Abu Thuraya, Aktivis Difabel Palestina ini Dibunuh oleh Israel

Ucapan bela sungkawa dan simpati terhadap Ibrahim Abu Thuraya, pemuda pemberani berusia 29 tahun ini  berseliweran di sosial media. Dia ditembak kepalanya oleh tentara Israel selama aksi protes warga Palestina di perbatasan Gaza. 

Dia syahid seketika setelah ditembak di kepalanya oleh penembak runduk Israel ketika aksi protes berubah tindakan kekerasan di wilayah penyangga Gaza.

Dia dikenal sering hadir dalam pelbagai aksi protes anti Israel di Jalur Gaza, Thuraya mulai dikenal dunia setelah kehilangan kedua kaki dan ginjalnya karena pemboman udara yang dilakukan Israel selama 22 hari di Gaza pada 2014, yang menewaskan 1400 warga Palestina. 

Sebelum dieksekusi Israel, dia memanjat tiang listrik dan mengibarkan bendera Palestina selama protes. Ibrahim menamakan aksinya sebagai “perlawanan terhadap penjajah ditengah keterbatasannya.”

Dua hari sebelum kematiananaya, para aktivis mengambil gambar sedang berjalan dengan tangannya dan mewawancarai dirinya di zona penyangga. 

Dalam videonya tersebut, dia menyerukan saudara-saudaranya rakyat Palestina unttuk bergabung menuntut Amerika menarik kembali deklarasinya atas Yerusalem. 

“Ini adalah tanah kami. Kami tidak akan menyerah. Amerika harus menarik kembali pernyataannya yang dibuatnya,” tuntut Ibrahim.

“Yang penting disini adalah kami datang untuk menyampaikan pesan ke pasukan penjajah Zionis bahwa rakyat Palestina orang-orang yang gigih.”

Ribuan orang hadir dalam pemakamannya pada Sabtu untuk memberikan penghormatan terakhir kepada aktivis gigih yang selalu terlihat meneriakkan dan mengibarkan bendera Palestina. 

Tubuhnya dibungkus dalam kain kafan.

Dia meninggalkan 11 anggota keluarga, termasuk 6 saudara perempuan dan 5 saudara laki-laki, yang menggantungkan bantuannya dari jerih payahnya. 

Sebelum kehilangan kedua kakinya, dia adalah seorang nelayan ceria yang selalu membawa perahu kecilnya untuk mencari ikan di laut. Dia dapat menghasilkan 14 hingga 19 dollar seharinya. 

Thuraya kini membantu keluarganya dengan mencuci mobil di Gaza, dimana mereka tinggal dalam lingkungan kamp pengungsian yang berjejal. 

Baik ayah dan ibunya menderita darah tinggi dan diabetes, yang berarti mereka tidak dapat bekerja. 

Dia memperoleh 248 dollar sebulan, yang digunakannya untuk membayar listrik, sewa rumah dan rekening listrik. Ini adalah penghasilan bulanan tertinggi yang dapat diperolehnya sebagai warga Palestina difabel. 

Ibrahim memimpikan pergi keluar negeri dimana dia mendapatkan  donor asing yang dapat membantunya mendapatkan perawatan kesehatan dan kaki palsu. 

“Saya berharap dapat mempunyai rumah sendiri dan saya berdoa bahwa orang-orang yang baik budi dapat membantu saya, baik negara-negara Eropa maupun Arab,” katanya.

“Saya sebenarnya ingin mendapatkan bantuan dan dapat pergi ke luar negeri sehingga saya mendapat kaki palsu. Namun butuh biaya banyak untuk sampai ke sana. Sulit bagi saya.”

Awal harinya dimulai pukul 7 dimana dia mulai mengumpulkan bekal, mengikatkan ember di kursi rodanya dan menyusuri jalan di Gaza dengan kursi rodanya untuk mencari pekerjaan.

Ibrahim kemudian akan bergabung dalam kerumunan untuk mendapatkan air dan mencari mobil yang mau dicuci. 

Ketika ditanya tentang kondisi fisiknya, dia mengatakan bahwa dia akan menolak meminta uang dari pemilik mobil tanpa mengerjakan pekerjaannya.

“Maaf, saya bukan pengemis. Saya dapat bekerja dan menghasilkan uang,” katanya suatu kesempatan. 

“Maaf jangan lihat badan saya yang cacat. Lihatlah pekerjaan bagus yang saya lakukan. Ini bukan kiamat bagi saya dan kehidupan harus terus berlangsung,” pungkasnya.

Selamat jalan, saudaraku Ibrahim Abu Thuraya, selamat bertemu dengan Rabbmu dengan suka cita. 

Hasil gambar untuk Ibrahim abu Thuraya

 

 

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *