5 Fakta Politik Tentang Masjid Suci Al Aqsa

Beberapa pekan lalu, kita melihat aksi demonstrasi dan bentrokan antara warga Palestina di wilayah pendudukan dengan pasukan keamanan Israel. 

Ketegangan tersebut berawal dari penutupan Masjid Al Aqsa untuk pertama kalinya sejak 1969 dan tindakan keamanan Israel yang membatasi akses ke tempat suci umat Islam ketiga ini, berupa pemasangan alat pemindai logam dan kamera pengawas. 

Sebagai protes, penduduk Palestina menolak masuk ke kompleks Masjid hingga Israel mencopot semua peralatan keamanan tersebut karena dianggap sebagai upaya Yahudisasi kota tua ini. Israel mencaplok kota itu dalam Perang 1967 dan menjadikannya sebagai ibukota Israel pada 1980. 

Selama shalat Jumat pada 21 Juli, ribuan warga Palestina menunaikan shalat di jalanan diluar gerbang Al Asad, salah satu pintu masuk ke masjid. Akibatnya, 4 warga Palestina tewas di Yerusalem Timur dan Tepi Barat, salah satunya ditembak pemukim Yahudi. 

Berikut ini 5 fakta politik tentang kompleks masjid Al Aqsa dan upaya Yahudisasi tempat suci umat Islam ini. 

1. Apakah Masjid Al Aqsa itu dan Mengapa Sangat Penting?

Al Aqsa adalah nama masjid dengan kubah perak didalam kompleks seluas 35 acre yang disebut Al Haram al Sharif (Tempat Suci) oleh kaum Muslimin dan Kuil Kuno (Mount Temple) oleh Yahudi. Kompleks yang terletak di kota tua Yerusalem ini dijadikan situs warisan dunia oleh UNESCO dan tempat suci bagi 3 agama. 

Pada 1947, PBB meratifikasi keputusan membagi Palestina yang dibawah kendali Inggris kedalam 2 negara, satu bagian untuk Yahudi Eropa dan satu bagian lainnya untuk rakyat Palestina. Negara Yahudi mendapatkan 55 persen dan sisanya 45 persen untuk negara Palestina. 

Yerusalem yang menjadi lokasi Masjid Al Aqsa milik masyarakat internasional dibawah kendali PBB dan mendapatkan status khusus karena penting bagi 3 agama samawi. 

View image on Twitter

Perang Arab Israel pecah pada 1948 setelah Israel memproklamirkan berdirinya negara Israel dan selanjutnya merampas 78 persen wilayah Palestina dan hanya menyisakan Tepi Barat, Yerusalem Timur dan Gaza yang pada waktu itu masih dikuasai Mesir dan Yordania. 

Namun perampasan tanah oleh Israel terus berlanjut pada 1967, setelah perang Arab Israel kedua, yang berakibat pendudukan Yerusalem Timur, dan berujung kepada pencaplokan kota Yerusalem, termasuk Kota Tua dan Masjid Al Aqsa.

Kendali Israel atas Yerusalem Timur tidak sah dan melanggar hukum internasional oleh karena itu, Israel dipandang tidak memiliki kedaulatan atas wilayah-wilayah yang didudukinya. 

Selama bertahun-tahun, rejim Zionis Israel mengambil langkah Yahudisasi Kota Tua dan Yerusalem Timur secara keseluruhan. Pada 1980, Israel menyetujui UU yang menjadikan Yerusalem sebagai ibukota Israel “Secara keseluruhan dan tidak terbagi”. Tindakan ini jelas melanggar hukum internasional. Hingga kini, tidak ada negara dunia yang mengakui kepemilikan Israel atas Yerusalem atau upayanya untuk mengubah struktur geografi dan demografi kota tersebut. 

Rakyat Palestina di Yerusalem, yang berjumlah sekitar 400 ribu jiwa, hanya mempunyai status permanen residen, bukan kewarganegaraan, meskipun lahir dan besar disana, berbeda dengan para Yahudi yang hanya pendatang disana. Dan sejak 1967, Israel melakukan deportasi diam-diam warga Palestina dengan menerapkan persyaratan yang super sulit bagi mereka untuk tetap mendapatkan status permanen residen. 

Israel telah membangun setidaknya 12 permukiman ilegal Yahudi di Yerusalem Timur, yang menampung 200 ribu orang Yahudi, sementara pada saat bersamaan menolak memberikan ijin pembangunan rumah warga Palestina dan menghancurkan rumah-rumah mereka yang tidak mendapatkan ijin dari otoritas Israel. 

2. Pentingnya Tempat Suci

Bagi Muslim, tempat suci ketiga umat Islam ini menjadi lokasi masjid Al Aqsa dan Kubbah Al Sahra’ yang diyakini sebagai tempat naiknya (Mi’raj)  Nabi Muhammad SAW ke Sidratul Muntaha, namun diklaim Yahudi sebagai tempat kuil suci Yahudi dimana hukum Yahudi melarang Yahudi memasukinya karena dianggap suci. 

Tembok bagian barat, dikenal sebagai tempat ratapan bagi Yahudi yang diyakini menjadi bekas kuil kedua ini disebut kaum Muslimin sebagai Tembok al Buraq, yang diyakini sebagai tempat Nabi SAW mengikatkan buraq, binatang yang membawa Nabi SAW melakukan Mi’raj dan bertemu dengan Allah SWT.

3. Status Quo atas Wilayah Ini

Sejak 1967, Yordania dan Israel sepakat bahwa Waqf, lembaga Islam akan mengendalikan urusan yang berkait dengan komplesk Masjid Al Aqsa, sementara Israel mengendalikan keamanan eksternal. Non Muslim akan diijinkan masuk ke kompleks tersebut selama jam kunjungan, namun tidak diperbolehkan beribadah disana. 

Namun seiring bangkitnya gerakan Kuil Yahudi, seperti Temple Mount Faithful (Orang-orang beriman kuil kuno) dan Temple Institute telah mengabaikan larangan pemerintah Israel dengan mengirim anggotanya masuk ke kompleks Masjid Al Aqsa dan bercita-cita membangun kembali klaim kuil ketiga Yahudi yang pernah berdiri disana. 

Kelompok-kelompok ini didukung dan didanai oleh pemerintah Israel sendiri, meskipun secara formal mereka mengklaim akan mempertahankan status quo tempat suci tersebut. 

Sekarang ini, pasukan Israel secara rutin memperbolehkan kelompok-kelompok Yahudi fanatik dan para pemukim ilegal di Tepi Barat, beberapa kali dalam jumlah ratusan,  masuk ke kompleks Masjid Al Aqsa dibawah perlindungan mereka sehingga mengundang kemarahan dan ketakutan rakyat Palestina bahwa mereka akan mengambil alih tempat suci umat Islam tersebut. 

Pada 1990, kelompok fanatik Yahudi menyatakan akan meletakkan batu pertama bagi pembangunan Kuil Ketiga di tempat Kubbah Al Shahra’ (Kubah Emas), yang berujung bentrokan dan pembantaian 20 warga Palestina oleh pasukan Israel. 

Pada 2000, Ariel Sharon masuk ke kompleks Masjid Al Aqsa dengan 1000 polisi Israel, sebagai bentuk tentangan atas negosiasi damai PM Ehud Barak dengan pemimpin Palestina, Yasser Arafat, yang membahas rencana pembagian Yerusalem. Masuknya Sharon ke tempat suci tersebut memincu gelombang perlawanan kedua (intifadha), yang berujung tewasnya 3000 penduduk Palestina dan 1000 warga Yahudi. 

Dan terbaru pada Mesi, Kabinet Israel melakukan provokasi dengan menyelenggarakan pertemuan pekanan di terowongan dibawah Masjid Al Aqsa sebagai peringatan 50 tahun pendudukan Yerusalem Timur “untuk menandai pembebasan dan persatuan Yerusalem”, langkah yang mengundang kemarahan rakyat Palestina. 

Israel membatasi rakyat Palestina yang hendak masuk ke halaman Masjid melalui beberapa cara, termasuk pembangunan tembok pembatas yang didirikan pada awal 2000, yang membatasi masuknya rakyat Palestina dari Tepi Barat ke Yerusalem dan Israel. 

3 juta penduduk Palestina di Tepi Barat -hanya usia tertentu saja, yang dijinkan masuk ke Masjid Al Aqsa untuk shalat Jumat, sementara lainnya harus mendapatkan ijin keamanan dari militer Israel. Pembatasan ini menyebabkan ketegangan dan kepadatan di tempat-tempat pemeriksaan antara Tepi Barat dan Yerusalem, karena ribuan warga Palestina harus mendapatkan ijin terlebih dahulu untuk menunaikan shalat Jumat. 

Aturan terbaru, termasuk pemasangan alat pemindai logam dilihat rakyat Palestina sebagai upaya Israel mengendalikan lebih jauh atas kompleks suci ini dan pelanggaran kebebasan beribadah yang dilindungi hukum internasional. 

4 Ketegangan Terbaru

Ketegangan telah biasa terjadi di dekat Masjid Al Aqsa selama 2 tahun terakhir. Pada 2015, bentrokan pecah setelah ratusan Yahudi mencoba masuk kompleks Masjid untuk memperingati Hari Libur Yahudi. 

Setahun kemudian, protes pecah setelah kunjungan kelompok pemukim ilegal Yahudi di kompleks Masjid selama 10 hari terakhir Ramadhan, yang peristiwa penting kaum Muslimin. 

Bentrokan terbanyak terjadi karena para Yahudi berusaha beribadah di kompleks Masjid Al Aqsa yang jelas merupakan pelanggaran atas status quo wilayah ini. 

Selama dua pekan terakhir, Israel menggunakan peluru tajam, gas air mata dan peluru karet dalam menghadapi aksi unjuk rasa penduduk Palestina yang menentang pembatasan Israel, termasuk melarang Muslim dibawah 50 tahun shalat di Masjid Al Aqsa. 

5. Konteks yang Lebih Besar

Al Aqsa hanyalah wilayah kecil dalam Palestina, namun menjadi simbol perlawanan rakyat Palestina atas Israel. 

Meskipun, masjid ini sendiri sangat penting bagi Muslim, namun kalangan Kristen juga turut memprotes tindakan keamanan Israel dengan bergabung dalam aksi protes mereka.

“Isu Haram Al Sharif merupakan bentuk simbolik atas perlawanan terhadap ketidakadilan dan penindasan yang dihadapi rakyat Palestina di Yerusalem, yang menyebabkan pecahnya kemarahan dan perlawanan,” ujar Yara Jalajel, seorang Nasrani dan penasehat hukum. 

Bentrokan yang pecah dekat halaman Al Aqsa juga menyulut protes dan kekerasan di seluruh wilayah Tepi Barat dan Gaza.

Dengan pelbagai pembatasan yang diberlakukan atas akses beribadah umat Islam dan ajakan kelompok fanatik Yahudi untuk beribadah di dalamnya, maka tidak pelak mendorong perlawanan rakyat Palestina. 

Badan Waqaf Palestina Rabu menyatakan bahwa semakin lama Israel menunda pembongkaran, maka semakin memburuk situasi terjadi

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *