Bocoran Email: UEA Ingin Hancurkan Gerakan Islam di Barat

Uni Emirat Arab (UEA) berupaya mempengaruhi narasi Islam di Barat, ungkap bocoran email Duta Besar UEA, Yousef Al Otaiba. 

UEA sejak lama menunjukkan kebenciannya terhadap politik Islam di dunia Arab. Penguasa negara Teluk ini sebelumnya sering mengutuk Ikhwanul Muslimin, melarang partai-partainya dan memblokade Qatar  karena dituduh membiayai gerakan Islam tersebut. Kini, mereka juga bergerak untuk membentuk narasi tentang Islam di AS dan Barat.

Beberapa email antara Al Otaiba dan koleganya di Amerika menunjukkan bahwa UEA sedang mengkampanyekan apa yang disebutnya sebagai Islam “moderat”, yang mendorong pejabat AS untuk melarang Ikhwanul Muslimin. Al Otaiba juga terungkap sedang berbicara di depan para pejabat AS dalam inisiatif melawan ekstrimisme. Strategi ini di Barat memiliki banyak nama dan menjadi sumber keprihatinan banyak komunitas Islam.

“Kalahkan Suara Islamisme”

Sebuah email pada awal Mei 2017 menjelaskan pendirian UEA berkaitan dengan aktivitas kelompok Islam di Barat, setelah Al Otaiba mendapatkan memo dari Mohktar Awad, peneliti di Program tentang Ekstrimisme di Universitas George Washington. Institut ini memproduksi rekomendasi kebijakan dalam menangani tidak hanya kepada kelompok ISIS, namun juga Ikhwanul Muslimin.

Setelah membaca dokumen yang dikirim via email, Al Otaiba meneruskan rekomendasi tersebut kepada Menlu UEA, Abdullah bin Zayed yang menggambarkan sebagai “makalah untuk memperkuat suara Islam moderat di AS dalam rangka menghadapi dan akhirnya mengalahkan suara Islamisme.”

Duta besar kemudian mengatur pertemuan antara para penulisnya, Awad dan Lorenzo Vidino dengan menteri dan mendiskusikan langkah-langkahnya. 

Vidino adalah direktur Program Ekstrimisme, dan dikenal sangat kritis terhadap gerakan Islam, yang dianggapnya sebagai batu loncatan bagi radikalisme. Karyanya diantaranya “Peran Gerakan Islamis Anti Kekerasan di Eropa” dan Buku “Ikhwanul Muslimin di Barat”. Awad yang bertukar email dengan Al Otaiba juga secara ekstensif menulis tentang transisi Islamisme ke ekstrimisme, khususnya yang berkaitan dengan Ikhwanul Muslimin di Mesir. 

Para Ilmuwan Bayaran

Dalam korespondensi email pada 23 Mei tahun ini menunjukkan pembicaraan kedua antara Duta Besar UEA dengan Awad. Dalam email tersebut, Al Otaiba menunjukkan keinginannya untuk menyelenggarakan makan malam antar agama di bulan suci Ramadhan dan meminta Awad menyerahkan nama-nama ulama yang dapat diundang, khususnya mereka yang dianggap “bersih dan dapat dipengaruhi.”

Awad mengusulkan nama-nama yang dimasukkan dalam agenda melawan ekstrimisme, termasuk Imam Khalid Latif, Imam Waleed Mossad, Imam Talal Eid. Dia juga menyebut Imam Mohamed Magid, meskipun dia dulunya dekat dengan ISNA, namun kini menjauh dari Ikhwanul Muslimin sehingga dapat ditarik. Magid adalah partner FBI dalam menangani komunitas Muslim dan menjadi penasehat mantan Presiden AS Barack Obama. 

Nama-nama lain yang direkomendasikan adalah Nasser Weddady, aktivis HAM di Boston. Meskipun tidak berlatar pendidikan agama, dia dikenal karena melawan “jaringan Islamis  yang kuat” di kota itu. 

“Kamu yakin Weddady tidak terkait, atau bahkan dianggap terkait dengan gerakan-gerakan tidak jelas tersebut?” tanya Al Otaiba. 

“Dia adalah konsultan pribadi dan operator anti Islamis yang saya kenal di AS,” jawab Awad. 

Weddady menggambarkan dirinya sebagai “ahli reformasi Islam” dan menyatakan dirinya banyak terlibat dengan lembaga-lembaga penegak hukum, termasuk FBI dalam memberi masukan tentang aktivitas radikalisasi. 

UEA sejak lama menjalankan strategi yang menjamin dukungan kepada para tokoh agama dalam menjalankan strategi anti ekstrimisme dan secara rutin menyerukan para ulama untuk mengecam semua aktivitas radikal serta mendukung monarki Arab. Bocoran email  menunjukkan bahwa UEA berharap mengekspor pesan tersebut kepada kalangan lebih luas di Barat.

Bekerjasama dengan Tony Blair

Duta besar Al Otaiba juga menawarkan pandangannya tentang perang melawan ekstrimisme di AS. Dalam email dari Juni 2016, dia menjelaskan undangan yang diterima dari Robert Danin dari Dewan Kerjasama Luar Negeri untuk berbicara tentang isu tersebut di depan komisi yang diketuai Mantan PM Inggris Tony Blair.

Komisi yang didirikan oleh Blair dan mantan Menlu AS Leon Panetta pada awal 2016 bertujuan untuk membentuk kebijakan yang  berkaitan program AS melawan ekstrimisme. Dikenal dengan nama pencegahan ekstrimisme (Program Pencegahan Ekstrimisme) di Inggris, inisiatif tersebut sering dikritik di Barat karena membatasi kebebasan berbicara kalangan Muslim atas beberapa isu tertentu dan melabeli beberapa praktik keagamaan umat Islam sebagai bentuk ekstrimisme. 

Al Otaiba mengonfirmasi  kehadirannya pada pertemuan tersebut dan menjelaskan kehadirannya dalam kapasitas pandangan pribadi, bukan sebagai seorang pakar. 

Danin memerinci isu yang akan dibahas oleh Al Otaiba tentang penggunaan kekuatan militer untuk mencegah radikalisasi, hubungan Islam dengan ekstrimisme dan bagaimana menggunakan hubungan yang ada dengan mayoritas negara-negara Islam untuk menangani isu ini secara efektif. 

Para mantan pejabat keamanan, termasuk mantan penasehat keamanan nasional, Stephen Hadley, mantan wakil Menhan Karl Theordo zu Guttenberg hadir dalam pertemuan tersebut. 

Beberapa pembicara Muslim juga dijadwalkan hadir, termasuk Sherman Jackson dan Magid. Undangan lainnya adalah Ed Hussain, pendiri dan mantan direktur Quilliam Foundation yang kontroversial. Dewan Kebijakan Luar Negeri menempatkan dirinya sebagai lembaga think tank anti terorisme yang mengundang banyak kritik di Inggris karena afiliasinya dengan pelbagai lembaga sayap kanan, seperti  Henry Jackson Society.

Dengan berkontribusi dalam acara tersebut, Al Otaiba menegaskan bahwa UEA ingin menggunakan kesempatan tersebut untuk menekankan pentingnya pembatasan tertentu dalam komunitas Muslim, seperti yang banyak mereka lakukan di negeri-negeri Muslim dan menjalankan narasinya sendiri yang dapat mencegah perkembangan Islamisme. 

Mendorong Pelabelan Ikhwanul Muslimin sebagai Kelompok Teror

Al Otaiba juga mendorong penyebaran opini UEA tentang Ikhwanul Muslimin. Dalam bocoran email menunjukkan perbincangan dirinya pada Februari tahun dengan wakil AS di Timur Tengah, Jason Greenblatt. Dia merekomendasikan acara yang membahas status Ikhwanul Muslimin dengan mengundang Sir Jenkins. 

Jenkins adalah mantan duta besar Inggris yang memimpin penyelidikan tentang Ikhwanul Muslimin pada 2014. Temuan kontroversial komisi ini, yang menyebutkan bahwa ideologi Ikhwanul Muslimin berseberangan dengan hukum Islam dan bertentengan dengan kepentingan dan keamanan Inggris tersebut ditentang oleh Komite Urusan Luar Negeri di Westminster. Parlemen berpendapat bahwa posisi Jenkins sebagai duta besar untuk Arab Saudi telah menimbulkan bias dalam memahami gerakan ini. 

Awal tahu ini, pada saat email Al Otaiba  dikirimkan, AS sedang mendebatkan rencana pemerintah Trump untuk melabeli Ikhwanul Muslimin sebagai organisasi teror. Katanya, “Jason, berkaitan dengan debat tentang Ikhwanul Muslimin, saya kira anda dan beberapa teman mungkin tertarik dengan pembicaraan ini. Jenkins sangat mengesankan dalam membahas isu ini. Dia pernah mengkaji Ikhwan di Inggris.”

Dalam acara tersebut juga mengenalkan kolega Al Otaiba, Awad dan Vidino. 

Namun setelah Greenblatt mengirim pesan tidak dapat hadir karena harus bertemu dengan PM Israel Benjamin Netanyahu, Al Otaiba menawarkan diri untuk membriefing dirinya kemudian. “Jenkins adalah seorang profesional. Dia adalah duta besar Inggris untuk Libya, Suriah, Irak dan Saudi. Dia tahu benar kawasan ini beserta budayanya lebih baik dari banyak orang yang pernah saya temui.”

Greenblatt, sendiri adalah sosok kontoversial karena dukungannya tanpa syarat atas  Israel dan kin menjadi sosok yang sangat berpengaruh dalam negosiasi perdamaian di dunia Arab, khususnya berkaitan dengan isu ekstrimisme. 

Dengan menyasar tokoh senior dalam pemerintahan AS menunjukkan bahwa UEA sangat serius untuk mempromosikan pendekatannya yang anti gerakan Islam kepada para pengambil kebijakan dan kalangan masyarakat sipil di AS. 

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *