Bungkamnya Trump Bukti Dirinya Dukung Terorisme

Anda tidak dapat begitu saja membungkam mulut Donald Trump. Tuhan tahu jika 3 manajer kampanye dan bekas kepala staff Gedung Putih berupaya keras melakukannya. 

Mereka meminta orang bermulut besar ini berhenti menutup akun twitternya. Bahkan rumor yang beredar tim kampanye Republikan meyakinkan kandidat presiden pada waktu itu untuk menyerahkan telpon selularnya di hari terakhir kampanyenya.  

Namun twit yang tidak penting, menghina, tidak jujur dan jahat tetap berlangsung. Tidak peduli apakah hal itu merusak reputasi pribadi dan politiknya, dia ternyata terpilih jadi presiden dan tidak dapat dibungkam. 

Ada satu  isu yang dapat menjadi tragedi nasional karena presiden AS ke 45 tidak berkomentar ataupun mengecam tindakan tersebut. 

Apa itu? Diamnya dia atas semakin meningkatnya aksi kebencian terhadap Muslim Amerika. Dia tuli dalam hal itu. 

Sabtu pagi, para teroris anti Muslim, yang disebut nasionalis kulit putih mengebom masjid di Minnesota. 20 orang sedang menjalankan shalat di dalamnya. Tindakan ini masuk dalam definisi tindakan terorisme, tidak hanya melukai korban-korbannya yang menjadi target, namun juga mengirim pesan besar kepada Muslim Amerika bahwa anda tidak dikehendaki disini. 

Ini adalah tindakan terorisme yang dilakukan di tanah Amerika. Gubernur Minnesota Mark Dayton dengan tegas menyebutnya. Setelah bertemu dengan media, dia mengatakan bahwa “Maka dapat disebut serangan teroris. Dan itu adalah tindakan terorisme.”

Bungkamnya Trump

Tetapi apa yang dilakukan Presiden AS, orang yang ditugaskan menjamin keamanan masyarakat disaat menghadapi ketakutan? Tidak satu patah katapun keluar dari mulutnya. Tidak ada twit seperti biasanya. 

Tidak keluarnya kecaman dirinya atas pemboman masjid di Minnesota merupakan pernyataan dukung terorisme terhadap warga Muslim Amerika. 

Dia juga tidak dapat sibuk bekerja untuk seorang presiden. Tidak hanya dia telah bermain 47 putaran golf dalam 200 hari pertamanya sebagai presiden AS, namun juga sebagaimana diamati oleh John Harwood, Trump telah mengeluarkan banyak kali twit sejak serangan teroris atas masjid di Minnesota, yang berisi satu atau lebih kata-kata yang menggambarkan orang lain seperti, “palsu”, “bohong”, “artis kriminal”, “anak” dan “bayi”.

Ini bukan kali pertamanya Trump tidak bersedia memberikan dukungan kepada korban Muslim maupun kecaman kepada para penyerangnya.

Ketika salah seorang pendukung Trump memasuki masjid di Kota Quebec pada akhir Januari dengan senjata AK47 membunuh 6 Muslim didalamnya dengan keji, Trump juga bungkam. 

Ketika seorang nasionalis teroris menabrakkan mobilnya ke kerumunan Muslim yang sedang pulang dari masjid di Finsbury Park, London, Trump juga bungkam. 

Ketika ekstrimis Kristen ditahan karena merencanakan serangan terorisme skala besar atas warga Amerika keturunan Somalia di kompleks apartemen di Kansas pada hari pemilihan, Trump juga diam. 

Perang drone Trump kini juga telah menewaskan lebih dari 2000 penduduk sipil di Irak dan Suriah. Trump juga tidak berkomentar.

Ketika Trump tidak berkomentar atas tewasnya Muslim, namun sebaliknya Trump segera berkomentar jika ada seorang Muslim membunuh kulit putih, maka Trump punya banyak kata narsis untuk mengungkapkannya. “Radikal Islam” dan “terorisme Islam”.

Bagi Trump, ada korban yang berharga dan tidak berharga serta juga penyerang yang berharga dan penyerang tidak berguna. 

Pada Mei, Trump memang mengecam penusukan fatal dua orang kulit putih di atas kereta api Portland, karena membela seorang perempuan Muslim yang dilecehkan. Namun menurut Nasser Beydoun, ketua Liga HAM Arab Amerika, “Tidak berarti apa-apa karena dia sedang berbicara kepada konstituennya. Dia tidak mengecam aksi kebencian karena kepresidenannya dibangun dari kebencian, maka satu twit darinya tidak berbeda.”

Christian Christensen, profesor studi jurnalaisme di Universitas Stockholm mengamati bahwa “Muslim yang dilukai kulit putih bukan menjadi perhatian berharga karena mereka sama sekali tidak berkaitan dengan proyek demonisasi Muslim, pengungsi dan imigran yang dilakukan Trump, massa manusia yang tidak dikenal di mata presiden AS. Ataupun mereka tidak mewakili gambar kulit putih yang Kristen.”

Dengan melakukan hal itu, Trump hendak mengirimkan pesan tidak masalah jika anda mengganggu Muslim Amerika dan kemudian aparat keamanan juga tutup mata. 

Penguatan Para Ekstrimis

Kita telah mencapai titik paling berbahaya bagi Amerika. Sementara kekerasan anti Muslim meningkat  selama 10 tahun terakhir, angka itu meningkat tajam sejak Trump mengumumkan pencalonannya pada 2015. Kejahatan kebencian yang menyasar Muslim melonjak 584 persen dari 2014 hingga 2016 berdasarkan data CAIR.

Baik pencalonan maupun era kepresidenan Trump telah memobilisasi dan memperkuat mereka yang ingin melakukan tindakan kekerasan terhadap Muslim Amerika. Elemen sayap kanan ekstrim mengambil kesempatan dari presiden yang hendak mendemonisasi Muslim, Islam dan imigran. Elemen-elemen yang dulunya berada di pinggiran tatanan sosial dan politik Amerika kini bergerak ke tengah dan tidak takut lagi berkiprah. Dalam pekan ini, CNN melaporkan rata-rata 9 masjid di Amerika diserang setiap bulan selama tahun ini. 

Para milisi sayap kanan yang bersenjata kini secara terbuka dan aktif mendukung para calon dan pejabat yang mendukung Trump di seluruh wilayah. Sebaliknya, para politisi juga menggunakan para milisi itu untuk mendapatkan kekuasaan. 

Amy Cooter, sosiolog Universitas Vanderbilt mengatakan:“Para politisi pada akhirnya menyamakan citra dirinya dengan Presiden agar mendapatkan dukungan para milisi dalam menggenggam kekuasaan.”

Gaya kampanye dan agenda “Amerika Nomer Satu” akan menarik orang-orang yang tergabung dalam milisi masuk  arus utama politik.”

Para milisi ini memainkan peran organisir ditengah gerakan anti Muslim. Mereka melakukan beberapa kali aksi protes bersenjata terhadap masjid-masjid dan secara rutin menyebarkan teori konspirasi anti Muslim di pelbagai media sosial. Kini, mereka juga terbuka dan aktif terlibat dalam politik arus utama. 

Sebagai presiden AS, Trump bertanggung jawab atas keselamatan dan kesejahteraan seluruh warga negara AS. Tidak hanya yang disukai, namun juga mereka yang menjadi konstituen politiknya. 

Dengan tetap diam di tengah meningkatnya kekerasan anti Muslim berarti menempatkan keselamatan dan kesejahteraan Muslim Amerika dalam ancaman yang lebih besar.

 

Sumber: MiddleEastEye

 

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *