Dua Kudeta: Plot yang Sama, Hasil yang Berbeda

*Mohammad Pervez Bilgrami

Plot kudeta internasional untuk menggulingkan pemerintah yang sah melalui tangan militer baru-baru ini menjelaskan bagaimana dua upaya kudeta pada abad ini menghasilkan dua hal yang berbeda.

Kudeta militer  pada 15 Juli di Turki tidak semulus kudeta 3 Juli 2013 di Mesir. Rakyat Turki yang pemberani menggagalkan invasi atas negeri ini, mengecewakan Amerika, Eropa dan beberapa kolaborator di Timur Tengah. Ada banyak kesedihan  di antara mereka setelah para pelaku kudeta gagal mengambil alih Turki.

Tidak dapat dibantah, ada banyak jejak tangan Pentagon dan CIA dalam kudeta yang gagal di Turki. Mereka  telah sukses di Mesir dan Mesir kini diperintah seperti laiknya koloni para penjajah asing. Meskipun para otak plot kudeta sama, namun kombinasi regionalnya berbeda. Biasanya, para pelaku dan pendukungnya adalah agen dan kaki tangan lokal.

Kedutaan AS di Ankara dalam pesan daruratnya kepada warga negara AS di Turki menyebut “ada pemberontakan”. Namun setelah itu, Menlu AS John Kerry menyampaikan kesedihannya dan merubah istilah “pemberontakan” dengan “kudeta yang gagal“. Kerry menggunakan segala istilah kecuali kata ‘demokrasi’ karena tahu bahwa gang kriminal internasional sedang menjalankan proyek jahatnya di Turki. Dia hanya mengharapkan “stabilitas, perdamaian dan kontinyuitas” di Turki. Sementara ibukota-ibukota Eropa tetap tutup mulut berjam-jam karena mereka tengah menunggu kabar (sukses kudeta) dari Istanbul maupun Ankara. Mereka baru  bersikap setelah kudeta benar-benar dikalahkan.

Markas CIA dan Pentagon di Abu Dhabi serta media yang dikontrol pemerintah menyebarkan berita bohong jika Presiden Erdogan melarikan diri ke luar negeri. Penguasa Abu Dhabi dan alat propagandanya menjadi kepanjangan kepentingan CIA dan para perekayasa kudeta di Pentagon. Patut dicatat bahwa Abdel Fattah al Sisi, kaki tangan AS dan Saudi, telah memblok upaya mengutuk percobaan kudeta di Turki.

Sekutu Barat yang hipokrit serta para diktator Timur Tengah dan monarki Arab tentu akan bersuka ria jika pemerintahan yang dipilih secara demokratis di Turki berhasil ditumbangkan. Sebagaimana mereka semua bersuka cita atas kehancuran, pembantaian dan penggulingan kekuasaan konstitusional di Mesir. Namun, ketika tidak ada lagi ancaman dari Mesir, maka kekuatan jahat itu menyiapkan target berikutnya.

Jelas bukan kudeta yang ditangisi para pemimpin NATO dan Uni Eropa, namun justru kegagalan kudeta itu sendiri. Turki dan Presiden Recep Tayyip Erdogan telah menunjukkan bagaimana demokrasi, good governance, pembangunan yang inklusif mereka telah menjadi kekuatan, prestasi, perdamaian dan kehormatan negerinya.

Barat yang hipokrit, karena islamophobia dan rasisme terpaksa memainkan permainan yang sama sekali tidak demokratis untuk menggulingkan pemerintah. Mereka tampaknya kemaruk dengan sukses yang telah dicapai di Mesir.

Peran historis rakyat Turki dalam menggagalkan kudeta membuktikan demokrasi di Turki sangat kuat. Keberanian yang luar biasa mereka menjadi contoh bagi sekelilingnya dan dunia. Rakyat Turki sendiri yang menjamin keberlangsungan demokrasi dan memberikan pelajaran yang tidak terlupakan kepada para otak kudeta.

Ada banyak faktor eksternal dan internal yang bekerja dalam destabilisasi Timur Tengah. Percobaan kudeta yang gagal di Turki tidak semata menjelaskan berapa banyak musuh yang berkumpul  selama satu setengah dekade pemerintahan Presiden Erdogan. Bagaimana dengan Mursi di Mesir? Dia bahkan tidak sempat membuat musuh. Kenyataannya yang ada adalah perbenturan ideologi dimana kekuatan imperialis  Barat berupaya menumbangkan para pemimpin yang independen yang berani menantang hegemoni mereka selama berabad-abad di kawasan itu.

Kudeta gagal ini juga menjelaskan bagaimana Amerika kehilangan kehebatannya dalam merekayasa kudeta militer. Pemimpin kudeta Fethullah Gulen telah lama menjadi aset yang dikendalikan CIA dan dengan demikian, kemungkinan AS mengekstradisi Gulen jelas sulit dilaksanakan. Kini FETO (Organisasi teror Gulenis) merepresentasikan jenis terburuk pengkhianatan.

Meskipun Mesir dan Turki secara struktur adalah dua negara yang berbeda, rakyat Turki telah menikmati buah demokrasi selama 14 tahun kepemimpinan AKP. Mereka telah menunjukkan kedewasaan berpolitik, kohesi sosial dan dinamisme masyarakatnya dalam melawan kudeta. Tidak seperti Mesir, semua kekuatan politik utama di Turki menentang kudeta. Kudeta di Mesir 2013, kurang lebihnya sama dengan kudeta di Turki pada 1980-an.

Bukti dan tanda yang kuat adalah CIA-Pentagon berada di balik rekayasa kudeta di Turki. Amerika dan Eropa membangun begitu banyak aset yang mematikan di pelbagai sektor di Turki. Pesan dari ibukota Barat baru tampak jelas setelah kudeta gagal.  Amerika dan Barat baru kemudian berupaya menyesuaikan realitas yang ada, namun demikian, medianya tetap menyerang Turki.

Setelah sukses melumpuhkan Mesir sebelum kebangkitannya, Amerika mencoba plot yang sama diTurki. CIA, Pentagon dan gang kriminal internasional jelas tidak mau duduk diam. Pertahanan dan tindakan yang tegas harus dilakukan untuk memastikan para musuh-musuh tersebut dapat dilumpuhkan dan jika perlu dimusnahkan. Turki harus menang melawan kekuatan yang merusak  sistem demokrasi dan stabilitasnya.

 

Sumber

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *