Afghanistan Ajang Perebutan Negara-Negara Besar

*Amin Saikal

Jumat, Rusia menyelenggarakan konferensi regional untuk membahas penyelesaian konflik berkepanjangan di Afghanistan. Acara menyusul konferensi yang sama yang diselenggarakan di Moskow Februari lalu, yang diawali dengan pertemuan tripartit antara Rusia, China dan Pakistan pada Desember dengan subyek yang sama.

Dalam konferensi pertama, tidak diundangnya pemerintah Afghanistan menimbulkan kemarahan, namun dalam acara kedua ini, Afghanistan, Iran dan India hadir. Namun, AS sebagai pemain utama di Afghanistan tidak diundang dalam forum tersebut.

 

AS mengatakan “Ibu Segala Bom Dijatuhkan di Afghanistan

Mengapa ย Rusia Tertarik dengan Afghanistan?

Afghanistan pernah menghadapi masa lalu pedih dengan Rusia karena invasi dan pendudukan atas negera itu selama satu dekade pada 1980-an. Selama periode itu, lebih dari satu juta penduduk Afghan tewas, ratusan ribu lainnya luka-luka, dan sekitar 8 juta warganya menjadi pengungsi baik di dalam maupun luar negeri, belum lagi kehancuran infrastrukturnya.

Namun, kondisi tersebut sekarang berubah. Ketidakmampuan AS, bersama dengan sekutu NATO ย membawa kestabilan dan perdamaian atas Afghanistan menyusul intervansi pimpinan AS sebagai respon atas serangan 11 September kelompok Al Qaeda atas AS telah membuka jendela baru keterlibatan Rusia.

Memerangi Ekstrimisme di Asia Tengah

Rusia memiliki 3 kepentingan di Afghanistan. Salah satunya adalah untuk melihat Afghanistan yang bersahabat dan stabil sehingga negara-negara bekas Soviet yang berbatasan dengan Afghanistan seperti Tajikistan, Uzbekistan dan Turkmenistan tidak terdampak dengan ketidakstabilan Afghanistan.

Moskow yang sangat khawatir terhadap ancaman pelbagai kelompok militan yang muncul dari Afghanistan. Kebijakannya untuk memerangi pelbagai kelompok tersebut, apakah di Chenchnya atau Afghanistan atau Asia Tengah, ย Gerakan Islam Uzbekistan (IMU) dianggap sebagai potensial ancaman. Kebangkitan ISIS dengan kekuatan sekitar 1000 pejuang -yang berasal dari pecahan Afghanistan maupun luar Afghanistan- juga mengundang kecemasan Moskow.

Kepemimpinan Vladimir Putin sejak 2013 telah melihat Taliban sedikit bahayanya ketimbang ISIS dan bahwa Taliban dapat memiliki peran dalam masa depan di Afghanistan. Oleh karena itu, Rusia membangun kontak dengan beberapa elemen Taliban yang dapat digunakan sebagai kartu truf dalam memerangi ISIS serta sebagai alat untuk membendung ISIS. Kebijakan sama yang ditempuh sekutu Rusia, Iran dalam berhadapan dengan Taliban. Pada 2015, Zamir Kabulov, wakil Rusia di Afghanistan menyatakan bahwa “kepentingan Taliban secara obyektif sama dengan kepentingan kita.”

Kepentingan Rusia lainnya adalah membatasi pertumbuhan perdagangan narkotika dari Afghanistan, produsen terbesar heroin dunia, ke Asia Tengah dan Rusia. Di Rusia diperkirakan mencakup 20 persen dengan nilai pasar 70 milyar dollar dan 1,8 juta pengguna jarum suntik pada 2015. Sekitar 99 ribu warga Rusia mati karena overdosis, termasuk penggunaan heroin di setiap tahunnya.

Pengaruh Geopolitik

Kepentingan ketiga Rusia adalah mengembangkan pengaruh Rusia seiring dengan menurunnya keterlibatan AS di Afghanistan, khususenya di akhir 2014 ketika AS dan sekutunya menarik pasukannya dari negara itu, Mundurnya AS, tanpa mampu mencapai tujuannya menjadikan Afghanistan sebagai negara yang aman telah membuka arena kompetisi penting antara pelbagai kekuatan regional yang berbeda, sehingga menjadi “pertandingan besar” baru antara Rusia dan AS.

Mantan presiden Afghanistan, Hamid Karzai kini mendekat ke Rusia seiring hubungannya dengan Washington meregang karena AS enggan untuk menyerang basis-basis Taliban di sisi Pakistan dan tidak cukup memberikan tekanan kepada Pakistan untuk menghentikan dukungan kepada mereka.

Dia terlihat menghadiri Pertandingan Olimpiade Musim Dingin di Sochi pada 2014 dan menyatakan “Uang Soviet mengalir ke tempat yang tepat. Mereka efesien dengan uang mereka dan mengeluarkannya melalui pemerintah Afghanistan.” Pada saat bersamaan, kemunduran hubungan AS-Rusia, khususnya dalam isu Ukraina dan Suriah menjadikan Moskow berpaling ke Afghanistan dengan meningkatkan hubungan ekonomi dan militernya.

Secara ekonomi, Rusia terlibat meskipun tidak besar dalam pembangunan perumahan dan konstruksi, karena proyek-proyek lainnya membutuhkan dukungan dan bantuan keuangan dari organisasi dan donor internasional yang belum ingin melibatkan perusahaan-perusahaan Rusia. Hubungan perdagangan Rusia-Afghanistan meningkat dari 571 juta dollar pada 2010 menjadi 1 milyar dollar pada 2013. Pada 2014, Rusia menjadi pengekspor terbesar kelima dan importir terbesar keenam di Afghanistan, yang melibatkan 140 proyek konstruksi, kebanyakannya berupa pembangunan kembali kompleks perumahan, pabrik dan fasilitas ย era Soviet serta memperbaiki infrastruktur.

Keterlibatan militerRusia sejauh ini terbatas kepada penjualan helikopter MI 17 kepada tentara Afghanistan, yang dibayar oleh AS dan menjalankan perawatan terhadap peralatan militer. Pada Februari 2016, Rusia memberikan 10 ribu pucuk AK-$7, senjata otomatis dan jutaan amunisi kepada pasukan keamanan Afghanistan. Moskow sekarang sedang menegosiasikan penjualan beberapa helikopter MI-35 kepada Afghanistan.

Hubungan militer Rusia dengan Afghanistan terbatas disebabkan keberatan AS terhadap penjualan senjata, meskipun semakin meningkat. Pada Februari 2017, Menlu Sergey Lavrov pernah menegaskan pentingnya kedekatan hubungan ekonomi dan militer dengan Afghanistan.

Tentu, Rusia masih belum bisa menyaingi AS secara ekonomi dan militer di Afghanistan, karena ketergantungan negara itu terhadap bantuan AS. AS telah mengeluarkan 1 trilyun dollar dalam Perang Afghanistan dan 100 milyar dollar untuk pembangunan negara itu selama 15 tahun terakhir. Namun, Rusia telah melakukan upaya seksama dalam tahun-tahun terakhir untuk masuk ke Afghanistan baik untuk memerangi kelompok militan maupun kepentingan geopolitik.

 

*Profesor ilmu politik ANU Australia.

 

 

 

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *