Aktivis Palestina: Tidak Ada Perubahan Tanpa Pengorbanan

Aktivis Palestina, Issa Amron mengisahkan pengalamannya ditahan oleh Israel dan otoritas Palestina.

Issa Amro bukan sosok asing di penjara-penjara Israel. Aktivis HAM dari Hebron dan pendiri Pemuda Melawan Permukiman puluhan kali ditangkap karena perlawanan tanpa kekerasan terhadap penjajah. Bulan ini dia menghadapi 18 tuduhan di pengadilan militer.

“Pelbagai tuduhan itu seputar menyebarkan kebencian di kalangan rakyat Palestina untuk melawan perintah militer Israel, mengajak pendudukan Palestina untuk melawan Israel, mengganggu tentara, terlibat dalam kampanye dan aksi damai menentang Israel,” katanya. 

“14 diantaranya untuk kegiatan dari 2010, 2012, 2014, 2015 dan hanya 4 yang berasal dari 2016. Mereka buka lagi kasus yang telah ditutup di masa lalu.”

Dibawah jurisdiksi hukum militer di Hebron, Amro mengatakan dia mengalami pelakuan apartheid karena hukum berbeda diberlakukan kepada para pemukim Yahudi. Mulai dari jalan-jalan yang terpisah antara pemukim Yahudi dengan warga Palestina, serbuan terus menerus atas Masjid Ibrahim hingga nama jalanan Arab diganti dengan Yahudi. Dia melawan hal itu semua. 

“Para pemukim Yahudi tidak suka apa yang saya lakuan maka mereka menuntut saya dengan tuduhan palsu dan saya buktikan sebaliknya,” katanya. “Saya diserang secara fisik berulang kali oleh tentara dan pemukim. Kepala saya pernah dilempar batu,tulang saya patah, saya punya masalah tulang belakang permanen karena serangan tentara.”

Amron juga menjadi sasaran penangkapan oleh otoritas Palestina yang dipimpin Mahmoud Abbas setelah dituduh melanggar Hukum Kejahatan Elektronik dan dianggap bersalah  mengganggu harmoni sosial lewat sosial media yang dapat dihukum kerja keras selama 15 tahun.

“Otoritas Palestina ditekan Israel untuk membungkam para aktivis dan jurnalis Palestina. Saya membela para jurnalis Palestina di dunia maya. Saya melawan penangkapan dan penahanan mereka, serta intimidasi mereka. Karena itu, mereka menahan saya selama seminggu.”

Dia juga menuduh bahwa otoritas Palestina bekerjasama dengan keamanan Israel dalam penahanannya. Mereka menekan para pemimpin Palestina untuk tunduk kepada tuntutan mereka atau menghadapi hukuman. “Otoritas Palestina berlaku buruk kepada saya. Mereka harus perbaiki perlakuannya terhadap jurnalis dan semua rakyat Palestina,” ungkapnya. “Israel adalah musuh utama rakyat Palestina. Ada hubungan antara penahanan saya karena kerjasama keamanan antara Israel dan Palestina. Pendudukan Israel menekan otoritas Palestina untuk menghentikan perlawanan damai. Mereka menekan mereka.”

Amro akan menghadapi sidang pada 26 Desember, dia terancam dijatuhi hukuman 3 tahun penjara. 38 saksi diajukan untuk melawan dirinya, sebagiannya para pemukim Yahudi ilegal. “Ini adalah bagian dari perjuangan saya sebagai orang Palestina. Saya khawatir dan takut atas gerakan yang saya dirikan, namun saya bertekad untuk terus berjuang dan saya siap menanggung akibatnya. Tidak ada perubahan tanpa pengorbanan,” terangnya.

Amro telah bepergian ke Inggris dan AS dalam beberapa bulan lalu dalam upayanya untuk mendapatkan dukungan internasional dan sempat menemui kandidat presiden AS Bernie Sanders yang dikaguminya selama perjalanannya pada September. 

Meskipun ada dukungan internasional, Amro ragu dia dapat lepas dari jerat hukuman. “Saya akan masuk dalam pengadilan militer. Saya hanya berupaya mengurangi hukuman saya dengan menghampiri teman dan pemimpin politik untuk mendukung kasus saya,” katanya.Amro mendesak rakyat Palestina untuk terus berjuan melawan Israel secara damai dan tidak mundur melawan penjajah. “Saya senang dengan perlawanan sipil, menolak tunduk perintah penjajah, menolak menyerahkan kartu KTP di tempat pemeriksaan, dan melakukan aksi duduk di jalanan di pintu masuk permukiman Yahudi serta banyak hal lain.”

Amro juga bergabung dengan protes global yang mengecam keputusan Presiden Donald Trump yang mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel. 

“Ini sangat buruk bagi rakyat Palestina dan Israel, karena merusak peluang perdamaian di masa depan. Ini adalah keputusan bias yang mendukung para fundamentalis Israel. Apa yang didapat rakyat Palestina? Bagaimana hukum internasional? Bagaimana konsensus internasional atas Yerusalem Timur sebagai bagian Palestina yang sedang dijajah?

“Dia sedang memprovokasi rakyat Palestina dan memberi rakyat Israel sesuatu yang mereka tidak inginkan dan tidak punyai,” bebernya.

Bagi Amro, solusi isu Palestina ada di tangan masyarakat internasional, dai menyerukan aktivis pro Palestina di seluruh dunia untuk menggunakan kebebasannya untuk mengungkap penindasan yang terjadi di wilayah-wilayah jajahan. 

“Kami harus meningkatkan harga penjajahan dan menghentikan banyak negara untuk mengambil keuntungan dari pendudukan. Cara terbaik adalah melarang produk-produk permukiman, menekan komunitas internasional untuk bertanggung jawab atas pelanggaran hukum internasional dan membawa masalah itu ke pengadilan kriminal internasional, hal yang membutuhkan banyak dukungan internasional.”

Sumber: MEMO

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *