Apakah Amerika Akan Kehilangan Turki?

*David Hearst

Menjelang berakhirnya kekuasaan Presiden Rusia Boris Yeltsin, Bil Clinton menggaruk kepalanya dan bertanya: “Siapa yang akan kehilangan Rusia?”

Rusia pos Komunis ternyata lebih cair dari  apa yang banyak dibayangkan. Namun pertanyaan ini sendiri penting. Bil Clinton telah menjadi bahan pembicaraan di kalangan diplomatik karena: merubah negara yang awalnya pro Barat menjadi anti Amerika. Kesalahan apa yang dia telah lakukan?

Joe Biden dapat juga mendapatkan pertanyaan yang sama ketika terbang ke Turki Rabu lalu: Siapa yang yang akan kehilangan Turki? AS telah melakukan hal yang buruk dalam kudeta Turki. Pada jam-jam pertama kudeta, Menlu John Kerry mengharapkan “stabilitas dan kontinyuitas”. Butuh dua jam bagi Gedung Putih untuk mengirim pesan ambigu yang menyebutkan demokrasi dan aturan hukum. Keterlambatan itu sudah cukup memberi sinyal kecurigaan Ankara bahwa sekutu dekatnya ini lebih tahu dari sekedar hanya membiarkan.

Sebuah negara yang sedang mengalami syok karena kudeta pada Jum’at malam yang melibatkan 35 jet, 37 helikopter, 246 kendaraan perang, 4000 senjata dan 3 kapal perang ini, alih-alih mendapatkan kuliah tentang HAM oleh sekutunya.

Kerry ternyata lebih khawatir kepada aksi pembersihan Erdogan  di militer dan birokrasi pasca kudeta sehinga setengah mengancam akan mengaitkan aksi tersebut  dengan eksistensi Turki di NATO. Tindakan Kerry ini tidak pelak mengundang reaksi mantan Dubes AS di Turki yang menyebut Menlu-nya sedang mengisap ganja. “Apa dia sedang mabuk?”, tanyanya. Dia heran apa yang dapat dilakukan AS menghadapi Rusia dan Iran jika sekutu militer terbesarnyasendiri  ditendang keluar dari NATO.

Centcom kemudian menyatakan bahwa kontak terdekat AS dalam militer Turki banyak masuk penjara. 151 Jenderal dan laksamana, sepertiga Jenderal Turki telah ditangkap -dan payahnya, Kepala Komando Pusat Militer AS ini mempertanyakan alasannya. Dia bahkan menekankan bahwa pembersihan tersebut dapat merusak hubungan militer antara Turki dan AS.

“Apa yang saya prihatinkan tentang ini adalah…pertama dan terutama bahwa tindakan (pembersihan) ini akan mempengaruhi kerjasama operasi yang sangat penting,” kata Joseph Votel. Tidak pelak, komentarnya ini mengundang kemarahan dari Erdogan dan sejak itu Centcom diam.

Laporan media Turki tentang pelbagai kunjungan para pelaku kudeta ke AS juga menambah kerumitan, diantaranya Adil Oksuz. Seorang dosen agama di Universitas Sakarya ditahan di luar pangkalan angkatan udara Akinci, dimana aksi kudeta itu dikendalikan. Dia tercatat melakukan lebih dari 100 kali kunjungan ke luar negeri sejak 2002, dan yang terbaru ke  AS dari 11-13 Juli.

Tidak lama ditangkap, Oksuz dibebaskan oleh hakim dan kini melarikan diri. Bagi otoritas Turki, dia adalah tersangka utama sebagai pembawa pesan penting Fethullah Gulen, yang dituding Turki menjadi otak kudeta.

Semua hal ini muncul sebelum tuntutan ekstradisi atas Gulen dimulai.

Rusia sendiri sebaliknya melakukan peran protagonis saat kudeta. Media Iran mengklaim bahwa intelejen militer Rusia di Suriah telah menangkap sinyal helikopter yang terbang ke Marmaris untuk membunuh Erdogan di villa peristirahatannya. Rusia konon segera menginformasikannya ke intelejen Turki. Erdogan lolos 15 menit berselang. Namun, intelejen Turki telah menerima laporan pergerakan pasukan pemberontak beberapa jam sebelumnya.

Entah benar atau tidak, cerita ini tampak menempatkan Putin sebagai penyelamat Erdogan. Ketika pesawat pembom Rusia ditembak oleh jet Turki, Putin pernah mengatakan bahwa dirinya ditikam dari belakang oleh sekutunya. Kini semua telah menjadi sejarah. Erdogan tampaknya telah bersiap untuk melakukan rekonsiliasi dengan meminta maaf atas insiden tersebut, sembari mengisyaratkan bahwa dirinya tidak ada kaitannya dengan peristiwa tersebut.

Ketika Putin dan Erdogan bertemu, para analis Turki banyak berbicara tentang kesamaan antara Putin dan Erdogan. Mereka hanya membahas isu perdagangan kedua negara -TurkStream, pemasangan pipa gas alam yang melewati Ukraina dan turisme, bukan isu-isu politik yang menjadi sumber perbedaan keduanya, seperti Suriah, Kurdi dan Iran.

Saya yakin hal itu tidak menjelaskan cerita keseluruhannya.

Masalah Erdogan dengan NATO, AS dan sekutunya telah ada sebelum kudeta. Hal itu menyangkut tuduhan bahwa Turki memperbolehkan para pejuang ISIS transit di Turki untuk menuju ke Suriah dan juga berdagang dengan kelompok radikal tersebut. Klaim yang sama disebutkan oleh Rusia. November tahun lalu, orang kuat di PLO, Muhammad Dahlan berkata kepada NATO dalam konperensi keamanan:

Semua negara-negara Eropa tahu bahwa Daesh secara komersial berhubungan dengan Turki,” katanya. “Lihat diri anda dalam cermin. Anda bicara seperti orang Arab 40 tahun yang lalu. Terorisme di Suriah berasal dari Turki. Anda membuat rumit isu ini.”

Januari ini, Raja Yordania Abdullah memberitahu bahwa para anggota Konggres AS dalam pertemuan tertutup bahwa Erdogan percaya dengan “solusi radikal Islam atas kawasan ini”. Abdullah menyebut posisi Turki sebagai tantangan strategis. “Kita tidak dipaksa menangani masalah ISIS secara taktis dan bukan secara strategis. Kita lupa bahwa Turki tidak bersama dengan kita secara strategis,” katanya.

Dan intelejen Barat di Turki juga memantik klaim keterlibatan Turki dengan ISIS.

Kepala stasiun MI6 di Turki membriefing jurnalis koran Inggris tentang hubungan Turki dengan ISIS. Veteran jurnalis investigatif Seymour Hersh, mengutip nama Letjen Michael Flynn, Direktur Badan Intelejen Pertahanan anatara 2012-2014 yang mengatakan bahwa Turki tidak melakukan hal yang cukup untuk menghentikan penyelundupan senjata dan para pejuang asing lewat Turki.

“Jika publik Amerika melihat laporan intelejen yang kita buat sehari-hari, maka mereka mungkin marah. Kita tahu strategi jangka panjang ISIS dan kita juga melihat fakta bahwa Turki melihat dengan cara yang berbeda ketika berkaitan dengan sepak terjang ISIS di Suriah.”

Seorang penasehat kantor kepala staff angkatan bersenjata AS mengatakan kepada Hersh: “Intelejen AS telah melakukan penyadapan dan intelejen yang menunjukkan bahwa pemerintah Erdogan telah membantu Al Nusra bertahun-tahun, dan kini juga ISIS. Kami memberitahu Turki untuk menutup jalur para jihadis asing masuk lewat Turki. Namun dia memimpikan memulihkan Usmani dan tidak menyadari derajat yang dapat dia capai dalam isu ini.”

 

Kalimat mematikan yang disampaikan penasehat itu seperti ini: “Kami bekerja dengan Turki yang kita percaya tidak loyal dengan Erdogan.”

Bekerja dengan orang-orang Turki yang tidak loyal kepada Erdogan memiliki arti konkrit dalam konteks dengan apa yang terjadi pada 15 Juli. Briefing yang Hersh dan lainnya dapatkan dilihat oleh Ankara sebagai bentuk persiapan kudeta.

Biden harus berkerja keras untuk meyakinkan Erdogan bahwa (pernyataan diatas) tidak seperti yang tampak. Biden harus menjelaskan bahwa orang-orang Turki yang tidak loyal kepada Erdogan (dimana AS akan bekerjasama) bukanlah orang-orang yang sama yang hendak membunuh Erdogan, walaupun gagal.

Mungkin  Turki tidak akan meninggalkan NATO pasa kudeta, namun kudeta jelas memberikan dua dampak penting bagi Turki. Pertama, Erdogan akan lebih leluasa untuk menjalankan kepentingan nasional Turki di utara Suriah. Dia tidak lagi dibatasi oleh agenda Amerika dan juga bukan menjadi subyek veto AS lagi.

Dampak kedua adalah pada diri Erdogan sendiri. Militer baru akan dibentuk, yang akan melakukan apapun untuk menunjukkan loyalitas kepada negara dan juga kepada Erdogan. Ini pesan yang dapat dibaca dari pidato kepala staff angkatan bersenjata Turki dalam rapat akbar. Pasca kudeta, tentara Turki akan lebih kuat dan lebih asertif, terutama di Suriah.

Gempa tektonik dalam konflik ini telah bergeser. AS akan menghadapi banyak tantangan yang sulit dikendalikannya dari musuh-musuhnya di Timur Tengah atau juga dari sekutunya. Dan seperti  yang ditunjukkan dalam cerita tentang Boris Yeltsin, bahwa  tidak ada yang lebih berbahaya dari sekutu daripada sekutu yang merasa terhina.

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *