Apa yang Ditawarkan Saudi Karena Sebut Hamas Teroris

Sejak pecah krisis Teluk, kampanye jahat dilancarkan lewat media yang menuduh gerakan perlawanan Islam Hamas sebagai teroris. Ini menjadi dasar permintaan Menlu Saudi, Adel al Jubeir ke Qatar agar dicabut blokadenya untuk memutuskan hubungan dengan Hamas. 

Kampanye media ini tidak juga hilang. Baru ini, koran Al Riyadh menggambarkan gerakan perlawanan Palestina ini sebagai gerakan teroris ketika memberitakan kunjungan delegasi Hamas yang sedang mengunjungi Iran. Padahal, Al Jubeir baru saja berpelukan beberapa hari lalu. 

“Kampanye ini hanya merupakan tawaran Saudi untuk menyenangkan penjajah Israel sebagai upaya untuk mengkonsolidasika kekuasaan mereka dan mendapatkan persetujuan Amerika-Israel kepada pemerintahan yang ada sekarang,” beber perwakilan Hamas, Yahya Moussa.

Moussa juga menambahkan: “Hantu Iran adalah kebohongan besar yang digunakan media untuk provokasi emosional. Mereka yang sekarang sedang bermain-main dengan Pasukan Mobilisasi Rakyat (milisi Syiah Irak) dan berpelukan dengan Zarif tidak ada hak menyalahkan orang lain karena ini.”

Pernyataan Moussa ditujukan kepada putera mahkota Mohammed bin Salman yang melakukan pertemuan dengan Muqtada Al Sadr.

“Hubungan Hamas dengan Iran mengalami ketegangan beberapa tahun ini, namun demikian tidak ada upaya nyata yang dilakukan (negara-negara Arab) terhadap perjuangan rakyat Palestina, meskipun Hamas bersungguh-sungguh melakukan upaya tersebut,” tukasnya.

Kalah Perang

Pejabat media Hamas, Rafaat Marra mengatakan bahwa selama bertahun-tahun, gerakan ini menjadi subyek ketidakdilan dan tuduhan palsu yang sama sekali tidak memiliki dasar. Tujuan dari tuduhan tersebut adalah mengirimkan pesan positif kepada penjajah Israel dan pemerintah Amerika agar mendapat dukungan. Dia mencatat bahwa tindakan tersebut juga menjadi bagian dari upaya negara-negara Arab untuk melakukan normalisasi hubungan dengan Tel Aviv.

Sebagai tanggapan atas tuduhan Saudi bahwa Hamas sebagai organisasi teroris, Marra mengatakan: “Hamas adalah gerakan pembebasan nasional yang bertujuan membela rakyat Palestina, membebaskan tanah air kita, melindungi rakyat dan menyingkitkan terorisme  dan penindasan penjajah. Gerakan ini hanya menarget penjajah dan tidak menganggu urusan dalam negeri negara-negara Arab dan tidak juga melakukan terorisme kepada bangsa Arab. Disamping itu, Hamas tidak menjadi bagian dari sekutu regional apapun dan tidak akan mendukung salah negara di kawasan untuk memusuhi negara lain.” 

Pejabat Hamas juga mengumumkan keinginan gerakan ini untuk berdialog langsung dan menjalin hubungan langsung dengan negara-negara Arab, menyerukan negara-negara Arab untuk menghentikan kampanye negatif media mereka karena “menuduh Hamas adalah kekalahan perang yang hanya akan melayani kepentingan penjajah.”

Kebutaan Politik

Penulis Palestina Abdullah Al Aqqad yakin bahwa kampanye anti Hamas adalah “bentuk kedustaan karena gerakan perlawanan Palestina telah melampau fase diragukan dan mendapatkan derajat kepercayaan dan apresiasi dari bangsa Arab. Ini khususnya ada pada kasus Hamas. Dan ini menjadikan modal besar dan bernilai bagi perlawanan Palestina. 

Al Aqqad menolak tuduhan terorisme yang diarahkan kepada faksi Palestina, seraya menyebutkan:“Perang Hamas hanya terbatas di wilayah pendudukan dan sedang melawan salah satu musuhnya, yakni penjajah Israel, yang menjadi musuh seluruh bangsa karena terus menodai kesucian tempat ibadah.”

Penulis Palestina dan analis Mustafa Al Sawwaf yakin bahwa pemberitaan koran Al Riyadh terjadi lebih karena “sikap membabi buta” karena mereka tidak melihat bahwa Al Jubeir juga berjabat tangan dan memeluk Menlu Iran. Apakah setelah itu, Arab Saudi dapat disebut teroris karena Menlunya berjabat tangan dengan Zarif?”

Dari Al-Arab, 8 Agustus 2017.

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *