Dampak Kemenangan Donald Trump Atas Timur Tengah

“Mari kita akhiri apa yang kita mulai. Mari pilih Hillary Clinton!”, kata Presiden AS Barack Obama. Tentu, kita akan mengaitkan dengan moto kampanyenya “Perubahan” 8 tahun yang lalu. Dia sepenuhnya percaya bahwa dukungan rakyat Amerika kepadanya dalam dua kali pemilu masih tetap ada dan digunakannya kali ini untuk mendukung Hillary. Namun dalam kenyataannya, satu-satunya perubahan yang AS dan dunia saksikan hanyalah perubahan warna kulit komandan tertinggi militernya.

Obama ternyata tidak mengubah AS, maupun menjadikan dunia lebih baik, seperti halnya beberapa orang liberal menginginkan kita percaya. Dia gagal memenuhi banyak janjinya, termasuk penutupan penjara Guantanamo. Obama dianggap tidak lebih dari pembohong. Dia mengakhiri apa yang Bush mulai pada 2001, dengan mengembalikan kembali dunia dalam sistem multipolar. AS tidak lagi ditakuti dan bahkan ditantang oleh para pemain kecil seperti Diktator Bashar al Assad.

Ketika pendukung Trump mengejeknya dalam kampanye Clinto, Obama menjawab dengan mengatakan kepada para pendukung Demokrat,”Jangan katakan huu, tapi pilihlah!” Dan Amerika benar-benar memilih, dengan suara anti kemapanan, yang menyingkirkan Hillary yang didukung Wall Street. Trump menang dengan menjadikan dirinya sebagai kunci anti kemapanan, dengan memerankan dirinya sebagai pejuang warga kelas pekerja Amerika dan menjanjikan menjadikan Amerika besar lagi.

Apakah dia mampu atau tidak, itu bukan masalahnya, namun setidaknya ini menjadi isu yang penting dan menggembirakan untuk 4 tahun mendatang.

Trump dan Suriah

Meskipun isolasionis, Trump dilihat sebagai pribadi tegas ketimbang Obama, dan banyak aktor politik internasional -baik negara maupun tidak- akan melihat kemenangannya dengan khawatir maupun senang. Satu orang yang boleh jadi senang adalah Presiden Vladimir Putin yang satu langkah di depan. Sepanjang kampanye pemilu, Trump menyatakan kekagumannya kepada orang kuat di Moskow ini dan bagaimana dia berani mengambil keputusan yang dianggap menunjukkan kekuatannya di mata masyarakat internasional.

Tidak hanya mengagumi Putin, namun dia juga bermasalah dengan umat Islam. Dirinya mengklaim  melihat umat Islam bersuka cita setelah dua Menara Kembar runtuh pada 11 September 2001. Ini tentu tidak hanya kebohongan, namun juga menjadi bagian strategi kampanyenya untuk memburukkan citra satu segmen masyarakat yang sebelumnya telah menjadi subyek pengawasan dan diskriminasi pemerintah AS sejak peristiwa tersebut.

Pujian atas Putin sekaligus kebencian terhadap Muslim berarti bahwa Trump dan Moskow memiliki banyak kesamaan. Dalam kasus Suriah, ini dapat menjadi berita buruk. Obama tidak cukup nyali dalam menghadapi rejim Bashar Assad, termasuk mengabaikan garis merahnya sendiri yang berkaitan dengan penggunaan senjata kimia. Obama tetap membiarkan Assad berkuasa, namun sebaliknya, Trump boleh jadi akan membantu Putin dengan sepenuhnya memotong atau setidaknya mengurangi dukungan AS terhadap kelompok oposisi.

Trump dan Iran

Trump berulang kali mengatakan bahwa perjanjian nuklir Obama dengan Iran adalah “perjanjian buruk” dan banyak orang akan setuju dengan dirinya. Namun, dia tidak mengatakan bahwa dirinya akan kembali ke perundingan, hanya akan merenegosiasi “kesepakatan yang lebih baik”. Menlu Iran Mohammaed Javad Zarif telah meminta Trump untuk menghormati perjanjian internasional, yang menunjukkan kegaluan Teheran bahwa sukses diplomasinya selama beberapa tahun ini akan tidak berlaku di tangan Komandan Angkatan Bersenjata Amerika yang baru.

Apakah benar-benar terealisasi atau tidak masih menjadi bahan diskusi. Kedekatan Trump dengan Putin mungkin akan digunakan sebagai cara mengatasi  Iran dan membuka jalan perundingan, namun Trump masih harus menjawab beberapa hal yang dia sampaikan dalam kampanyenya untuk mengkaji kembali kesepakatan Obama dengan para Mullah tersebut. Jika kemudian, janjinya tersebut dengan mudah diingkari -maka tanyalah Obama.

Realitas dirinya menjadi presiden mungkin dapat melunakkan Trump dan menjadi tidak kasar dalam menangani isu kebijakan luar negeri yang dia anggap bermasalah. Suka atau tidak, Iran kini menjadi pemain penting di Timur Tengah, dan satu-satunya cara untuk melemahkannya dengan memperkuat sekutu regionalnya seperti Arab Saudi. Obama sebaliknya ragu untuk mendukung sekutu tradisionalnya dan justru memperkuat Iran. Trump mungkin memutuskan untuk menyeimbangkan kembali dengan mendukung Saudi, namun akan menghadapi mesin birokratik Washington yang rumit.

Trump dan Irak

Kebijakan Trump atas Irak tidak akan berubah dari apa yang ditempuh Amerika sejak 2003, meskipun ada sedikit beberapa isu luar negeri yang tidak penting, seperti dukungan untuk Saudi, yang mungkin akan membawa efek samping. Sekutisasi masalah Irak berarti bahwa rakyat Irak akan mengalami dehumanisasi dan akan selalu ada obsesi Amerika dengan Daesh atau kelompok sejenis Al Qaeda yang akan terus ada di Irak jauh setelah Daesh terusir dari Mosul (walaupun jalan itu masih panjang).

Trump tidak mungkin menekan rejim zona biru Irak untuk lebih terbuka dan tidak mengeksploitasi isu sektarian. Banyak alasan untuk itu, setidaknya karena ada ancaman Daesh yang selalu digunakan pemerintah Irak dukungan Iran untuk menempatkan dirinya sebagai garda depan melawan serangan teroris di dunia Barat. Faktor ini tidak pelak akan mendorong Trump terus mendukung rejim Baghdad dengan senjata, tidak peduli apakah faktanya senjata tersebut digunakan untuk memerangi rakyatnya sendiri. Cara ini tidak ada bedanya dengan kebijakan Obama sekarang ini.

Hal yang lucu adalah keinginan Obama untuk secara cepat menghancurkan Daesh dalam rangka menyelamatkan warisannya sebelum keluar dari Gedung Putih. Ternyata satu-satunya warisan kepresidenan Obama yang tertinggal adalah Trump. Kegagalannya untuk bertindak cepat, baik di dalam negeri dan luar negeri mendorong para pemilih Amerika mengecam pemerintahahnya, sehingga menyebabkan Trump menjadi presiden terpilih. Waktu akan memberitahu kita betapa buruknya kekuasaan Trump nanti, namun ada sedikit keraguan bahwa dia tidak mungkin lebih buruk dari menjadikan Hillary Clinton presiden di tengah impinan “dunia bebas” yang masih ada.

 

 

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *