Apakah Israel Gunakan Operasi Intelejen Untuk Habisi Aktivis BDS?

Apakah Israel akan melakukan perang kotor untuk menghabisi gerakan sipil BDS (Boikot, Divestasi dan Sanksi)? Kampanye BDS tampaknya kini menjadi “ancaman strategis urutan pertama” Israel, bahkan konon menyisihkan posisi Iran. Ini yang tampak dalam dengar pendapat di Knesset Israel baru-baru ini. BDS adalah gerakan sipil internasional yang membangun solidaritas atas perjuangan rakyat Palestina dengan memboikot produk-produk Israel di wilayah-wilayah pendudukan.

Dalam testimoni Sima Vaknan-Gil, direktur kementerian urusan strategis menyatakan bahwa gugus tugas yang pada awalnya dibentuk untuk melawan Iran satu dekade, kini tugasnya dialihkan untuk menghabisi BDS, gerakan sipil internasional yang damai. Dalam 2016, Israel menganggarkan 45 juta untuk menjalankan praktik kotor ini diseluruh dunia, khususnya Inggris.

Beberapa saat lalu, Menteri Keamanan Masyarakat Israel dan juga aktivis Partai Sayap Kanan Likud, Gilad Erdan menyebut Inggris sebagai pusat gerakan boikot BDS di dunia. Erdan  menjanjikan “pembasmian target sipil” para aktivis BDS dan memberlakukan larangan bepergian kepada pendiri BDS Omar Barghoutti.

“Inggris menjadi pusat gerakan boikot Israel dan mereka tidak akan lepas dari pengawasan kita dan membayar (mahal) atas aksi mereka tersebut,” ancam Gilad yang menjadi gugus tugas anti BDS. “Saya ke Inggris untuk melawan aksi boikot dan delegitimasi di segala bidang serta berdiskusi dengan pemerintah Inggris -yang juga berkomitmen untuk melawan boikot- sebagai upaya memperkuat kerjasama anti kampanye boikot.”

Dalam dengar pendapat, Vaknan-Gil mengatakan bahwa kementeriannya tengah merekrut “kumpulan tentara” untuk berperang melawan BDS secara rahasia untuk memenangkan peperangan ini.

Menurut Yossy Melman, analis keamanan Israel bahwa unit intelejen Israel yang berada dibawah kementerian Vaknan Gil ini akan melakukan operasi anti BDS di luar negeri dengan bantuan para agen dari Aman, badan intelejen militer dan Shin Bet, badan intelejen domestik, yang sangat dikenal dalam menyiksa para tahanan dan melanggar hak sipil penduduk palestina.

Operasi itu menurut Melman mencakup kampanye penistaan, ancaman dan serangan baik fisik dan verbal kepada para aktivis BDS.

Berkaitan dengan ancaman pembunuhan tampaknya juga bukan omong kosong karena menurut aktivis pro perjuangan rakyat Palestina, Asa Wintansley, para aktivis HAM Palestina yang membantu Mahkamah Kejahatan Internasional di Den Hag baru-baru ini mendapatkan obyek ancaman.

Maka kembali menurut Asa, kunjungan menteri Israel Erdan Gilad ke Inggris baru-baru ini dapat dilihat sebagai upaya strategis Israel untuk menjalin kerjasama dengan pemerintah Tory (konservatif) dalam melancarkan operasi tersebut. Partai Konservatif senditi  tidak menyukai BDS. Pemerintah melalui Departemen Pemerintahan Lokal melarang pemasangan iklan boikot Israel di fasilitas-fasilitas umum pemerintah. Namun, peraturan baru ini mendapat tentangan di parlemen dan masuk dalam gugatan di Mahkamah Agung. Hasilnya, larangan tersebut tidak sah secara hukum karena bertentangan dengan prinsip kebebasan berpendapat.

 

Kunjungan itu juga dapat dilihat bahwa Israel sedang mencari ijin untuk melakukan operasinya di Inggris. Asa menyebutkan bahwa pemerintah Tory adalah pemerintah yang sama  ketika Mossad  pada 1987 melakukan operasi pembunuhan kepada kartunis Palestina Naji Al Ali di London. Pertanyaannya, apakah Israel akan melakukan operasi yang sama di Inggris pada era pemerintahan PM Theresa May sekarang?

 

Jika  ancaman Israel kepada para aktivis kemanusiaan di Den Haag seperti dikatakan Melmann hanya sebagai “ancaman di permukaan”, maka kita patut curiga terhadap apa yang tidak tampak.

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *