Belajar dari Jaringan China Perantauan

Salah satu kekuatan penting pemerintah China adalah eksistensi jaringan Chinese Overseas atau China perantauan. Naluri survivalitas dan keterikatan dengan kampung halaman (China daratan) menjadi faktor penguat jejaring di antara mereka.
 
Terlebih sejak Era Deng Xio Ping, mereka dirangkul dan mendapat dukungan kebijakan pemerintah China Daratan. Bahkan dalam amandemen UU baru di bawah pemerintahan Xi Jin Ping sekarang ini ditegaskan bahwa pemerintahan China akan mempersiapkan seluruh perlindungan kepada etnis Tiongkok yang tertindas di luar negeri, baik melalui tekanan politik, hukuman ekonomi, evakuasi maupun aksi militer terbatas untuk menjamin keamanan mereka.
 
Kini diperkirakan eksistensi mereka menyumbang antara 1,5 hingga 2 trilyun dollar dan mendorong kekuatan ekonomi China daratan. Devisa yang mengalir setiap tahunnya di China Daratan dari China Diaspora berkisar 51 milyar dollar, menduduki rangking kedua setelah India.
 
Basis kekuatan utama mereka, sering disebut dengan ‘Jaringan Bambu’ (Bamboo Network) berpusat di Asia Tenggara. Jaringan Bambu adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan koneksitas bisnis transnasional komunitas China perantauan di Asia Tenggara. Seiring Reformasi ekonomi China, Deng Xiaoping mendorong keterkaitan investasi diaspora China dengan perusahaan-perusahaan China Daratan melalui kedekatan etnik, kultural dan bahasa. Mereka kini tidak hanya mendominasi sektor ekonomi dan perdagangan, namun juga memainkan pengaruh yang kuat di kedua sektor tersebut.
 
Pasca kolonialisme, Asia Tenggara merepresentasikan simbol perluasan ekonomi China Daratan dengan akuisisi sekitar 70 persen perputaran keuangan dan perbankan. Sebaliknya, Pemerintah China Daratan membatasi investasi luar negeri di sektor-sektor yang dipandang kurang strategis, seperti real estate, hotel, hiburan dan klub sepak bola dan mendorong investasi yang sejalan dengan kepentingan nasional mereka, seperti energi baru, teknologi, sumber alam dan pertanian.
 
Seiring dengan masuknya investasi besar-besaran di tanah air, mereka tidak hanya membawa modal, namun juga masuknya tenaga kerja dari China secara besar-besaran ke Indonesia, baik dari level top, middle management hingga tenaga kerja kasar. Mereka mulai bekerja di sektor industri, pertambangan hingga pengelolaan pertanian dan perkebunan. Banyak diantara mereka bekerja secara tidak sah, tidak dilengkapi dokumen kerja yang lengkap dan hanya mengandalkan visa kunjungan wisata. Di beberapa daerah, mereka bahkan sanggup membangun infrastrukturnya sendiri, seperti di Sulawesi Tenggara. Kedatangan sebagian tenaga kerja tersebut sering kali difasilitasi oleh beberapa perusahaan besar di tanah air yang dimiliki etnis Tionghoa –yang menunjukkan derajat soliditas etnisitas dan kultur dalam jaringan mereka- diantaranya sebagai tenaga kasar dengan gaji yang lebih besar dari para pekerja lokal.
 
Laman Observer pada 22 April 2016 menurunkan analisis FBI perihal keterkaitan para imigran China di AS dalam kegiatan mata-mata untuk China Daratan (RRC). FBI melaporkan terjadi kenaikan 53 persen spionase ekonomi yang dilakukan China dan mayoritas kasus spionase tersebut melibatkan imigran China. RRC sejak lama mengandalkan keterkaitan etnik untuk menjalankan operasi spionase. Pemerintah China mengandalkan lebih dari 50 juta warga China yang tinggal di luar China dan Taiwan, yang disebut Beijing sebagai China Perantauan. Langkah tersebut sebenarnya buka hal istimewa yang dilakukan China. Banyak kasus spionase terhadap AS oleh Israel maupun Uni Soviet sebelumnya melibatkan peran para imigran.
 
Terbongkar beberapa kegiatan mata-mata yang dilakukan kalangan imigran China untuk negeri nenek moyangnya, seperti dalam kasus Katrina Leung, agen FBI di Departemen Konterintelejen yang ditugaskan untuk mengawasi Beijing ini ternyata seorang agen ganda yang memiliki loyalitas istimewa untuk negeri nenek moyangnya. Beijing memiliki kedudukan unik di mata komunitas China Perantauan sehingga memiliki ketergantungan yang tinggi kepada mereka dalam kegiatan spionase. Menurut Badan Intelejen Ottawa, sejumlah praktik spionase China di Kanada banyak melibatkan para imigran atau warga negara keturunan China. Beberapa imigran memanfaatkan kedudukan politik mereka untuk melakukan kegiatan spionase, seperti pada kasus Michael Chan, politisi liberal Kanada yang disebut dinas intelejen Kanada dekat dengan jaringan intelejen China.
 
 
Teaser (cuplikan) dari rencana buku “𝗥𝗲𝗸𝗮𝘆𝗮𝘀𝗮 𝗦𝗼𝘀𝗶𝗮𝗹 𝗱𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗔𝗹 𝗤𝘂𝗿’𝗮𝗻”, Ahmad Dzakirin.
 
Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *