Mantan Diktator itu Akhirnya Dieksekusi Sekutunya Sendiri

Ali Abdullah Saleh menghabiskan hampir 40 tahun berada di puncak negeri yang terjerumus dalam perang, berhasil lolos dari pelbagai upaya percobaan pembunuhan, 6 tahun berperang dengan Houthi, berperang dengan para pemberontak dan terlempar memalukan dalam “Arab Spring”.

Memerintah Yaman,  katanya, seperti “menari dengan para ular”, rahasia yang menjadikan dirinya sukses di tampuk kekuasaan di negeri yang penuh goncangan dan perubahan haluan politik, serta paham kapan harus berganti haluan. 

Namun ular-ular itu pada akhirnya menggigitnya Senin, ketika Houthi, musuh yang berubah menjadi sekutunya, menyerang, menembak mati dan memamerkan jasadnya untuk dilihat dunia. 

Ini mengakhiri kehidupan orang yang menggantung diri kepada siapapun untuk dapat berkuasa. 

Dia sendiri adalah lulusan dari akademi kudeta politik. Saleh menghabiskan puluhan tahun bertahan menghadapi pemberontakan. Dia dilihat sebagai satu-satunya orang yang mampu mempertahankan keseimbangan kekuatan di Yaman. Namun, di menit terakhir Saleh berpaling haluan ke Saudi pada Sabtu kemarin justru menjadi titik baliknya. 

Sebagai salah satu orang kuat di Timur Tengah, Saleh  memerintah Yaman sejak reunifikasi pada 1990, setelah 12 tahun berkuasa di Republik Arab Yaman utara. 

Syiah Zaidi dianut oleh sepertiga penduduk negeri ini. Saleh dilahirkan pada 1942 di Bayt al Ahmar, Provinsi Sanaa. Keluarganya berasal dari suku Hashid, kabilah terbesar di Yaman. 

Saleh bergabung dengan tentara Yaman utara pada usia 16 tahun dan berperang mendukung kudeta militer pada 1962, menggulingkan Imamah Zaidi dengan sistem Republik model Nasseris.

Karirnya dengan cepat menanjak. Dalam 15 tahun kemudian, di usia 36 tahun, dia terpilih menjadi Presiden Republik Arab Yaman setelah pendahulunya, Ahmad al Ghashmi tewas karena ledakan bom. Pendahulu Ghashmi sendiri juga dibunuh 8 bulan sebelumnya. Kekuasaan Saleh  merepresentasikan stabilitas baru di negari yang kacau. 

Pada 1990, Saleh menjadi presiden baru Yaman yang bersatu. Dia dengan cepat menghabisi pemberontakan Komunis di selatan pada 1994. 

Selain menghadapi gejolak di selatan, Saleh juga menghadapi pemberontakan sporadis di sebelah utara yang dilakukan oleh komunitasnya sendiri Zaidi dan Al Qaeda. 

Orang Kuat dan Kaya

Namun ahli taktik ini kemudian merekrut teman dan keluarga dekatnya. Dia mengangkat anaknya Ahmad sebagai Komandan Garda Republik pada 2000 dan sukses menghimpun kekayaan yang mencapai antara 32  hingga 60 milyar dollar. 

Dengan hukum yang dibuatnya pada 1995, Saleh  mendistribusikan tanah-tanah rakyat kepada sekutu dan teman-teman dekatnya dalam rangka memperkuat aliansi di selatan dan menggandakan kekayaan keluarganya. 

“Milyaran dollar assetnya dalam bentuk properti, tunai, saham, emas dan barang-barang komoditas berharga lainnya yang disimpan di 20 negara berbeda, disembunyikan dengan nama-nama samaran atau dikelola oleh pihak ketiga”, ungkap panel PBB

Bangga dengan kemampuannya mempertahankan kekuasaan, kepada New York Times, dia mengatakan sukses tersebut karena dia mampu menari di tengah-tengah ular. 

Sepupunya Mohammed all Qadhi, menurut kabel Wikileaks pada 2009 mengatakan bahwa “sejak 1994, dia memutuskan bahwa dirinya saja yang boleh membuat keputusan di negeri ini.”

“Saya mencoba berulang kali menasehati dia bahwa Yaman menghadapi masalah serius, namun dia marah dan menyuruh saya tutup mulut. Dia tidak mau mendengar orang lain.”

“Saleh adalah raksasa yang dicintai sekaligus dibenci banyak orang di Yaman,” ujar Jeb Boone, seorang jurnalis. 

“Tergantung siapa yang anda tanya, kekuasaannya ditandai oleh penindasan politik atau kepemimpinan yang visioner.”

Menjelang 2011, aksi protes melawan dirinya pecah di seluruh negeri, yang diinspirasi perjuangan revolusioner di Tunisia dan Mesir. 

Saleh terluka karena ledakan bom sehingga dirawat di Arab Saudi dan kemudian AS. 

Pada Februari 2012, Saleh secara resmi menyerahkan kekuasaan kepada wakil presidennya, Abd Rabbuh Mansur Hadi. 

Namun orang dengan ego tinggi ini ternyata tidak tahan dengan hilangnya perhatian dan popularitas.

“Dari sudut pandang Saleh, dia tidak dapat menerima kenyataan terusir dari kekuasaan,” ujar Alma Abdul Hadi Jadallah, mantan pakar regional di Panel Ahli PBB untuk Yaman pada 2015.

“Dia melihat sekelilingnya bahwa ada beberapa presiden yang juga tidak mau menyerahkan kekuasaan meskipun ada ketidakpuasan rakyat. Maka dia berubah pikiran dan menolak kesepakatan 2011, meskipun dia sebelumnya setuju untuk mendapatkan kekebalan hukum atas dirinya.”

Di belakang layar, dia menemui sejumlah musuhnya dari AQAP, cabang Al Qaeda Yaman hingga Houthi dan perwakilan asing. 

Pada 2014, Saleh muncul kembali dan berharap kembali ke kekuasaan dengan bekas musuhnya Houthi. Koalisi keduanya berhasil merebut ibukota Sanaa. 

Hadi meloloskan diri ke Aden pada Januari 2015 dimana dia mengumumkan pembatalan pengunduran dirinya dan melarikan diri ke Arab Saudi untuk mencari dukungan.

Maka koalisi yang dipimpin Arab Saudi melancarkan operasi militer pada Maret 2015 untuk mengambalikan pemerintahan yang diakui PBB ini. 

10 ribu warga Yaman tewas sebagai akibat perang, sementara kolera menjadi wabah paling buruk dalam catatan sejarah Yaman karena menewaskan ribuan orang. 

Sekarang kita menyaksikan koalisi Houthi dengan Saleh pecah, sebagaimana juga terjadi dengan koalisi anti Houthi. 

Pada peringatan 35 tahun Partai Saleh, Konggres Rakyat pada Agustus,  tanda-tanda perpecahan itu sendiri sudah tampak dan berpeluang membuka front perang baru. Poster-poster Saleh dirusak oleh para pendukung Houthi di Sanaa dan beredar rumor bentrokan kedua belah pihak. 

Beberapa pekan lalu, ketegangan kedua belah pihak berubah menjadi perang yang menewaskan lebih dari 125 orang. 

Saleh Ahad mengecam secara resmi bekas musuh yang menjadi sekutunya itu. 

Langkah tersebut tidak pelak  disambut Arab Saudi dengan  suka cita, karena keluarnya Saleh dari persekutuannya dengan Houthi berarti membuka peluang untuk merebut kembali Sanaa dan kembali melancarkan serangan udara. Saleh digambarkan media Saudi tidak lagi sebagai “presiden yang digulingkan”, namun “mantan presiden“.

Sebagai sosok yang tidak terduga, Saudi jelas senang menerima “setan” untuk kembali lagi berkuasa di Yaman. 

Hanya saja, ini justru menjadi titik baliknya. Saleh melarikan diri ke kota kelahirannya di Sanhan Senin, setelah Houthi merusak kediamannya di Sanaa,. Namun Saleh tewas, tubuhnya diseret -gambar yang hampir sama dengan nasib Muammar Gadaffi dan Saddam Hussein. 

Adam Baron, pakar Yaman di Councul on Foreigen Relations mengatakan dia telah kehilangan tuahnya. 

“Melihat caranya, anda akan dikenal sebagai  manipulator Timur Tengah yang licik dan kemudian anda terbaring dengan lubang peluru di kepalanya di Yaman,”

“Setiap orang yang mengatakan mereka tahu apa yang terjadi kemudian, bohong. Namun sulit untuk melihat tidak ada lagi konflik.”

“Dengan kematian Saleh, Houthi semakin memperkuat cengkeraman politiknya di Yaman utara, sehingga menjadi blunder bagi Saudi,” tandasnya.

“Respon Saudi dan sekutunya akan dilihat dengan semakin banyaknya penghancuran, kelaparan dan tersebarnya penyakit atas rakyat Yaman dengan dukungan AS dan negara-negara Teluk,” pungkasnya.

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *