Aleppo adalah Karbala Modern

Bendera sang penindas bekibar tertiup angin, mengelilingi para mangsa yang tengah putus asa. Gabungan pasukan tirani berdatangan, mereka mulai mencium bau amis darah kemenangan semakin nyata.

Mereka tanpa belas kasihan memborbardir musuh mereka, beberapa diantaranya bersenjata, namun lebih banyak dari mereka adalah anak-anak dan perempuan. Ketika kepungan semakin mencekik, maka penduduk sipil menjadi semakin berputus asa atas keselamatan mereka. Para pendukung tiran Damaskus menolak memberi jalan aman bagi para penduduk yang tidak berdosa dan tanpa ragu membunuh anak-anak itu, bahkan ketika masih berada dalam pelukan orangtua mereka. 

murderer-and-son
Like father and like son, sang penumpah darah

Ini persis seperti tragedi Karbala 1377 tahun lalu dan kini terjadi di Aleppo. Namun kali ini, para pendukung tirani yang menumpahkan darah penduduk tidak berdosa ini adalah mereka yang mengklaim sebagai pendukung Imam Hussein RA. Jika Yazid bin Muawwiyah menyebut 72 pengikut yang terbunuh di Karbala adalah para pemberontak dan ekstrimis, maka ratusan ribu penduduk Aleppo adalah pemberontak dan takfiri dalam mata pengikut Imam Hussein RA. Sungguh Ironis dengan apa yang terjadi ketika kelompok yang mengklaim sebagai mustad’afin berganti jubah menjadi penindas yang keji di abad ini.

Keduanya, baik Karbala dan Aleppo adalah pelajaran yang menyedihkan ketika sekelompok penduduk memutuskan melawan tirani, mereka mendapati sang tiran akan melakukan apa saja untuk menyelamatkan kekuasaannya, sekalipun harus membasmi semua penduduknya.

Ketika keluarga Hussain RA dikepung, mereka hanya diberi pilihan, menyerah atau dibinasakan. Seperti nasib cucu Nabi SAW ini, para penduduk Suriah yang gagah berani lebih memilih mati dengan kehormatan ketimbang hidup dalam kehinaan.  Dan ratusan ribu diantaranya telah memilih jalan kematian.

Apa yang akan dikatakan Yazid dan pendukungnya ketika begitu banyak keluarga Nabi SAW lebih memilih berperang yang tidak akan dimenangkannya ketimbang hidup dibawah penindasannya? Apa pula yang akan dikatakan para pendukung Assad ketika rakyatnya lebih memilih menguburkan anak-anak mereka ketimbang tumbuh dibawah sang tiran Assad.

child in arm

Selama pertempuran Karbala, Hussain RA tergerak hatinya oleh sakit yang diderita salah seorang anaknya. Dia memeluk bayinya yang lemah  keluar dari tenda dan meminta para penindas yang mengepungnya untuk mengijinkan mendapatkan air bagi bayinya. Namun, sang penindas tersebut menjawabnya dengan melepaskan anak panah sehingga membunuh sang bayi yang berada dalam pelukan sang ayah. Peristiwa keji ini kini terefeksikan dalam pemandangan menyedihkan di Aleppo setiap harinya ketika hujan kematian dari udara menghantam penduduk sipil tanpa pandang bulu.

Jika anda masih ragu kepada siapa kemanusiaan anda harus berpihak, maka anda harus melihat di sisi mana anak-anak tidak berdosa itu meregang nyawa.

 

kerbala

Karbala peristiwa paling traumatik dalam sejarah Islam. Skisma yang terjadi di Karbala tidak sepenuhnya tersembuhkan dan darah yang tertumpah disana telah menodai jubah dunia.

Bagi mereka yang mengklaim mengikuti Imam Hussein RA atau membela Zainab RA, atau mereka yang mengklaim pendukung Ahlul Bait Nabi SAW, ketahuilah jika Imam Hussein RA masih hidup sekarang ini, dia akan tinggal di Aleppo untuk menghadapi tiran Damaskus sekali lagi, untuk menunjukkan kepada dunia bahwa kebebasan hanya dapat dibunuh, namun tidak dapat ditaklukkan. 

 

saved

 

Bagi mereka yang mendukung pembunuhan massal tiran Damaskus, saatnya anda untuk mengakui bahwa Aleppo adalah tragedi Karbala yang berulang lagi dan sayangnya anda berada dalam sisi sejarah yang salah.

Seperti dikatakan mantan pemimpin Hizbullah Lebanon Sheikh Subhi al-Tufayli, seorang tokoh terkemuka Syiah dalam khotbah Jumatnya, dia mengecam keras rejim Assad dan pembunuhan massal penduduk Aleppo.

Capture
Karbala tahun ini adalah Aleppo dan anak Imam Ali berada dalam reruntuhan Aleppo

Katanya,“Pesawat-pesawat tempur Rusia memborbardir negara Muhammad dan sayangnya, kita bersama mereka hari ini seperti kita bersama mereka kemarin- bergembira atas pembunuhan anak-anak Muslim disana.”

 

Satu Karbala lebih dari cukup. Kita tidak membutuhkan lagi.

 

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *