Bagaimana Peta Referendum Turki Ahad Besok?

55 juta warga Turki besok akan memberikan suara dalam referendum konstitusi yang bertujuan mentranformasi negeri itu dari sistem parlementer ke sistem presidensial.

Diluar dari jumlah tersebut, warga Turki yang tersebar di 56 negara telah memberikan suaranya yang dimulai sejak 26 Maret. Ibukota-ibukota di negara Barat menyaksikan kenaikan 20 persen partisipasi pemilih dibandingkan dengan pemilu parlemen. Kemungkinan krisis Turki-Eropa menjadi pemicu peningkatan kehadiran pemilih.

Pada awal April, menurut KPU Turki, 1,241,837 warga Turki memberikan suara di kantor-kantor perwakilan pemerintah atau di tempat-tempat penyeberangan perbatasan. Sementara proses pemungutan suara di luar negeri telah selesai, pemungutan suara di tempat-tempat perlintasan masih berlangsung hingga hari pemungutan, 16 April. Jumlah total pemilih diperkirakan mencapau 1,5 juta.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi fomasi opinsi para pemilih dalam referendum kali ini, kemungkinan yang paling penting adalah afiliasi politik dan ideologi, meskipun dalam kenyataannya ini bukan pemilu parlemen maupun presiden. Pada posisi pertama adalah Erdogan yang berdasarkan survei yang dilakukan oleh A&G 2 bulan lalu menunjukkan bahwa 70 persen suara akan mendukung amandemen konstitusi karena eksistensi Erdogan, sedangkan 30 persen lainnya menentang referendum karena tidak menyukai Erdogan.

Ada faktor-faktor lainnya yang mempengaruhi keputusan pemilih Turki, seperti wilayah geografis, tingkat pendidikan, dan derajat pengetahuan tentang amandemen. Namun, yang lebih penting adalah karena alasan situasi ekonomi dan keamanan sebelum dan selama referendum. Ada wilayah-wilayah yang secara tipikal menjadi perhatian partai-partai politik karena dapat menggunakan pengaruhnya.

Beberapa polling menunjukkan bahwa mereka pendukung amandemen lebih banyak daripada penentangnya secara prosentase dari beberapa lembaga survey. Kendati hasilnya yang beragam dan dipengaruhi kepentingan pembentukan opini, namun secara umum, pendukung amandemen 53 persen lebih tinggi ketimbang penentangnya.

Kampanye banyak dilakukan dalam cara tradisional, khususnya kampanye AKP. Mereka mengandalakan pengerahan massa, pidato, lagu dalam lainnya, namun karena referendum amandemen konstitusi ini berbeda dengan pemilu presiden maupun parlemen, para pemilih tidak dapat memutuskan hasilnya. Keputusan mereka lebih banyak didasarkan kepada dua kategori pemilih yang saling mempengaruhi.

Kategori pertama adalah segmen pemuda, yang  2 juta diantaranya akan memilih untuk pertama kalinya dalam pemilu. Mereka berada dalam dilema atas pelbagai partai politik sehingga mereka membutuhkan pola kampanye yang persuasif. Ini menjadi tantangan tersendiri karena kelompok ini tidak mengetahui Turki sebelum pemerintahan AKP (khususnya yang terkait dengan kudeta militer) dan oleh karena itu, mereka tidak begitu menghargai pencapaian partai ini. Menarik mereka lebih sulit ketimbang kalangan penduduk dewasa dan orang tua. Para pemuda ini memberikan kontribusi atas merosotnya suara AKP pada pemilu Juni 2005, sehingga tidak dapat membentuk pemerintahan sendiri sebelum pemilu ulang November 2015.

Partai Nasionalis sekuler, CHP mencoba menarik suara remaja dengan mengirim email dan pesan khusus kepada mereka untuk menolak amandemen konstitusi. Mereka memainkan isu tentang otoritas yang akan diberikan kepada presiden dan menakuti mereka dengan klaim bahwa presiden akan merusak demokrasi dan kebebasan. Sementara, AKP mencoba mengangkat isu untuk menarik suara kalangan dari segmen ini. Mereka  memotong usia pencalonan di parlemen dari 25 menjadi 18 tahun dan selain itu menjadi saksi hidup kudeta yang gagal tahun lalu.

Kategori kedua dan kemungkinan menjadi yang paling penting dalam menentukan referendum ahad besok adalah adanya kelompok yang belum memutuskan pilihannya, persentase yang biasanya ditaksir berada di angka 15 persen. Persentase pemilih yang belum memutuskan pada awal kampanye berada diantara angka 15 hingga 20 persen, namun kampanye yang dipenuhi dengan diskusi dan debat atas pelbagai isu yang diangkat dalam amandemen konstitusi telah mempengaruhi persentase sehingga turun diangka 10-12 persen.

Karena angka 10 persen penting dan berpengaruh (sekitar 5 juta suara), khususnya yang berkaitan dengan selisih hasil polling yang tidak begitu besar, maka pelbagai partai politik melakukan pelbagai upaya untuk menarik kelompok ini, yang kebanyakan terdiri atas kalangan muda dan mereka yang ingin golput karena tidak puas dengan isi amandemen. Untuk itu, partai-partai politik mengombinasikan kampanye populis, emosi, keinginan untuk memperbaiki isi dalam konstitusi, intimidasi yang berkaitan dengan konsekuensi setuju maupun tidak setuju, sosok, serangan media demikian pula taktik elektoral partai-partai tersebut.

Para pemilih yang belum memutuskan biasanya memilih di hari-hari dan bahkan jam-jam terakhir pemungutan suara, sehingga hari-hari yang tersisa menjadi sangat penting bagi partai-partai politik dan pemilihnya. Tidak pelak hal menjadikan kampanye semakin panas dan terpolarisasi di saat-saat akhir. Hal ini juga menjadikan sulit untuk memprediksikan hasil sebelum malam 16 April, yang akan menentukan sejarah Turki, apapun hasilnya.

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *