Emir Abdelkader: Pelindung Non Muslim yang Dikagumi Barat

*Robert Fisk

Setelah pembantaian Manchester, Nice, Paris, Mosul dan Abu Ghraib dan Haditsa, ingatkan anda ada 28 warga sipil yang tewas, termasuk anak-anak yang dibunuh marinir AS, 4 kali lebih banyak di Manchester, namun tidak upacara hening cipta bagi mereka dan tentu 9/11…

Menyeimbangkan berita kekejaman, tentunya. Hanya sebagai pengingat. Sepanjang kita membom Timur Tengah ketimbang menegakkan keadilan disana, maka kita akan juga diserang. Tetapi apa yang kita sekarang fokuskan seperti yang dikatakan Trump yang bermulut monster adalah teror, teror, teror dan ketakutan dan keamanan. Apa yang tidak kita miliki sekarang pada saat kita mempromosikan lebih banyak kematian di dunia Islam dan menjual senjata kepada para diktator adalah: Percayalah dalam “teror”, ISIS akan menang. Percayalah dengan keadilan, maka ISIS akan dikalahkan. 

Maka saya menduga waktunya bagi kita untuk mengangkat kembali seorang yang telah wafat yang dikenal dengan sebutan Emir Abdelkader, seorang Muslim, Sufi, ulama, pejuang yang gagah berani, humanis, mistik, pelindung rakyatnya dari kekejaman Barat, pelindung Kristen dari kekejaman sesama Arab. Karena kegagahberaniannya, pemerintah Aljazair meminta jasadnya dibawa kembali ke kampung halamannya dari Damaskus, dan karena kemuliaannya Abe Lincoln, presiden AS memberinya sepucuk pistol Colt dan Perancis memberinya penghargaan Salib Agung Kehormatan bagi orang asing. Dia mencintai pendidikan, dia menghargai filsafat Yunani, dia melarang para pejuangnya menghancurkan buku-buku. dia seorang Muslim yang taat dan meyakini agamanya menghormati hak asasi manusia. Tapi siapa yang mengenal nama Abdelkader?

Kita sekarang seharusnya mengenal namanya lebih baik. Dia adalah seorang “moderat” karena melawan pendudukan Perancis. Dia bukan seorang ekstrimis karena dalam penahanannya di Chateau d’Amboise, dia menganggap Muslim dan Kristen bersaudara. Dia didukung oleh Victor Hugo dan Lord Londonderry dan mendapatkan penghormatan dari Louis Napoleon Bonaparte (kemudian Napoleon III) serta Perancis memberikan pensiun 100 ribu francs yang menjadi haknya. 

Ketika Perancis menginvansi Aljazair, Abdelkader Ibn Muhiedin Al Jazairi (1808-1883) melakukan perang gerilya yang berhasil melawan salah pasukan barat yang bersenjata lengkap dan menang. Dia mendirikan negara Aljazair barat -negara Muslim namun memperkerjakan penasehat Kristen dan Yahudi serta mendirikan pelbagai departemen yang terpisah (pendidikan, pertahanan dll) yang membentang sepanjang perbatasan Maroko. Bahkan negara itu memiliki mata uang sendiri yang diberi nama Muhamadiyyah. Dia menjalin perdamaian dengan Perancis, gencatan senjata yang dilanggar Perancis dengan menginvasi negeri itu kembali. Aldelkader mengangkat pendeta untuk memimpin para tahanan Perancis, dan bahkan membebaskan mereka ketika dia tidak lagi memiliki makanan untuk mereka. Perancis menghancurkan kota-kota Aljzair ketika mendudukinya. Ketika pada akhirnya dia dikalahkan, dia menyerah dengan penuh kehormatan, meneyrahkan kudanya sebagai seorang ksatria, dengan janji dia dikirim ke pengasingannya di Alexandria atau Acre. Namun, sekali lagi, Perancis mengkhianatinya karena menjebloskannya  ke penjara di Toulon dan kemudian ke kementerian dalam negeri Perancis. 

Selama dalam pemenjaraannya di Perancis, dia mendakwahkan perdamaian dan persaudaraan serta belajar bahasa Perancis dan filsafat Plato, Socrates, Aristoteles dan Ibnu Rusyd. Dia kemudian menulis buku “Seruan bagi Orang Pandai”. Dia juga menulis buku tentang kuda yang membuktikan bahwa dirinya dulu adalah seorang ksatria Arab yang menungang di atas kuda. Namun keberaniannya ditunjukkan lagi di Damaskus pada 1860 ketika tinggal di pengasingan. Perang saudara antara Druze dan Kristen Maronit di Lebanon menyebar hingga Damaskus dimana penduduk Kristen dikepung oleh penganut “Muslim” Druze yang dikenal kejam seperti ISIS. Dengan pedang dan belati mereka membantai musuh-musuhnya. 

Abdelkader mengirim pejuang Muslimnya -milisi pribadinya- menerobos kepungan dan mengawal lebih dari 10 ribu Kristen Maronit ke tempat perlindungannya. Dan ketika kumpulan milisi Druze yang marah mengepung rumahnya dengan pedang, dia menyambutnya dengan ucapan yang gagah berani. “Wahai engkau makhluk yang menyedihkan!”, teriaknya. “Beginilah cara engkau memuliakan Rasulullah? Allah akan menghukummu! Malulah kau, Malulah! Hari dimana Allah akan membalas segala perbuatanmu. Saya tidak menyerahkan satupun orang Kristen. Mereka adalah saudaraku. Keluarlah atau aku akan memerangimu.”

Para sejarahwan mengklaim Aldelkader menyelamatkan setidaknya 15 ribu orang Kristen, yang mungkin angka terlalu berlebihan. Namun disini dia adalah seorang Muslim yang dihormati Muslim lainnya dan orang-orang barat. Keberaniannya patut digunakan untuk melawan kelompok ISIS yang mudah menumpahkan darah. Tentu, orang Kristen Barat akan menghormatinya pada saat itu. Yang menarik, dia mendapat surat pujian dari seorang pemimpin Muslim dari negara Chechnya yang merdeka pada waktu itu. Dia adalah seorang penganjur dialog antar iman yang dipuji Paus Francis sekarang. 

Abdelkader diundang ke Paris. Sebuah kota di Amerika diberi nama dengan namanya. Elkader di Clayton County, Iowa dan kota itu masih ada disana dengan penduduk 1273. Didirikan pada pertengahan abad 19. Apakah wajar memberi nama kota anda dengan nama orang yang tidak berjasa dalam kemerdekaan Amerika? Abdelkader dituduh bekerjasama dengan Freemansonry, meskipun banyak sejarahwan yang tidak mempercayainya- sangat menyukai ilmu pengetahuan sehingga dia diundang dalam pembukaan terusan Suez, yang tentu pada waktu itu lebih merefleksikan proyek imperialisme ketimbang ilmu pengetahuan. Abdelkader bertemu dengan De Lesseps. Dia melihat sendiri, Abdelkader sebagai seorang yang mencerminkan kebangkitan Islam, pria segala musim, Muslim bagi semuanya dan panutan ketimbang seorang suci, seorang filosof ketimbang pemuka agama. 

Namun, Aljazair tanah kelahiran Abdelkader bertetangga dengan Libya, tempat keluarga pelaku bom bunuh diri Salman Abedi dan Abdelkader sendiri wafat di Suriah, dimana serangan AS atas Suriah menjadi alasan Abedi membantai warga Manchester yang tidak berdosa. Ketika batas geografi dan sejarah meredup, kejahatan Abedi tampak menjadi lebih penting ketimbang semua suri tauladan gemilang Abdelkader di sepanjang hidupnya. 

Mereka mungkin bukan obat bagi kependihan atau duka cita. Namun mereka telah membuktikan bahwa ISIS sama sekali tidak merepresentasikan Islam. Oleh karena itu, seorang Muslim pantas mendapatkan penghargaan dunia. 

 

Sumber

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *