Dari Gerakan Keagamaan Menjadi Gerakan Teror

*Erhan Erken

Pertama kali saya mendengar nama Fethullah Gulen ketika saya berada di SMA pada akhir 1970-an. Jika saya tidak lupa, teman saya memberikan salah satu kasetnya kepada saya dan dari sini, saya mendengar tentang beliay. Pada saat itu, khotbah para khatib di Masjid biasa direkam dan digandakan.

Khutbah Fethullah Gülen menawan. Kadang menjelaskan kebenaran Islam dengan contoh yang mengejutkan, biasanya dari kehidupan Nabi SAW dan para sahabatnya. Apa yang sangat mempengaruhi saya diantara kaset-kasetnya adalah khutbah tentang Generasi Emas yang sangat populer pada waktu itu. Hal yang disebutkan dalam khutbahnya pada waktu itu adalah penjelasan tentang peristiwa yang terjadi dalam Perang Dunia II. Dia menjelaskan secara detail sebuah perintah yang diberikan oleh seorang komandan Jerman yang sedang berperang dengan Rusia. Dia memerintahkan tentaranya untuk menyeberangi rawa. Dia mengirim beberapa tank untuk masuk rawa, satu hingga empat tank tenggelam bersama para prajuritnya di dasar rawa, namun tank berikutnya berhasil ke tujuan. Kisah yang dituturkan dalam kaset itu sangat luar biasa.

“Kamu lihat,” kata Fethullah Gulem. “Generasi Emas harus seperti pasukan yang masuk ke rawa tanpa ragu. Jika kamu dan kita dapat menjadi seperti mereka, maka orang-orang setelah kamu akan hidup lebih tenang dan mudah.” Apa yang disebutkan dalam kisah ini adalah contoh altruisme (kebajikan) yang luar biasa. Pertama kali saya bertemu dengan pengikut Fethullah Gullen pada 1980 ketika masuk Universitas Bosphorus. Mereka -para mahasiswa itu membaca Risalah Nur karya Said Nursi yang juga dikenal sebagai guru Fethullah Gulen, adalah tipe mahasiswa yang tidak nampak ke permukaan dan biasanya tidak bersedia bergabung dengan kegiatan keislaman yang kita selenggarakan di kampus. Mereka menjaga jarak dengan lainnya. Meskipun kami berupaya keras, kami tidak dapat mengajak mereka bergabung dalam kegiatan sosial kami. Biasanya, pada saat kami menyelenggarakan kegiatan, maka para senior mereka akan menyelenggarakan kegiatan lainnya sehingga para yunior mereka tidak berkesempatan hadir dalam acara-acara kami. Kami sering mengundang mereka, namun hanya sedikit dari mereka yang dapat hadir. Kami sering menanyakan hal itu pada para senior mereka, namun kami tidak mendapatkan jawaban.

Mereka biasanya berkata bahwa “Teman-teman jangan paksa kami hadir dalam kegiatan-kegiatan tersebut.” Jujur saja, saya tidak tahu alasan mereka dan juga tidak menyukai caranya juga. Namun dengan kondisi pada waktu itu, kami percaya tidak banyak manfaat berselisih dengan mereka, disaat masih banyak mahasiswa di Turki yang tidak shalat.

Pada awal periode 1980-an, ada trend di kalangan pengikut Gulen atau sering disebut gerakan Hizmet berpaling ke Ilmu Pengetahuan Dasar. Mereka yang belajar di fakultas teknis akan mengikuti ujian masuk universitas untuk mengambil  kembali studi Ilmu Pengetahuan Dasar. Ketika saya tanya alasannya, mereka hanya mengatakan karena didorong jamaah untuk menjadi guru. Kemudian ketika kami melihat banyak sekolah dan lembaga pendidikan yang dibuka di Turki dan di luar negeri, kami baru paham maksud dari dorongan tersebut. Dunia pendidikan  menjadi perjuangan awal mereka di organisasi.

Memanfaatkan Sistem Ketundukan Total

Pertama dan sekali saya bertemu dengan Fethullah Gulen pada 1996 ketika saya dan kelompok teman-teman saya berhaji ke Mekah. Kami bertemu dengan beliau di Mina. Salah satu dari teman saya memprakarsai pertemuan tersebut. Ini menjadi perbincangan yang panjang. Saya tanyakan kepada beliau mengapa para anggota gerakan ini tidak mau menghadiri kegiatan kami di universitas dan mengapa tidak ada iklim persatuan di antara kita karena bagi kami ini agenda yang penting. Tentu, kami bertanya dalam rangka mengenal beliau lebih mendalam. Kadang-kadang, intonasi kami mengeras, karena salah satu rekan kami membacakan surat al Kafirun atas permintaan beliau.  Hal ini yang menjadikan kami tersinggung. Kami melihat orang-orang yang hadir dalam pertemuan itu tidak menyukai kami, sehingga kami putuskan meninggalkan pertemuan tersebut.

Hal penting yang saya dapatkan dari pertemuan itu adalah pandangan yang merefleksikan gagasannya seperti dalam khotbahnya di kemudian hari. Pernah, dia marah dan mengatakan, “Tak seorangpun dapat meninggalkan saya dan teman-teman saya menyerang sebelum saya siap. Saya punya pengikut yang taat total dan saya akan mengendalikan beberapa kementerian di Turki.

Pernyataan itu menjelaskan siapa Fethullah Gulen. Dia melakukan tindakan besar. Dia ingin menghancurkan struktur Kemalis yang kokoh yang bercokol di Turki sejak kejatuhan Usmani. Dia ingin merebut beberapa posisi itu untuk para pengikutnya. Hanya dia telah mempersiapkannya jauh-jauh hari.

Ketika mengkaji gerakan ini dari luar, sekalipun  kita tidak tahu apa yang menjadi tujuan dan kepentingan gerakan ini, setidaknya menjelaskan:

Mereka mengonsentrasikan pada pengembangan lembaga pendidikan ekstra sekolah untuk mempersiapkan ujian masuk SMA dan perguruan tinggi. Kemudian mereka berkembang menjadi sekolah-sekolah swasta. Mereka juga membuka sekolah di luar negeri. Proses ini menarik dukungan dan bantuan pemerintah dan swasta.

Kemudian mereka mulai mengembangkan lembaga-lembaga ekonomi. Mereka mendirikan lembaga-lembaga keuangan. Maka terlihat keterkaitan lembaga-lembaga ekonomi mereka dengan pendidikan. Kami mendengar bahwa mereka mengikatkan sekolah-sekolah mereka di pelbagai kota di Turki dengan sekolah-sekolah di luar negeri dengan ikatan persaudaraan. Mereka menganggap masing-masing sekolah di Turki bertanggung jawab dengan sekolah-sekolah di luar negeri. Mereka menugaskan sekolah-sekolah tersebut untuk menangani sekolah-sekolah tadi dalam pelbagai aspeknya.

Seperti dikatakan Gulen dalam percakapan kami, mereka menjalankan penyediaan SDM secara diam-diam dalam lembaga-lembaga pemerintah selama bertahun-tahun. Mereka mendirikan koran, majalah dan TV di Turki dan luar negeri.

Waldo, Mengapa Kamu Tidak Disini?

Ketika saya mulai aktif di MUSIAD pada 1990-an, saya berkesempatan mengamati gerakan ini dari luar. Mereka masih tetap menampakkan perilaku yang sama seperti ketika mereka masih di kampus. Mereka memiliki agenda sendiri dan tidak mungkin ada hubungan dekat antara MUSIAD dengan aktivitas ekonomi mereka.

Pada 1995, ketika pemilihan ketua kamar dagang Istanbul, dimana MUSIAD berkeinginan masuk di dalamnya, banyak para pebisnis yang tergabung dalam Gerakan Hizmet tidak bersedia mendukung keinginan tersebut, sehingga kami sebut mereka sebagai Müstakil (Kelompok yang Mengisolasi Diri). Bahkan dalam beberapa kesempatan, mereka bergabung dengan lawan kami dari kubu sekuler. Kami tidak mengerti perilaku aneh para pebisnis yang kita kenal baik selama ini sehingga hal itu  menjadi kesedihan kami.

Dalam satu terbitan buletin MUSIAD pada 1995, saya menulis artikel yang menceritakan keluhan yang saya rasakan pada waktu itu. Saya menceritakan anekdot dari salah buku İsmet Özel’ yang berjudul, “Waldo, Mengapa Kamu Tidak Disini?”. Anekdot itu kurang lebihnya;

“Henry Thoreau dijebloskan ke penjara semalam karena dia menolak bayar pajak yang diwajibkan atas setiap orang selama perang AS melawan Meksiko dengan alasan bahwa “dia tidak ingin uangnya digunakan untuk membunuh orang”. Temannya Ralph Waldo Emerson yang 14 tahun lebih tua dan juga punya pikiran libertarian seperti dirinya menjenguknya. Dalam penjara, mereka saling berbincang:

“Henry mengapa kamu disini”

“Waldo mengapa kamu tidak disini?”

Teman yang kita anggap teman adalah Waldo pada waktu itu dan mereka meninggalkan kita sendiri. Setelah itu, saat kudeta 28 Februari, kami juga sedih dengan sikap  mereka. Ketika ada masalah hijab di universitas, mereka juga berbuat yang sama.

Meski saya tidak memiliki kontak struktural dengan mereka, saya selalu mengamati tindak tanduk mereka. Saya menghargai upaya mereka mendidik anak-anak kita dengan agama. Mereka mendakwahkan Islam di banyak negara. Mereka berkorban secara individu dan dalam kelompok. Namun metode mereka, cara pendidikan mereka dan bagaimana mereka berinteraksi dengan Muslim lainnya sangat mengecewakan saya. Dengan cara saya sendiri, saya ingin menilai tindakan mereka. Banyak kelompok dalam komunitas Muslimin, namun kita tidak memiliki mekanisme mengatur langkah bersama diantara mereka. Pada awal abad 20 ketika kekhalifahan Usmani dihapus, kita kehilangan kesempatan mengumpulkan kaum Muslimin dibawah satu bendera. Meskipun saya mengkritik sikap mereka, saya tidak mempedulikan hal itu. Saya biarkan mereka dengan aktivitas mereka. Saya tidak menyetujui sikap berlebihan dalam mengkritik mereka, apalagi mencegah aktivitas mereka jika punya kesempatan.

Saya selalu menyarankan kepada orang-orang disekitar saya, “Tinggalkan mereka, jangan ikut campur dengan kegiatan mereka, biarkan mereka memutuskan sendiri.”

 Periode AK Parti dan Gerakan Hizmet

Selama pemerintah AKP, penerintah dan gerakan Hizmet sangat dekat. Pemerintah memandang eksistensi para pendukung Hizmet dalam birokrasi adalah urusan internal gerakan. Dalam periode tersebut, hubungan dengan mereka berjalan  baik. Beberapa aksi politik yang sukses dilakukan  bersama-sama. Hizmet masuk dunia politik secara langsung yang tidak pernah dilakukan sebelumnya sejak era Said Nursi.

“Kebanggan komunitas” dan “sikap yang tidak menghargai” terhadap gerakan lain telah ada sejak awal gerakan ini dan semakin tampak nyata dari waktu ke waktu.  Ketika pengaruh mereka di dalam negeri dan luar negeri semakin meningkat, mereka mulai masuk ke struktur persis seperti pernyataan yang disampaikannya pada 1986.  Dengan memanfaatkan sistem yang sama, Fethullah Gulen membangun jaringan di luar negeri.

Tentu, sementara mereka mencoba menggunakan sistem ini, maka tidak dapat diabaikan pula jika mereka juga dimanfaatkan. Ini semacam bentuk permainan, selalu ada kemungkinan “menjadi buruan ketika ingin menjadi pemburu.

Ketika mereka semakin besar, gerakan ini berpindah dari titik awalnya dan berganti dengan gaya hidup yang berbeda.

Pertama kalinya, ketika majalah pertama mereka diterbitkan, gerakan ini masih memperdebatkan boleh tidaknya mengambil gambar orang dan  memutuskan bolehnya hal itu dilakukan. Kemudian, mereka beranjak ke isu-isu yang lebih besar. Di awal khotbahnya, Gulen sangat memperhatikan wajibnya memakai busana Muslimah, namun kemudian dia menganggap isu jilbab bukan lagi masalah penting dalam agama. Saya pernah juga mendengar bahwa Gulen memperbolehkan pengikutnya bersholat hanya dengan niat, atau bahkan tidak sholat dan boleh meminum alkohol untuk kepentingan gerakan jika hal itu dianggap penting. Namun kita kemudian melihat banyak contoh semakin jauhnya penyimpangan gerakan ini.

Gerakan Fethullah Gulen mulai berseberangan dengan pemerintah sejak 2011. Tentu pemerintah tahu, namun tidak terbuka. Namun kita melihat perkembangannya setelah itu.

Peran penting  pemerintahan AKP dan Presiden Recep Tayyip Erdogan bagi Turki dan dunia internasional dengan independensinya menarik kepentingan yang sama antara gerakan ini dengan negara-negara besar . Pada titik ini pula, Erdogan akhirnya menjadi musuh Fethullah Gülen dan kelompoknya. Pemakaian istilah “pria tinggi” untuk seorang pemimpin yang dipilih hampir separo rakyat Turki ini menjelaskan derajat ketidaksukaan mereka.

Pertikaian ini semakin nampak pada periode 17-25 Desember 2013 dan  berujung kepada percobaan kudeta berdarah. Tidak banyak menduga, termasuk saya jika hal ini terjadi. Komunitas yang mengklaim dapat menjadikan manusia damai dan dekat dengan Tuhan dan telah bekerja mewujudkan cita-citanya selama 40 tahun, pada akhirnya menyerang orang yang sama, yang juga memiliki harapan yang sama dengan senjata, tank dan bahkan pesawat tempur.

Kini, gerakan itu menjadi organisasi teror (FETO) yang menyebabkan banyak orang ditangkap. Gerakan ini berubah dari gerakan pendidikan menjadi sebuah organisasi yang dikutuk  jutaan rakyat Turki dan  dunia.

Pada titik ini, saya akan mengajukan pertanyaan mendasar:

“Apakah Fethullah Gulen dan kelompoknya dengan proyeknya a hingga z sengaja dibangun oleh kekuatan asing sejak mula?”

“Ataukah gerakan ini murni di awalnya namun seiring  waktu, akhirnya menjadi boneka kekuasaan atau kuda troya bagi kekuatan asing karena karakter fanatik buta pengikutnya?”

Bagi saya, jawaban yang tepat atas pertanyaan ini akan memungkinkan kita menangani masalah ini dengan lebih baik. Bagi saya, pilihan pertanyaan kedua lebih pas, walaupun sebagian orang juga memiliki argumen yang pertama.

Dan Kepedihan Berakhir

Tidak masalah pilihan apa yang diambil, kini kita masuk dalam kesimpulan bahwa kelompok ini bukan kelompok keagamaan lagi, namun lebih merupakan organisasi teror bersenjata.  Contoh tank Jerman yang tenggelam di rawa-rawa seperti yang disampaikan Fethullah Gulen dalam khutbahnya 40 tahun yang lalu kini muncul sebagai tank yang ditembakkan ke rakyat dan menjadi ironi bagi gerakan ini setelah 40 tahun. Mekanisme birokrasi yang dia telah isi selama bertahun-tahun kini dibersihkan dari pengikutnya. Insya Allah akan diganti oleh para staff yang tidak dikendalikan oleh orang yang salah.

Semoga Allah melindungi kita dari kejahatan dan membantu kita dengan pelajaran dari pengalaman kita.

Amiin.

*Kolomnis worldbulletin.ent

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *