Duta Besar Rusia Ditembak Mati di Ankara

Duta Besar Rusia untuk Turki, Andrey Karlov ditembak mati saat hadir dalam  pameran seni di ibukota Ankara pada 19 Desember.

Karlov ditembak saat berpidato di acara pameran foto, ungkap rilis Kedutaan Rusia dan mencurigai aksi tersebut dilakukan kelompok radikal Islam.

Juru bicara Kementeriaan Luar Negeri Rusia juga mengumumkan kematian duta besarnya karena luka tembak.

Kementeriaan Luar Negeri Turki juga mengonfirmasi kematian Karlov, seraya mengatakan bahwa pelaku akan diseret ke pengadilam karena tindakannya tersebut.

Kemenlu menyebut serangan Karlov dilakukan oleh “organisasi teror”.

Penyerang Diidentifikasi

Menteri Dalam Negeri Turki  Sulayman Soylu didamping Menteri Kesehatan dan Menteri Pertahanan mengungkapkan penyerang adalah anggota kepolisian bernama Mevlut Mert Altintas (22 tahun).

Soylu mengatakan Altintas dilahirkan 24 Juni 1994 di distrik Soke, provinsi Aydin di sebelah barat Turki.

Altintas telah bertugas dua setengah tahun di unit polisi huru hara di Ankara dan lulusan akademi kepolisian di Izmir.

Tiga orang juga terluka karena serangan provokasi tersebut, dua diantaranya telah keluar dari rumah sakit dan satunya lagi masih dirawat.

Altintas sendiri telah dilumpuhkan dalam operasi polisi setelah kejadian tersebut.

Penembakan atas duta besar Rusia terjadi pada 7.05 sore waktu Ankara saat menghadiri pameran lukisan di distrik tengah Cankaya, Ankara.Karlov tidak bereaksi setelah mendapat perawatan medis di rumah sakit.

Keluarga Penyerang Ditahan

Sementara itu, ibu dan saudara perempuan Altintas ditahan pasca penembakan.

Presiden Recep Tayyip Erdogan mengecam keras aksi pembantaian “haus darah dan pengecut” atas Karlov.

Erdogan menyebut serangan tersebut sebagai provokasi terang-terangan untuk merusak hubungan Turki-Rusia. Baik Erdogan maupun Putin menyebut tindakan tersebut sebagai aksi provokasi.

“Kita bersepakat dengan Putin untuk membentuk komisi penyelidik gabungan,” ungkap Erdogan.

Presiden berjanji akan meningkatkan keamanan atas gedung dan misi diplomatik Rusia.

Menlu Turki Mevlut Cavusoglu berbicara di Moskow mengatakan bahwa pembunuhan atas Karlov sejatinya tidak dimaksudkan untuk membunuhnya secara pribadi, namun menarget Turki, Rusia dan hubungan baik keduanya.

“Ini adalah serangan untuk mencegah Turki dan Rusia yang hendak memperbaiki hubungannya,” bebernya.

“Serangan tersebut tidak dapat menghalangi hubungan kami,” tambahnya seraya menandaskan bahwa perbaikan hubungan keduanya tidak hanya bermanfaat bagi kedua negara, namun juga untuk kawasan sesaat setelah mendarat di Moskow. Menlu Turki dijadwalkan akan melakukan pertemuan tripartit dengan Menlu Rusia dan Iran.

Saksi mata mengatakan bahwa penyerang sebelumnya menembakkan pistolnya ke udara dan kemudian menembak duta besar dari belakang sambil berteriak, “Jangan lupakan Aleppo, sepanjang saudara kita tidak aman, maka andapun tidak akan aman. Siapa saja yang bertanggung jawab atas penindasan ini maka harus membayarnya satu persatu. Hanya kematian yang dapat merenggutku. Allahu Akbar.”

Dia menembak Karlov dua kali. Penyerang masuk ke ruangan pameran dengan menunjukkan identitas polisi.

Presiden Turki menelpon Putin sesaat kejadian.

“Tidak ada pembekuan hubungan antara Moskow dan Ankara, tidak peduli betapa kuatnya tentangan strategis di Ankara maupun oleh Barat,” tutur Leonid Slutsky, kepala hubungan internasional Duma (parlemen Rusia).

“Ini tidak akan terjadi. Ada perbedaan diantara kita. Ini adalah tragedi mengerikan, namun hubungan antara dua negara tidak akan terganggu,” tambah Slutsky.

AS, Inggris dan NATO Kecam Serangan

Serangan tersebut juga mengundang kecaman dari para pemimpin dunia dan organisasi internasional.

“Saya mengecam sekeras-kerasnya serangan keji atas duta besar Karlov malam ini,” twit duta besar AS John Bass di Ankara.

Menlu AS John Kerry juga menyampaikan kecamannya atas aksi tersebut.

AS mengecam pembunuhan atas Duta Besar Rusia, Andrey Karlov di Ankara hari ini. Doa dan bela sungkawa kami dengan keluarga, rakyat Rusia dan korban lainnya yang terluka selama penembakan. Kami siap membantu Rusia dan Turki dalam melakukan penyelidikan atas serangan keji, yang juga merupakan serangan atas hak semua diplomat untuk mendapatkan jaminan keamanan dalam mewakili negara mereka di seluruh dunia,” rilis pernyataan Menlu.

Sekjen NATO Jens Stoltenberg juga mengutuk serangan bersenjata tersebut.

“Saya mengutuk pembunuhan duta besar Rusia. Bela sungkawa saya untuk keluarga dan rakyat Rusia. Tidak ada justifikasi untuk tindakan keji ini,” twit Stoltenberg.

Hubungan Turki dan Rusia sempat terhenti setelah pesawat tempur Rusia ditembak jatuh diperbatasan Turki karena dianggap melanggar wilayah kedaulatan Turki pada 24 November 2015. Namun, Rusia membantah tuduhan tersebut.

Baru hubungan kedua negara pulih setelah Presiden Erdogan pada Juni 2016 mengirimkan surat permintaan maaf.

Setelah itu, Rusia mencabut larangan bagi warga Rusia untuk berkunjung ke Turki dan juga pembekuan perdagangan ke dua negara.

Turki dan Rusia baru saja  bekerjasama dan mencapai kesepakatan  gencatan senjata atas wilayah Aleppo bagian timur yang dikepung, berikut evakuasi para pemberontak dan warga sipil yang terjebak didalam kota.

Evakuasi berlangsung pada 15 Desember hingga 19 Desember.

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *