Donald Trump: Selamat Datang Presiden Islamophobia

*Khaled Beydoun

51 Persen Rakyat Amerika Mendukung Larangan Muslim Masuk Amerika.

Islamophobia menang telak malam itu. Bukannya presiden perempuan yang terpilih, rakyat Amerika ternyata memilih presiden Islamophobia pertama.

Dari awal hingga akhir, pemilihan presiden 2016 secara gamblang mengungkapkan bahwa Islamophobia benar-benar ada dan kuat di Amerika. Mengkambinghitamkan Islam dan Muslim lebih dari sekedar pesan kampanye Donald Trump, namun merupakan strategi untuk menang.

Kampanye Islamophobia Trump menggema sangat kuat ditengah para pemilihnya. Lebih dari itu, mampu memobilisasi segmen besar rakyat Amerika untuk memilihnya.

Pemilu Presiden Amerika. Donald Trump Menang

Kampanyenya menang di Ohio, Florida, Carolina Utara yang biasanya menjadi ajang pertarungan diantara kandidat.

Jauh sebelum pemilihan, sejumlah kenaikan suara Trump didapatkan dari strategi kampanyenya yang anti Islam.

Polling NBC yang dilakukan pada Desember 2015 mendapati bahwa 25 persen rakyat Amerika mendukung usulan Trump untuk melarang Muslim. Polling Maret 2016, dukungan semakin meningkat menjadi 51 persen, “hingga para wakil kita dapat menjelaskan apa yang sebenarnya telah terjadi.”

Trump menginterpretasikan angka ini sebagai dukungan kuat untuk kampanye Islamophobia-nya.

Dia menangkap apa yang dituntut pasar, oleh karena itu semakin meningkatkan retorika anti Muslimnya. Dia semakin menebarkan retorika Islamophobianya berdasarkan kemarahan rakyat, seperti yang terlihat dari hasil pemilu, adanya mayoritas kulit putih yang anti Islam namun lebih banyak diam.

Trump menang karena dia ingin menyampaikan pesan Islamphobia secara terang-terangan, tidak seperti para pendahulu Republikan sebelumnya yang samar.

Bukannya menempuh cara George W Bush atau Mitt Romney yang berhati-hati menyampaikan pesan Islamophobia-nya atau Barack Obama maupun Hillary Clinton yang menyebut Muslim dari lensa kebijakan keamanan nasionalnya, kini Trump jalan dengan caranya sendiri.

Dia meninggalkan sama sekali retorika peredaman gejolak, yang biasanya memberi tempat kepada liberal dan moderat dalam pesannya. Dia tidak hendak memberikan penilaian seperti “cinta perdamaian” dan “moderat” ketika membicarakan tentang Muslim.

Kenyataannya, Trump menyingkirkan semua tata krama politik dan bahkan secara seksama memberikan gambaran yang terus terang kepada akar rumputnya yang tampak membenci Muslim.

Islam bagi Trump tidak digambarkan sebagai agama damai, namun “Islam yang membenci kita“, dan gambaran ini tidak pelak memberikan jawaban kepada para pemilihnya apa yang mereka inginkan.

Dia menggunakan bahasa kebencian seperti halnya pawai pembakaran Al Qur’an, protes anti masjid, dan kemungkinan yang paling busuknya adalah Trump lebih tampak seperti pembenci Islam yang riil di lapangan yang hendak langsung membakar masjid, bukannya seperti pembenci Islam di meja-meja pemerintahan yang mendukung gagasan pengawasan masjid-masjid.

Kampanye presiden ini membayangi apa yang akan terjadi berikutnya. Kejahatan kebencian terhadap Muslim telah meningkat pada 2015, dan statistik menunjukkan trend yang sama pada 2016. Jika kampanye presiden Trump berdampak kepada semakin meningkatnya angka kejahatan kebencian yang belum pernah ada sebelumnya terhadap Muslim. Orang hanya dapat membayangkan apa yang akan terjadi ketika Trump benar-benar menjadi presiden.

Mungkin Trump akan memperluas pengawasan negara, dimana kebijakan konter radikalisasi dalam komunitas Muslim akan semakin luas dan meliputi apa saja. Ini akan menjadikan kehidupan Muslim menjadi lebih sulit untuk beribadah secara lebih bebas dan segala simbol bagi identitas Muslim akan memantik kecurigaan.

Trump juga akan keras kepada imigran Muslim dan mungkin juga akan sepenuhnya melarang para pengungsi dari negara-negara yang terkoyak perang. Oleh karena itu, seandainya pelarangan Muslim  tidak jadi diundangkan, namun akan ada kebijakan keras yang menghambat masuknya imigran Muslim. Trump akan menjadikan pemerintahannya kosong baik dari para Muslim Amerika ataupun individu yang mendukung kebijakan ramah terhadap Muslim. Kampanye Trump minim keterlibatan Muslim Amerika, maka pemerintahannya-pun akan tampak demikian.

Yang lebih membahayakan, Trump akan memanfaatkan gerakan budaya dimana para pejabat pemerintahan memberikan jalan bagi bangkitnya diskriminasi dan kekerasan terhadap Muslim Amerika. Jika presiden AS adalah dalang bagi Islamophobia, maka penyerangan terhadap Muslim, pembakaran masjid dan serangan terhadap seseorang yang kelihatan seperti Muslim akan menjadi hal yang biasa.

Apa yang tampak sebagai gagasan pada kenyataannya menjadi pertanda Amerika ke depan. Absurditas akan menjadi realitas. Islamophobia tidak lagi pesan kampanye atau strategi, namun menjadi kebijakan Gedung Putih yang formal dan frontal pada bulan Januari mendatang.

Saya melihat hasil pemilu malam itu bersama 200 Muslim Amerika di Dearborn, Michigan -konsentrasi penduduk Muslim di Amerika.

Ketakutan tampak jelas di wajah mereka. Orang-orang dewasa menangis. Anak-anak muda berdoa. Apa yang tampak di masa mendatang suram, jurang antara Muslim dan Amerika semakin melebar.

Selamat datang Donald Trump, Presiden Amerika. Siap-siap hadapi Muslim Amerika.

 

 

Khaled A Beydoun, profesor di Universitas Detroit Mercy School of Law. 

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *