30 Tahun Gerakan Perlawanan Islam Hamas

Kemarin menandai peringatan 30 tahun milad gerakan perlawanan Islam Hamas yang dilahirkan dari rahim gerakan Islam Ikhwanul Muslimin di Palestina. Gerakan ini didirikan oleh diantaranya oleh Syaikh Ahmad Yassin dan semua pemimpinnya adalah anggota Ikhwanul Muslimin. Ideologi Hamas berasal dari ideologi dan piagam Ikhwanul Muslimin. Ikhwan menjadi mesin Intifadha pertama, yang menginspirasi gerakan ini kemudian mengumumkan berdirinya Hamas pada 14 Desember 1987.

Dalam bukunya, Hamas: Unwritten Chapters, akademisi dan intelektual Palestina Azzam Tamimi menulis bahwa piagam pendirian ditulis pada 9 Desember 1987 pada hari kedua intifadha, 5 hari sebelum pengumuman resmi. Saya tidak tahu mengapa pendirian gerakan ini tidak diumumkan pada hari itu dan ditunda, namun mungkin karena alasan keamanan karena penangkapan dan penghalangan oleh mendiang Yasser Arafat karena takut Fatah dan kekuasaannya hilang. Dia mencoba berulang kali mencegah gerakan Islam tersebut muncul. Apapun alasannya, yang pasti pengumuman gerakan ini menjadi deklarasi internasional yang mengguncangkan Israel. 

Dalam waktu itu, ada semacam kebangkitan Islam di negara-negara Muslim. Mereka tergoncang karena dampak Westernisasi yang dipaksakan atas mereka selama satu abad. Periode ini juga menyaksikan pertumbuhan dan kemakmuran beberapa gerakan Islam. Mujahidin di Afghanistan memperoleh kemenangan melawan invasi Uni Soviet. Israel takut mereka yang berperang atas dasar doktrin Islam dan sejak mula kehadiran Hamas juga menggoyang institusi negara Zionis tersebut. 

Cabang Ikhwanul Muslimin di seluruh dunia mendukun Hamas dan menganggapnya sebagai proyek perlawanan untuk membebaskan semua wilayah Palestina dari sungai Yordan hingga Laut Mediteranian. Mereka menyambut Hamas sebagaimana banyak Muslim di seluruh dunia, yang sebelumnya tidak dirasa kehadirannya dalam perjuangan Palestina. Gerakan ini memberikan banyak pengorbanan dan martir mereka termasuk Syaikh Ahmad Yassin, Dr Abdel Azis Rantisi dan para pemimpin lainnya yang dibunuh Israel. Yassin yang mengendarai kursi roda syahid  dirudal Israel ketika baru meninggalkan masjid usai mengerjakan sholat subuh. Hamass banyak mengorbankan para pejuangnya untuk mengembalikan hak rakyat Palestina dan mendukung gagasan bahwa Palestina adalah milik umat Islam. Palestina menjadi prioritas utama dan pertama dunia Islam dan tidak hanya semata hak rakyat Palestina. 

Sejak didirikan, PLO dianggap sebagai satu-satunya wakil rakyat Palestina. Namun, PLO menjadi buah kekecewaan karena secara bertahap mengubah perjuangan rakyat Palestina sebagai isu Arab saja. Gerakan ini kemudian termarginalisasi yang hanya peduli isu rakyat Palestina saja. PLO terjebak dalam manuver Perjanjian Oslo yang memberikanlegitimasi kepada penjajah Israel yang bahkan tidak pernah mereka impikan sebelumnya. Sementara rakyat Palestina tidak mendapatkan apapun dari perjanjian tersebut. Alih-alih, Israel lebih banyak mencaplok wilayah Palestina dan melakukan Yahudisasi apapun yang menjadi warisan kesejarahan rakyat Palestina setelah 25 tahun Perjanjian Oslo. 

Kini dengan blokade, pengepungan dan semua bentuk kejahatan lainnya, PLO yang dipimpin Mahmoud Abbas yang juga pemimpin Fatah dan otoritas Palestina ingin menundukkan Hamas dengan cara yang sama seperti dilakukan atas Fatah. Mereka menyeret gerakan itu kedalam negosiasi dengan Israel melalui pintu rekonsiliasi dengan Fatah serta pengawasan Mesir. Rekonsiliasi itu jelas untuk kepentingan Israel, bukan untuk kepentingan nasional rakyat Palestina seperti diklaimnya. Setelah menyingkirkan Hamas dalam peta politik, mereka kini mempreteli Hamas dari semua sumber kekuatannya. Ini adalah tujuan sebenarnya dari rekonsiliasi. Mereka ingin melucuti Hamas dan menaruhnya dibawah kendali Otoritas Palestina. Ini telah dinyatakan sendiri oleh Abbas beberapa kali bahwa mereka bersekutu dengan keinginan Israel. Ini jelas lebih mudah untuk memasukkan Hamas dalam otoritas Palestina yang merupakan jelmaan dari kesepakatan Oslo melalui tekanan Trump dan beberapa negara Arab, yang sedang memburu ambisi normalisasinya dengan Israel. 

Ini adalah dilema sesungguhnya bagi Hamas yang menempatkan dirinya dalam kesepakatan rekonsiliasi. Ini seperti ladang ranjau. 

Kita berharap Hamas tetap memilih melanjutkan sebagai perjuangan bersenjata dan melawan Oslo dengan segala kemampuan yang dimilikinya serta sekaligus mengoreksi kesalahan yang dibuatnya. Meskipun hal itu sulit, karena gerakan ini telah diawasi badan intelejen Mesir yang dikendalikan oleh Al Sisi. Dia adalah rejim Mesir yang sangat memusuhi Hamas. Al Sisi tentu tidak ingin mengulang skenario 2007 ketika Hamas berhasil mengendalikan Gaza dan mengusir Fatah, yang pada waktu berupaya menggulingkan pemerintahan yang dipilih secara demokratis. Jika Hamas gagal melakukan hal ini, maka dia akan menjadi lembaran sejarah perlawanan Palestina. Gerakan baru dibutuhkan yang dapat menjadi obor perjuangan rakyat Palestina untuk membebaskan semua wilayah Palestina dari sungai hingga ke laut.

Seperti kata Al Qur’an, “Jika engkau berpaling, maka Allah akan mengganti dengan kaum lain, yang mereka tidak seperti kamu.”

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *