Alija Ali Izetbegovic, Jantung Perlawanan Muslim Bosnia

Alija Ali Izetbegovic (1925 – 2003) adalah mantan pengacara yang memimpin rakyat Bosnia menuju kemenangan setelah empat tahun perang antara kelompok etnik lokal. Sebagai penentang komunisme yang gigih, dia dipenjara karena keyakinannya terhadap Islam pada 1946-1948 dan 1983-1988 melawan rejim diktator di Izetbegovic mendirikan partai politik Muslim, Partai Muslim untuk Aksi Demokratik pada 1990, ketika Yugoslavia mulai masuk era kekacauan etnik. Setelah memenangkan pemilu, Izetbegovis kemudian bergerak  untuk mendirikan negara yang didukung Barat, namun ditentang sepertiga penduduk Serbia.

Dijuluki “Raja yang Bijak”, Alija Izetbegovic dilahirkan pada 8 Agustus 1925 dari keluarga Muslim. Ketika dia kuliah, dia tertarik terhadap agama dan masuk dalam klub pemuda Muslim, sebelum kemudian  menjadi anggota organisasi. Organisasi tersebut adalah Mladi Muslimani (Pemuda Muslim) yang pada awalnya didirikan sebagai sarana debat dan bertukar gagasan, namun kemudian  berkembang menjadi lembaga pendidikan dan sosial, yang berperan membantu para pengungsi selama Perang Dunia II.

Warisannya

Karya besarnya adalah “Islam Antara Timur dan Barat”, yang diterbitkan pada 1980, yang dikatakannya bukan “buku agama”, namun sebagai upaya mendefinisikan “tempat Islam dalam spektrum gagasan secara umum”. Buku ini menyatakan bahwa “Islam lebih dari sekedar agama”. Dan tidak hanya agama, namun Islam adalah pandangan hidup yang unggul atas segala alternatif spiritual dan intelektual, termasuk filsafat, etika agama dan politik.

Kematian Tito 1980 berakibat kekosongan dan pertentangan besar perihal siapa yang menggantikannya. Negara federal Yugoslavia setuju untuk sementara bertindak otonom satu sama lain hingga pemimpi baru diputuskan.

Periode semi otonom in i memberikan kesempatan kepada liya Izzetbegovic untuk menyusun apa yang dinamakannya sebagai “Manifesto Islam” yang diterbitkan pada 1983, namun sebenarnya telah ditulis pada 1970. dan secara dikecam luas Serbia selama Perang Bosnia sebagai “bukti” bahwa fundamentalisme Islam sedang menanam pengaruhnya di Eropa.

Sebagai hasilnya, dia dituduh ingin mendirikan negara Islam di jantung Eropa, dimana dia kemudian dihukum 14 tahun penjara. Namun, langkah itu justru mendorong karyanya itu menyebar luas dan dibaca di seluruh dunia.

Pemenjaraan

Izetbegovic dipenjara dua kali selama hidupnya.

Selama Perang Dunia Kedua, ketika Bosnia menjadi bagian negara boneka NAZI, Kroasia Ustashe, Izetbegovic bergabung dengan Maldi Muslumani. Kelompok ini terpecah antara divisi Handzar yang diorganisir SS Jerman dengan partisan komunis Yugoslav yang dipimpin Joseph Broz Tito. Izetbegovic mendukung Handzar.

Pada 1946, setelah perang, dia ditahan karena aktivitasnya selama perang. Pengadilan militer menghukumnya 3 tahun penjara. Setelah bebas, dia mendapatkan gelar sarjana hukum dari Universitas Sarajevo dan kemudian terlibat dalam politik.

Pemenjaraan kedua terjadi pada 1983. Izetbegovic bersama dengan para aktivis Bosnia lainnya diadili karena aktivitas permusuhan, menyebarkan propaganda kebencian dan menghadiri konggres Muslim di Iran. Mereka dihukum 14 tahun penjara. Namun karena desakan dari pelbagai organisasi HAM seperti Amnesty International dan Helsinki Watch, Mahkamah Agung Bosnia memotong masa tahanannya menjadi 12 tahun. Pada 1988, dia diampuni dan dibebaskan setelah 5 tahun mendekam dalam penjara dan menderita sakit.

Kemerdekaan dan Perang Bosnia

Pada 1991, negara Yugoslavia yang termasuk Bosnia and Herzegovina, Croatia, Macedonia, Montenegro, Slovenia dan Serbia (provinsi otonom  Vojvodina dan Kosovo) terpecah belah, dimana Slovenia, Serbia, Kroasia dan Macedonia menyatakan kemerdekaan. Izzetbegovic membawa isu kemerdekaan kedalam referendum dan mendapat dukungan mutlak sehingga mengumumkan kemerdekaannya pada 1 Maret 1992.

Menyusul referendum tersebut, Serbia dan Kroasia secara bersama mulai menginvasi Bosnia-Herzegovina. Serbia dan Kroasia membantai dan memperkosa puluhan ribu penduduk Muslim Bosnia, termasuk perempuan dan anak-anak. Perang Saudara di Bosnia berakibat 100 ribu orang tewas, terutama Serbia dan Muslim.

Barat pada umumnya bersikap diam atas pembantaian tersebut. Muslim diseluruh dunia protes, namun mereka cenderung diam. Rakyat Bosnia, yang dibantai tampak tidak berdaya. Perang terus berlanjut hingga 1994, meskipun ada beberapa kali upaya perdamaian yang dilakukan Izetbegovic.

Selama masa-masa sulit itu, Alija Izzetbegovic memimpin perlawanan dengan gagah berani. Meskipun pemboman bertubi-tubi Serbia atas Sarajevo membuat kota itu hancur, namun dia menolak meninggalkan ibukota. Dia berperang bersama para pasukannya di medan perang. Pada saat yang bersamaan, dia juga mewakili rakyatnya dalam upaya diplomatik, mencari solusi damai untuk mengakhiri perang. Perang pada akhirnya berakhir ketika dengan ditandatanganinya perjanjian Dayton di AS pada 1995. Ketika musuh mundur, Boznia Herzegovina merayakan kemerdekaannya, mendirikan negara karena perjuangan dan pengorbanan 200 ribu syuhada. Setelah perjanjian Dayton, Izetbegivic dipilih kembali sebagai presiden dan berlanjut hingga 1998.

Alija Izzetbegovic wafat pada 19 Oktober 2003. Dia akan dikenang selamanya sebagai pahlawan dalam sejarah Bosnia.

 

 

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *