Dari Presiden Hingga Orang Gilanya, Israel adalah Negara Apartheid

*Yvonne Redley

Jika ada satu hal yang anda dapat katakan yang digaransi akan membuat berdetak Israel adalah kata A: ya, Apartheid. Tel Avib tidak pernah memaafkan mantan Presiden AS Jimmy Carter karena tidak hanya menggunakan kata ini ketika menyebut kebijakan Israel, namun juga memasukkannya dalam buku yang best selling-nya yang berjudul “Palestina: Perdamaian, bukan Apartheid.”

Sejak itu, para spin doctor Zionis menyerang, menganggap tidak ada dan merusak pencapaian Carter, termasuk upayanya sebagai fasilitator perdamaian. Orang yang dapat membayangkan bagaimana reaksi Israel ketika presiden terpilih AS menunjuk timnya.

Trump akan membuat heboh ketika mengumumkan bahwa dirinya sedang mempertimbangkan mantan Jenderal Marinir AS, James Mattis sebagai Menhan-nya. Dikenal dilingkaran terdekatnya sebagai “Mad Dog Mattis”, dia pernah mengatakan bahwa pembangunan permukiman ilegal di wilayah pendudukan Tepi Barat akan mengubah “Israel menjadi negara apartheid”. Dia juga dikutip pernah mengatakan Amerika membayar mahal karena dukungannya atas negara Zionis.

Meskipun biodatanya yang anti Zionis, Mattis dan Trump telah berjumpa di akhir pekan dan para jurnalis diberitahu secara off the record, bahwa mantan marinir ini dapat dipertimbangkan sebagai kandidat utama untuk jabatan tinggi di sektor pertahanan AS ini. Ketika Trump ditanya para wartawan lebih detail, dia hanya menjawab: “Semua yang dapat saya katakan adalah bahwa dia adalah pilihan yang bagus. Dia pilihan bagus.”

Mattis adalah kepala Komandan Pusat (CentCom) AS dari Agustus 2010 hingga Maret 2013 dan pekerjaannya melibatkan Timur Tengah. Setelah pensiun dia berpidato di Aspen Security Forum di Colorado: “Saya membayar harga keamanan militer setiap hari sebagai komandan CentCom karena Amerika dilihat bias dalam dukungannya kepada Israel dan  orang Arab moderat yang ingin bersama kita tidak bisa muncul untuk mendapatkan dukungan masyarakat karena AS  tidak menghormati bangsa Arab Palestina.”

Pandangannya mengkerutkan alis para pendukung Israel dan komentator media. Dia selanjutnya mengkritik bahwa negara Zionis lepas kontrol dalam membangun permukiman ilegal di tanah rakyat Palestina, serta mejelaskan bahwa manuber ini “akan menjadikan sulit untuk menjalankan opsi dua negara.”

Permukiman ilegal, tandasnya, merusak Israel baik sebagai negara demokratis maupun Yahudi.  Kemudian dia menggunakan kata A: “Jika saya berada di Yerusalem dan saya menempatkan 500 pemukim Yahudi disini di bagian timur dan ada 10 ribu warga Arab disana, jika kemudian menarik garis tapal batas dengan memasukkan mereka, maka hanya ada pilihan Israel tidak lagi menjadi negara Yahudi atau anda dapat mengatakan Arab tidak boleh memberikan suara dalam pemilu -maka itu apartheid.”

Dalam dunia yang serba terbalik karena kemenangan Donald Trump, para analis politik di kedua pihak akan mengamati dengan seksama setiap kata yang diucapkan Mattis. Orang gila atau bukan, akan tampak bahwa Timru Tengah akan bergetar karena daya pegasnya yang bersifat merusak, meskipun penerima manfaatnya masih dapat dilihat.

Pada saat ini, tidak ada yang cukup membingungkan sebingung kelompok Friends of Israel, yang ada banyak di Westminster dan Capitol Hall. Mereka dapat dengan mudah diidentifikasi sebagai kelompok yang akan mengecam kata A dimanapun dan kapanpun istilah tersebut digunakan.Misalnya, Michael Gove berbicara lantang ketika dia menjadi menteri kehakiman Inggris sebelum diganti. Dia melancarkan serangan kepada gerakan BDS (Boikot, Divestasi dan Sanksi) dalam demo kelompok pro Israel di New York awal tahun ini karena “menyamakan Israel dengan rejim apartheid Afrika Selatan, meskipun, Israel adalah negara yang memberi kesempatan kepada semua penduduknya-apapun latar belakang dan apapun etniknya. Negara dengan para politisi Arab di Knesset dan pengacara Arab di Mahkamah Agung.”

Para politisi penjilat seperti dirinya yang berada dalam genggaman Tel Aviv mungkin akan kaget dengan beberapa penunjukkan Trump. Apakah mereka akan beresiko berhadapan dengan orang terkuat di dunia dan orang gilanya untuk mendukung negara Zionis atau mereka kemudian berpindah haluan jika ternyata kata A digunakan dalam lingkaran politik mereka dan berharap imbalan dan perjalanan gratis ke Israel tidak akan berhenti?

Kolumnis Haaretz Bradley Burston dihormati media Israel, dia tidak punya kepentingan untuk hal itu. Pernah menjabat sebagai koresponden militer dan Gaza untuk koran sayap kanan Jerusalem Post dan kemudian Reuters, dia menulis bahwa sudah waktunya untuk mengakui bahwa kebijakan Israel bersifat apartheid. “Saya bisa menjadi salah satu dari orang-orang yang melawan isu apartheid ketika diterapkan atas Israel,” tulis Burston pada 2015. “Saya adalah salah satu diantara orang yang dapat diandalkan untuk membantah, sementara permukiman dan kebijakan pendudukan dianggap anti demokrasi, brutal dan upaya bunuh diri pelan-pelan, kata apartheid tidak bisa diterapkan. Saya bukan orang seperti itu lagi.”

Apa yang mengubah pandangan jurnalis terkemuka ini? Karena bom molotov yang dilemparkan para pemukim Israel atas rumah warga Palestina di Tepi Barat, telah memusnahkan sebuah keluarga, menewaskan ayah dan anaknya berusia 18 bulan, membakar ibunya hingga 90 persen. Keluarga tersebut tidak mendapatkan kompensasi keuangan karena menjadi korban aksi terorisme warga Israel, termasuk para pemukim ilegal.

Burston menambahkan bahwa dia tidak dapat “berpura-pura” lagi. “Tidak lagi setelah Menteri Kehakiman Israel Ayalet Shaked, secara eksplisit mengatakan bahwa pelempar batu dapat disebut sebagai aksi terorisme yang dapat dihukum 20 tahun penjara. Hukum tersebut ternyata hanya menarget para pelempar batu Palestina, namun bukan warga Israel. Baru sepekan kemudian, ketika para Yahudi pro permukiman melempari batu dan botol air kencing kepada para prajurit dan polisi Israel di Tepi Barat, Netanyahu kemudian mengganjar mereka hukuman dengan janji untuk membangunkan ratusan permukiman baru bagi mereka. Inilah hukum yang berlaku. Ada dua aturan hukum, satu untuk kita dan satu untuk mereka. Apartheid.”

Donald Trump adalah presiden AS terpilih karena dia menangkap aspirasi kemarahan kelas pekerja dengan mengatakan apa dayanya. Jutaan kita sedang menunggu dengan nafas tersengal siapa yang akan keluar dari Trump Tower, termasuk kelompok pro Israel.

Israel adalah rejim yang menerapkan kebijakan apartheid di Palestina, maka jelas sebagai negara apatheid. Trump membanggakan dirinya karena “berbicara apa adanya”, namun dia harus berbuat lebih dari itu. Dia dapat berbicara apa saja , namun dapatkan dia mewujudkannya dan membuat perubahan yang nyata? Mari kita lihat.

 

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *