Erdogan: Yerusalem adalah Masalah Aqidah bagi Umat Islam

President Recep Tayyip Erdoğan mengecam keras rencana AS untuk mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel. 

“Yerusalem adalah garis merah (akidah) bagi semua Muslim. Kami akan bertindak dengan menghentikan hubungan diplomatik dengan Israel atas masalah ini,” tegas Erdogan menanggapi rencana AS tersebut.

“Kami akan menyerukan KTT Organisasi Konferensi Islam di Istanbul jika AS mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel,” ancamnya.

UE Peringatkan Perubahan Status Yerusalem

Uni Eropa Selasa memperingatkan dampak yang akan terjadi jika Presiden AS Donald Trump memutukan mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel dan memindahkan kedutaannya disana. 

Trump Senin menunda keputusannya setelah mendapat tekanan dari para sekutunya. 

Uni Eropa yang mendukung solusi dua negara atas konflik ini memperingatkan AS untuk tidak melakukan hal-hal yang akan mengubah arah proses damai. 

Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Frederica Mogherini, setelah melakukan panggilan telpon dengan Menlu Ayman Safadi merilis pernyataan bahwa AS seharusnya menghindari melakukan tindakan sepihak yang berdampak kepada status Yerusalem. 

“Sejak awal tahun ini, Uni Eropa jelas mengharapkan bahwa adanya refleksi tentang konsekuensi atas keputusan sepihak yang berdampak kepada status Yerusalem,” rilisnya.

“Langkah ini akan memberi dampak serius atas opini publik di banyak belahan dunia,” tambahnya. 

“Fokusnya seharusnya tetap pada upaya untuk memulai kembali proses damai dan menghindari tindakan yang dapat merusak upaya tersebut.”

Trump sendiri seperti dikatakan para pejabat AS belum membuat keputusan akhir, dia untuk sementara tidak memindahkan kedutaannya ke Yerusalem, meskipun dia ingin mengakui kota itu sebagai ibukota Israel. 

Yerusalem masih menjadi jantung konflik Israel-Palestina karena rakyat Palestina menghendaki Yerusalem Timur sebagai ibukota masa depan ibukota negaranya.  Namun Israel secara sepihak mencaplok wilayah tersebut dan menjadikannya sebagai ibukota negara Zionis tersebut. 

Selama kampanye, Trump berjanji akan memindahkan kedutaan AS dari Tel Aviv ke Yerusalem. 

Senin, Presiden Perancis Emmanuel Macron menyatakan “keprihatinannya atas kemungkinan AS secara sepihak mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel.”

Macron menyatakan kepada Trump lewat telpon bahwa “status Yerusalem akan diputuskan dalam kerangka perundingan damai antara Isreal dan Palestina, yang bertujuan mendirikan dua negara, Israel dan Palestina yang hidup secar damai dan aman dengan Yerusalem sebagai ibukotanya,” rilis Elysee.

Israel mencaplok Yerusalem Timur selama Perang Arab-Israel 1967 dan terus melanjutkan pencaplokannya atas seluruh wilayah Tepi Barat sekalipun ada kesepakatan damai 1948.

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *