Sanaullah Zehri, menteri besar Balochistan kepada saluran TV Geo.

Ini menjadi serangan yang mematikan di Pakistan sejak serangan bom bunuh diri yang menewaskan 70 orang yang sedang berduka di rumah sakit di Quetta Agustus lalu.

Pakistan telah meningkatkan situasi keamanan dalam beberap tahun terakhir, setelah beberapa kelompok bersenjata mengancam akan melakukan serangan ke negeri yang berpenduduk 190 juta Muslim ini.

ISIL sebelumnya mencoba mencari jalan untuk menanamkan pengaruhnya di Pakistan setahun yang lalu dengan mengeksploitasi perpecahan sektarian di negeri tersebut.

 

 

 

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *