Apakah Erdogan Meninggalkan Palestina?

*Dr Daud Abdullah

Dalam hitungan jam setelah normalisasi hubungan dengan Israel diumumkan, Turki diguncang serangan teroris paling mematikan. Memang, bukan kali ini saja Istanbul menjadi target serangan yang merenggut banyak korban jiwa. Darimanapun sumber serangan itu, apakah domestik maupun internasional, Turki tidak boleh membiarkan kampanye jahat ini sukses, karena jelas, aksi terorisme ini dimaksudkan untuk menghancurkan ekonomi Turki dan menjadikan Turki terisolasi secara internasional. Presiden Recep Tayyip Erdogan mempunyai tujuan yang jelas. Erdogan tidak boleh membiarkan Turki berantakan karena banyak rakyat Timur Tengah yang menggantungkan harapan kepadanya.

Karena keterkaitan historis, kultural dan geografis, Turki akan selalu terkena dampak atas pelbagai peristiwa politik di Timur Tengah. Ankara tidak dapat melepaskan diri atas konsekuensi pergolakan politik yang menghantam kawasan di sebelah selatan sejak 2011. Apakah berupa penyediaan  penampungan bagi para pengungsi yang melarikan diri dari perang saudara di Suriah atau bantuan kemanusiaan bagi warga Palestina yang dikepung di Gaza. Yang jelas, Turki tidak dapat melepaskan diri dari tanggung jawab tersebut.

Tentu, semua bencana yang menghantam kawasan tersebut sepenuhnya buatan manusia, maka upaya penyelesaiannya selalu tergantung kepada upaya dan pengorbanan kita. Untuk kepentingan ini, Turki harus membayar mahal. Serangan teroris di Bandara Internasional Ataturk pekan ini adalah bukti terangnya. Dilihat dari polanya di masa lalu, ini bukan aksi kejahatan yang terakhir. Maka, tepat bagi Turki untuk mengkaji kembali kebijakannya, dan khususnya dengan pendekatan “Nol Masalah dengan tetangga-tetangganya”

Tidak ada keraguan bahwa Presiden Erdogan sepenuhnya sadar bahwa Turki harus memilih-milih medan perangnya. Saya ingat pertemuan privat dengan dirinya di Istanbul pada 2010 dimana isu keanggotaan OECD (Organisasi Kerjasama dan Pembangunan Ekonomi) sedang hangat didiskusikan. Ini terjadi setelah pasukan komando Israel menyerang kapal Mavi Marmara dalam perjalanannya ke Gaza sehingga menewaskan 9 warga sipil. Ketika ditanya apakah Turki akan memblok keanggotaan Israel dalam OECD, Erdogan menjawab tegas “Tidak”. Banyak orang saat itu yakin bahwa sangat dipahami jika Turki menggunakan hak vetonya, namun bagi Erdogan bahwa satu perang saja sudah cukup banyak, dan satu perang itu dapat dihindari.

6 tahun kemudian, Turki mendapat permintaan maaf dari Israel, pembayaran kompensasi untuk keluarga korban dan pelonggaran blokade Gaza. Namun, para pejabat Turki yang mengklaim bahwa ketiga syarat bagi normalisasi hubungan sudah dipenuhi sebenarnya tidak mencerminkan fakta riil di lapangan. Syarat ketiga sebenarnya belum terpenuhi karena setiap orang pasti tahu bahwa ada perbedaan besar antara “melonggarkan” dengan “mencabut”.

Seperti Erdogan katakan sendiri dalam pertemuan 2010 silam, sudah sangat banyak peran Turki untuk Palestina, maka saatnya yang lain (negara-negara Muslim) juga harus turut bangkit mengambil perannya juga. Tentu tidak diragukan bahwa hasil pembicaraan terbaru dengan Israel atas blokade Gaza akan berbeda jika para aktor regional lainnya dan otoritas Palestina sepenuhnya mendukung tuntutan Turki. Kenyataanya tidak. Militer Mesir ingin tetap memblokade Gaza karena menganggap penguasa de facto di Gaza adalah Hamas, bagian dari Ikhwanul Muslimin, yang dikudetanya pada 2013. Hal yang sama, Presiden Mahmud Abbas cukup senang Gaza tetap diblokade karena kudeta Hamas atas otoritasnya pada 2007, sekalipun gerakan Hamas legitimate dan pemerintahnya pada waktu itu dipilih rakyat.

Dengan melihat dalam konteks lebih luas, maka pengumuman PM Binali Yeldirim bahwa Turki juga ingin menormalisasi hubungannya dengan Mesir bukan hal yang mengejutkan. Ini dapat menjadi langkah besar untuk mengakhiri 10 tahun blokade Gaza, yang dipimpin Israel, terutama di perbatasan Rafah yang dikendalikan Mesir.

Dalam konteks ini, harus diingat bahwa Erdogan selalu menekankan syarat utama pembebasan Presiden Muhammad Mursi dalam rekonsiliasinya dengan rejim Sisi di Kairo dan syarat ini harus tetap ada.

Ketegangan diplomatik Turki yang hampir berakhir tidak hanya dengan Mesir, namun juga Rusia karena Turki menembak jatuh pesawat tempur Rusia November lalu. Ini sangat masuk akal dan menjadi langkah praktis karena selama perang saudara terus berlangsung, maka stabilitas Turki sulit terwujud. Maka tepat jika Ankara juga menjangkau Rusia bagi normalisasi, karena Rusia menjadi satu-satunya kekuatan yang dapat mempengaruhi rejim Assad maupun pendukungnya, Iran.

Sebagai upaya merangkai kembali kepingan-kepingan pasca serangan atas bandara Istanbul, Turki harus menghindari bahaya isolasi diplomatik. Jika terjadi, tentu ini akan menjadi kemenangan musuh-musuh Turki dan kehilangan besar bagi kawasan Timur Tengah. Timur Tengah akan semakin kacau tanpa Turki, khususnya setelah jatuh dan bercerai-berainya Libya, Suriah, Yaman dan Irak.

Presiden Erdogan menghadapi banyak kritikan karena perjanjiannya dengan Israel. Dia juga mendapat banyak kritik di masa lalu, namun kemudian hari bisa membuktikan bahwa kritik itu tidak benar; Dia orang yang yang cermat dan tidak mudah dikelabui. Ingat, dia telah sukses mengantarkan Turki mengatasi masa-masa sulitnya, oleh karena itu, layak untuk dipuji. Turki dibutuhkan baik pada saat yang tepat dan bukan, Erdogan tidak boleh membiarkanya dirinya keluar dari jalan yang ditetapkannya. Turki sangat penting karena itu.

 

*Mantan Sekjen MCB (Muslim Council of Britain)

 

Courtesy MEMO (Middle East Monitor)

 

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *