Demo Kebijakan Anti Muslim Trump Semakin Meluas di AS

Demonstrasi menentang kebijakan Presiden Donald Trump melarang warga tujuh negara Muslim masuk AS terus meluas. Aksi-anti-Trump meledak pada Minggu (29/1) waktu setempat, dimana puluhan ribu orang melakukan unjuk rasa di beberapa kota dan bandara, sehingga sempat membuat kekacauan.

Salah satu unjuk rasa terbesar di Battery Park, pusat kota Manhattan, di lingkungan patung Liberty di pelabuhan kota New York sebagai simbol selamat datang di Pantai AS. Senator Partai Demokrat New York Charles Schumer di tengah-tengah massa menyatakan kebijakan Trump tidak menunjukkan sebagai bangsa Amerika dan bertentangan dengan nilai-nilai pokok negara itu.

“Apa yang kami katakan mengenai kehidupan dan kematian di sini untuk begitu banyak orang,” kata pemimpin senat dari Partai Demokrat itu. Senator Chuck Schumer sempat mengatakan larangan Trump seperti: “Air mata mengalir di pipi Patung Liberty”.

Sejumlah Senator dari Partai Republik, pendukung Trump juga meminta sang presiden mencabut larangan itu dengan menyebut sebagai kebijakan anti-Muslim. Senator Republik lainnya, John McCain dan Lindsey Graham yang merupakan pensiunan pejabat militer memperingatkan kebijakan imigrasi Trump akan melukai perang melawan terorisme.

Keduanya menyatakan kerjasama intelijen dan kontra terorisme dengan sekutu Arab bisa terancam akibat hubungan makin memburuk. Contohnya, Uni Emirat Arab (UEA), pusat komunikasi digital dalam melawan propaganda ISIS dan koordinasi dengan intelijen Saudi berperan penting dalam menggagalkan sebuah rencana untuk meledakkan dua pesawat kargo AS pada 2010.

Koran Nasional UEA melaporkan mengatakan bukan hanya tidak menghormati orang-orang yang telah memberikan hidup mereka, tetapi juga melemahkan aliansi yang diperlukan untuk menghentikan serangan lebih lanjut di Timur Tengah.

Sedangkan Goldman Sachs, salah satu perusahaan besar AS, Senin (30/1) bergabung dengan perusahaan raksasa lainnya untuk memprotes kebijakan Trump. Lloyd Blankfein, Kepala Eksekutif Goldman Sachs yang telah mendudukkan sejumlah pejabat senior di pemerintahan Trump menyampaikan keprihatinannya.

Sementara itu, salah satu pendiri perusahaan raksasa teknologi, Google, Sergey Brin, turut berunjuk rasa bersama ratusan demonstran di bandara internasional San Francisco.

Seperti dilansir USA Today, Ahad, 29 Januari 2017, Brin yang merupakan imigran di Amerika Serikat, menentang larangan sementara terhadap pengungsi dan warga dari tujuh negara muslim yang diteken Presiden Donald Trump untuk memasuki Negeri Paman Sam.

Para demonstran membawa poster bertuliskan “Nenek moyang saya beruntung” dan “Satu Bumi, Satu Rakyat, Satu Cinta.” Saat jumlah demonstran membengkak hingga sekitar seribu orang, akses kendaraan menuju terminal kedatangan internasional pun terhalang.

“Orang tua saya datang dari Iran sebelum saya lahir,” kata Samin Nosrat, 37 tahun, seorang demonstran, kepada San Francisco Chronicle. “Saya anak pengungsi. Jika mereka dilarang masuk, saya tidak tahu bagaimana nasib saya.”

Buzz Frahn, seorang pengacara imigrasi dari Palo Alto, merupakan salah satu yang turut berdemonstrasi sekaligus membantu imigran yang terjebak di dalam bandara.

Sedikitnya lima orang yang ditahan otoritas bandara San Fransisco berasal dari Iran.

Dalam pernyataannya, Wali Kota San Francisco Ed Lee menyebut larangan ini “menjijikkan.”

“Sebagai anak imigran Cina, saya sangat jijik oleh perintah Presiden yang membidik komunitas muslim dan melarang imigran memasuki Amerika Serikat.”

Dalam memo kepada staf, Direktur Google Sundar Pichai menyatakan larangan ini mempengaruhi 200 stafnya.

Protes terhadap aturan ini juga dilontarkan petinggi perusahaan raksasa teknologi, seperti Facebook, Apple, Microsoft, Uber, dan Netflix, karena berdampak pada karyawan mereka.
“Kita menerima manfaat dari pengungsi dan imigran yang datang ke AS,” kicau Direktur Twitter Jack Dorsey.

“Ini bukan kebijakan yang kita dukung dan saya harus mencatat, telah ditentang pengadilan federal,” ujarnya. Tetapi, Presiden Donald Trump pada Senin (30/1) membantah kebijakan imigrasinya sebagai penyebab kekacauan di bandara, tetapi adanya gangguan komputer, pengunjuk rasa dan “air mata Senator Schumer.”

“Tidak ada yang baik tentang mencari teroris sebelum mereka dapat masuk ke negara ini,” tulis Trump. “Ini adalah bagian besar dari kampanye saya. Jenjang dunia!.” Dalam tweet lain, Trump membela keputusannya untuk mengambil tindakan cepat atas larangan perjalanan dengan mengatakan ada banyak yang buruk di luar sana.

Trump menangguhkan semua imigrasi untuk warga tujuh negara Muslim selama 90 hari yakni Irak, Suriah, Iran, Sudan, Libya, Somalia dan Yaman. Di Irak, dua anggota parlemen mengatakan parlemen Irak telah menyetujui balasan dengan membatasi masuknya Amerika ke Irak.

Sementara itu, tidak jelas bagaimana Trump akan membuat bangsa lebih aman, seperti mengatasi ekstrimis dalam negeri. Tetapi, Trump menyatakan hanya 109 dari 325.000 orang yang ditahan untuk diinterogasi dari tujuh negara mayoritas Muslim.

Sebelumnya, seorang hakim federal di New York telah mengeluarkan perintah darurat sementara pembatasan deportasi orang-orang dari tujuh negara Muslim. Tetapi, Departemen Keamanan Dalam Negeri mengatakan putusan pengadilan tidak akan mempengaruhi kebijakan Gedung Putih.

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *