AS: Serangan Udara Rusia di Aleppo Aksi Barbar

AS menuduh Moskow melakukan tindakan barbar menyusul gempuran pesawat terbang Rusia dan Suriahย atas Aleppo. Gempuran ini dianggap sebagai gempuran terburuk selama 5 tahun perang.

Pertemuan darurat diselenggarakan Dewan Keamanan PBB untuk menuntut Rusia dan sekutunya Presiden Bashar al Assad menghentikan gempuran udara segera. Moskow dan rejim Damaskus dituduh melakukan kejahatan perang.

“Apa yang dilakukan Rusia buknalah konter terorisme, namun aksi barbarisme,” kecam Duta Besar AS di PBB.

124 warga sipil tewas ketika bom penembus bunker dan senjata canggih digunakan di kawasan pemukiman yang diduduki pasukan oposisi di Aleppo timur.

“Sulit untuk mengingkari bahwa Rusia sedang bekerjasama dengan rejim Suriah melakukan kejahatan perang,” kata Duta Besar Inggrisย Matthew Rycroft, sembari menambahkan pemakaian senjata modern terhadap warga sipil ย telah menimbulkan ‘neraka baru’ bagi negeri yang terkoyak perang ini.

Senada, Sekjen PBB Ban Ki moon mengungkapkan penggunaan senjata modern terhadap warga sipil dapat mengarah kepada kejahatan perang. Sementara Duta Besar Perancis Francois Delattre mengatakan bahwa pelbagai kejahatan tersebut tidak boleh dibiarkan.

Inggris, Perancis dan AS telah menyerukan pertemuan mendadak setelah upaya diplomatik untuk menyelematkan gencatan senjata AS-Rusia gagal akhir pekan ini.

Ban juga menyerukan negara-negara besar “untuk bekerja lebih keras lagi untuk mengakhiri mimpi buruk di Suriah yang telah merenggut setengah juta warga sipil tewas dan jutaan lagi terusir dari kampung halamannya.

Sebagai protes serangan di Aleppo, AS, Duta Perancis, Inggris dan AS keluar dari ruangan Dewan Keamanan ketika duta besar Suriah hendak menyampaikan pidatonya.

Kami Warga Sipil

Penduduk sipil aleppo mengatakan bahwa bon cluster dihujankan pesawat Rusia Sabtu malam di bagian timur kota Aleppo yang dihuni 250 ribu warga sipil. Akibat serangan itu, setidaknya 19 anak-anak terbunuh, ungkap Kelompok HAM Suriah.

“Sepanjang malam, mereka menjatuhkan bom cluster. Saya tidak tidur hingga pagi,” kata Ahmed Hajar, 62 tahun yang sedang mencari roti di sekitar Al Kalaseh.

Sementara di sekitar kawasan Bab al Nayrab, Imad Habush, 30 tahun memanggang roti dengan kayu di luar rumahnya. “Tidak ada toko roti yang buka karena pemboman dan kehabisan bahan bakar dan tepung, sehingga penduduk membuat roti sendiri.”

“Saya tidak tahu mengapa rejim Assad mengembomi kita dengan cara brutal. Kami warga sipil. Kami tidak membawa senjata dan terkepung. Kami tidak ada jalan keluar.”

Gempuran masih berlangsung hingga ahad sore yang mengakibatkan 25 warga sipil tewas, termasuk dua anak-anak.

Menteri Luar Negeri Suriah mengatkan bahwa pemerintahannya yakin akan “menang” dan dapat mengambil alih Aleppo dengan dukungan “teman sejati” dari Rusia, Iran dan milisi Syiah Hizbullah Lebanon.

 

 

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *