Abdul Qadeer Khan: Bapak Senjata Nuklir Pakistan

Sejak berpisah dari India pada 1947, Pakistan masih terus berkonflik dengan India. Wilayah Jammu dan Kashmir tak luput dari sengketa kedua negara hingga saat ini. Saat India mulai memiliki senjata nuklir, Pakistan juga terdorong untuk ikut unjuk kemampuan dengan mengembangkan senjata nuklir serupa untuk memperkuat pertahanan mereka.

Dengan populasi penduduk mayoritas Muslim, Pakistan menjadi satu-satunya negara berpenduduk mayoritas Muslim yang mengembangkan dan memiliki senjata nuklir. Sedangkan di seluruh dunia, hingga saat ini hanya ada 9 negara yang melakukan hal serupa, memiliki dengan mengembangkan sendiri. Komisi Energi Atom Pakistan sendiri berdiri sejak 1953.

Mulanya, seperti dikemukakan Menteri Luar Negeri Muhammad Zafarullah Khan kala itu, bahwa Pakistan tidak memiliki kebijakan terhadap senjata nuklir. Hal ini disusul kebijakan dengan Amerika Serikat pada 11 Agustus 1955 mengenai pemahaman penggunaan energi nuklir damai dan industri. Praktis, sebelum 1971, pembangunan nuklir di Pakistan bersifat damai. Namun begitu, hal ini merupakan penghalang tercapainya perlawanan dan atas nama kedaulatan melawan India di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Zulfikar Ali Bhutto.

Terutamanya ketika perang Indo-Pakistan berkobar pada tahun 1965 dan dipertebal dengan Perang Indo-Pakistan 1975. Pengembangan nuklir sebagai senjata, yang tidak lagi hanya dimanfaatkan untuk industri dan kegiatan non-perang, benar-benar diajukan oleh Bhutto. Pada Januari 1972, ia mengutarakan keinginan tersebut kepada Ketua Komisi Energi Atom Pakistan yang dijabat oleh Munir Ahmad Khan dengan komitmen pada akhir  1976, bom tersebut sudah siap seperti ditulis Bhumitra Chakma dalam bukunya berjudul The Politics of Nuclear Weapons in South Asia.

Tampaknya proyek-proyek nuklir di bawah Munir Ahmad Khan mengalami kendala dan kesulitan yang berdampak pada tidak memenuhi target penyelesaian. Bhutto lalu melirik warga Pakistan berbakat lainnya pada akhir 1974 yang sedang berada di Eropa, yaitu Abdul Qadeer Khan. Abdul Qadeer Khan mampu menyelesaikan kesulitan yang selama ini dialami oleh Munir Ahmad Khan dalam pengembangan senjata nuklir. Kiprah Abdul Qadeer Khan kemudian mendominasi perjalanan senjata nuklir Pakistan karena berperan sebagai tokoh kunci.

Abdul Qadeer Khan, Tokoh Kunci Senjata Nuklir Pakistan

Bangun Bom Nuklir
Abdul Qadeer Khan adalah putra dari pasangan Zulekha dan Abdul Ghafoor yang lahir pada 1 April 1936 di Bhopal, India. Berlatar belakang etnis Pashtun, ayahnya adalah seorang akademisi yang bertugas di Kementerian Pendidikan India. Setelah pembagian India pada 1947, keluarga ini mulai bermigrasi dari India ke Pakistan pada 1952 dan menetap di Karachi.

Setelah menamatkan pendidikan tinggi di bidang fisika di Universitas Karachi, ia melanjutkan pendidikannya di Universitas Teknik Berlin, Jerman mempelajari metalurgi pada 1961. Berlanjut di Universitas Teknologi Delft di Belanda pada tahun 1965 dan mendapat gelar insinyur teknik. Sedangkan gelar doktor, Khan dapatkan dari Universitas Katolik Leuven pada 1972 di bidang teknik metalurgi. Ilmunya langsung diterapkan di Laboratorium Penelitian Dinamika Fisika di tahun yang sama setelah mendapat gelar doktor.

Laboratorium tersebut adalah subkontraktor dari URENCO, sebuah konsorsium perusahaan Inggris, Jerman dan Belanda yang didirikan 1971 guna meneliti dan mengembangkan pengayaan uranium melalui penggunaan ultrasentrifugal berkecepatan sangat tinggi. Khan mendapat akses ke berbagai informasi mengenai teknologi ultrasentrifugal tersebut termasuk menerjemahkan dokumen antar negara.

Kekalahan Pakistan terhadap India dalam perang Indo-Pakistan 1971 mengusik rasa nasionalismenya untuk pulang kampung. Lebih-lebih ditambah hilangnya wilayah Pakistan Timur dan menjadi negara Bangladesh karena India memakai peledak nuklir pada Mei 1974 membuat Khan menulis surat kepada Perdana Menteri Bhutto guna menawarkan bantuan dan teknologi pengayaan baru seperti dilansir dari Encyclopaedia Britannica.

Gayung bersambut dengan keinginan Bhutto sebelumnya, mereka bertemu pada Desember 1974 dan Bhutto mendorong Khan mengerahkan seluruh kemampuannya untuk mencipta senjata nuklir. Pada 15 Desember 1975, Khan meninggalkan Belanda pulang ke Pakistan ditemani oleh istri dan kedua putrinya, lengkap dengan membawa salinan daftar pemasok kebutuhan pembuatan bom nuklir yang akan digunakannya.

Khan menjabat sebagai ilmuwan senior Kahuta Research Laboratories (KRL) yang didirikannya pada 1976, sebelumnya bernama Engineering Research Laboratory (ERL). Bermarkas di Kahuta, 50 kilometer arah tenggara Islamabad, Khan mengembangkan prototipe sentrifugal berdasar desain Jerman dan mengimpor komponen penting dari perusahaan Swiss, Belanda, Inggris, dan Jerman.

Pada Mei 1998, uji coba senjata nuklir pertama dari Pakistan akhirnya terlaksana dengan nama kode operasi Chagai-I yang dilakukan di distrik Chagai, Provinsi Balochistan. Disusul Chagai-II yang merupakan rangkaian uji coba senjata nuklir kedua pada 20 Mei 1998. Sementara di bulan yang sama, India lebih dahulu melakukan uji coba senjata nuklirnya yang berlokasi di Pokhran, Rajasthan. Abdul Qadeer Khan tetap menjadi salah satu ilmuwan terkenal namun juga kontroversial Pakistan.

Bagi banyak orang di Pakistan, bagaimanapun Khan adalah sosok yang sukses menghadirkan kewibawaan keamanan nasional Pakistan karena berhasil mengembangkan sendiri senjata nuklir, terutama ketika harus berhadapan dengan raksasa India.

Khan telah menyabet berbagai penghargaan, termasuk yang tertinggi dari negaranya seperti Hilal-i-Imtiaz (1989) dan Nishan-e-Imtiaz (1996). Sejumlah buku terkait hasil temuan dan penelitiannya telah diterbitkan seperti judul Advances in Physical Metallurgy (1972), Metallurgical Thermodynamics and Kinetics (1983), dan Dr. A.Q. Khan on science and education (1997) .

Dari tangan dinginnya mengembangkan bom nuklir bagi negaranya, ia tak jarang mendapat serangan kritik dari rekan-rekan sesama ilmuwan Pakistan lainnya. Soal gelar “Bapak Bom Pakistan” juga tidak lepas dari pro dan kontra terutamanya oleh ilmuwan tenaga nuklir sebelumnya seperti kelompok Munir Khan dan komunitas Fisika lainnya seperti dikutip dari The International Institute for Strategic Studies.

Ia bukan tanpa cacat, Khan pernah menjual rahasia pembuatan senjata nuklir yang dimilikinya kepada beberapa negara seperti Iran, Korea Utara, Libya, dan kemungkinan negara lainnya sehingga membuatnya harus menjadi tahanan rumah selama 5 tahun hingga 2009 di masa kekuasaan Pervez Musharraf.

 

Sumber Tirto.id

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *