Elegi Kematian Aleppo

*Ahmad Dzakirin

 

Aleppo yang terkepung mungkin jatuh dan ribuan warga sipil di dalamnya tewas terbantai.

Rusia, Assad, Iran mungkin menang dalam pertempuran, namun dia tidak sedang menang dalam perang (winning tactical battle, but not strategic war).

Rejim Alawi Bashar al Assad mungkin menang dan para milisi Syiah di penjuru dunia bersorak sorai.

Mereka menganggap kemenangannya atas Aleppo, Mosul, Ramadi dan pelbagai wilayah disekitarnya sebagai balas dendam atas para cucu pembunuh Hussein.

Sungguh menyedihkan duka bersama umat 1000 tahun silam dimanfaatkan dan menjadi bahan bakar kebencian dan dendam salah satu kelompok yang sepertinya tidak pernah padam.

Jika kita jengah dan prihatin atas kebrutalan perang di Georgia dan Ukraina, maka kita mendapati kebrutalan yang lebih brutal dan tidak berkemanusiaan terjadi di Aleppo dan Yaman.

Pesawat tempur dan bom barrel terus menggempur Aleppo timur yang konon tidak lebih besar 2 km persegi.

Tidak ada ampun untuk sekedar jeda dan memberikan akses bantuan kemanusiaan kepada 100 ribu warga sipil yang terkepung.

Saya tidak melihat kebencian dan kebrutalan seperti kebencian dan kebrutalan di Aleppo. Bagaimana sebuah dinasti minoritas melakukan apapun untuk tetap berkuasa, sekalipun dengan harga setengah juta nyawa rakyatnya. Untuk itu, tidak ampun untuk sekedar jeda.

Akal saya tidak dapat menjangkau dan mencernanya sepanjang menyangkut ruang gelap kuasa dan tahta.

Oh celakalah Assad, kepada siapa anda akan mempertanggungjawabkan semua itu.

Apa artinya menang jika yang tampak kehancuran di sepanjang penglihatanmu. Kehancuran Suriah tidak dapat dibangun semula bahkan di sepanjang usia kekuasaanmu.

Yang saya tahu, ini adalah watak sejarah kekuasaan, ketika standar kebenaran bersenyawa dengan kejahatan. Zayid bin Muawiyyah berkilah tidak sedang membantai Hussein RA, cucu Nabi SAW tersayang, namun sedang membunuh seorang pemberontak. Mata hatinya telah terpapar ambisi kuasa dan angkara murka, namun dalam tutupan legitimasi kekuasaan.

Iran dan milisi Syiah meyakini bahwa mereka sedang membela kebenaran apokaliptik yang diyakini dan sedang memuaskan kebencian dan dendamnya.

Oh celakalah Iran, delusi atas keyakinan agamanya sedemikian membutakan dan menghancurkan. Engkau kini bermetamorfosis menjadi Zayid bin Muawwiyah, sedangkan rakyat yang engkau bantai menjadi Hussein yang terkasih.

Jangan kuburu bersuka karena ambisi kuasa atas nama agama yang membentang dari Teheran, Baghdad, Damaskus, Beirut dan Sana menjadi jalan kemenangan apokaliptik Syiah yang diimpikan. Karena hal itu hanya sekedar strategic retreat dan kembali menjadi gelombang dan air bah yang menghancurkan.

Ada dua alasan untuk itu, pertama, ideologi yang dibangun dari dendam dan kebencian tidak dapat bertahan lama.

Kedua, tindakan dan kebrutalan Iran atas nama dendam kepada anak cucu Zayid karena kematian Hussein menjadi kekejian yang akan diingat dan tidak pernah dilupakan dalam sejarah. Oleh karena itu, dia kembali menelan dan menenggelamkan anda karena anda tidak dapat menghapus dua pertiga penduduk Muslim Sunni dunia dalam peta.

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *