Hampir 50 Ribu Muslim Rohingya Melarikan Diri

Bau menyengat dari rumah-rumah yang terbakar tercium selama berhari-hari. Ahmad, 19 tahun, nama samaran, menyaksikan langsung rumahnya di desa Ywa Thai Kay  dibakar tentara. Mereka menyulut rumah-rumah penduduk dengan api dan suara berondongan senjata memekak memenuhi udara. Ahmad akhirnya terpaksa melarikan diri meninggalkan kampung halamannya dengan hanya membawa buku bahasa Inggris kesukaannya. 

5 hari kemudian, Ahmad lagi menyaksikan ancaman pembakaran, kali ini di desa terjauh Myoma Kayin Dan dimana dia dan 2000 warga Rohingya yang tidak bersenjata berlindung di desa tersebut setelah rumah dan kampung halamannya dibakara. Desa-desa sekitarnya juga telah terbakar pada hari Rabunya. 

“Ada sungai besar dibelakang desa ini,” ujar Ahmad dalam wawancara telpon. “Perempuan dan anak-anak tidak dapat menyeberanginya. Kami sangat khawatir karena kami terperangkap diantara sungai dan militer tanpa bekal makanan.”

 

Dia melanjutkan:“Jika mereka mulai membakari desa, maka kami semua akan dalam kesulitan. Kami tidak ada tempat untuk pergi.”

Menurut citra satelit yang dikumpulkan oleh Human Right Watch (HRW) setidaknya 10 wilayah sekitar 100 km membentang di negara bagian Rakhir yang terletak di bagian barat berbatasan dengan Bangladesh telah dihancurkan selama 5 hari terakhir. 

“Tidak ada ARSA disini, “ bantah Ahmed, merujuk kelompok bersenjata Rohingya yang telah melancarkan serangkaian serangan terhadap puluhan pos pemeriksaan pemeriksaan Jumat lalu, yang menewaskan lebih dari 70 orang, 12 diantaranya aparat keamanan. 

“Kami beritahu militer tidak ada pejuang disini, bahwa mereka dapat memeriksanya sendiri, namun mereka tetap menembaki dan membakar rumah-rumah kami…kami tidak ada tempat untuk pergi, setiap orang tertekan dan orang-orang ada yang bunuh diri,” katanya dengan putus asa. 

Setidaknya ada 109 orang yang tewas dalam operasi militer menyusul serangan pekan lalu. Menurut pemerintah, kebanyakan korban adalah pejuang Rohingya meskipun anggota militer dan warga sipil juga masuk dalam angka versi pemerintah tadi. 

Sepanjang pekan lalu, hampir 50 ribu Muslim Rohingya melarikan diri dari kekerasan militer. Sekitar 27 ribu mereka yang melarikan diri telah menyeberang ke Bangladesh, sementara 20 ribu lainnya terjebak dalam wilayah kosong diantara dua negara, menurut sumber PBB. Jasad 20 perempuan dan anak-anak Rohingya ditemukan dari sebuah perahu yang terguling.

 

 

Puing-puing desa yang dibakar oleh militer Burma

Ini adalah tindakan kekerasan terburuk di negara bagian Rakhine Burma dalam 5 tahun terakhir dan kematian meningkat tajam. 

“Kami telah melihat data satelit yang menunjukkan bahwa banyak pembakaran desa-desa terjadi,” tutur Phil Robertson, wakil direktur Asia di HRW.”Kejadian ini terus berlangsung.”

 

 

Lembaga pengawas independen dilarang masuk ke zona militer sehingga HRW tidak dapat mengonfirmasi sebab kebakaran. Namun beberapa sumber Rohingya mengatakan bahwa penduduk sipil Rakhine yang melakukan pembakaran tersebut didukung oleh militer dan polisi perbatasan. 

“Kami melihat dua tentara di kota yang memegang senjata dan kemudian dibelakang mereka ada dua penduduk Rakhine dengan bensin dan korek api. Militer menembakkan senjata ke desa agar penduduk meninggalkan desa dan setelah itu warga sipil Budha membakar rumah-rumah kami,” kata Ahmed menjelaskan peristiwa yang terjadi di desanya. 

Pekerja bantuan asing, yang dievakuasi dari Maungdaw 3 hari lalu menyaksikan sendiri kekerasan yang sama dengan yang diceritakan Ahmad. 

“Saya melihat banyak rumah-rumah dibakar dan saya mendengar dari pelbagai sumber di lapangan bahwa penduduk Rakhine berpartisipasi dalam pembakaran dan militer memberikan keamanan,” katanya. 

 

Para pendemo yang mendukung kekerasan militer di Yangon. [Aung Naing Soe/Al Jazeera]

Kemarin, U Wirathu -biksu dari organisasi nasionalis Budha, Ma Ba Tha berpidato dalam demonstrasi di ibukota Yangon yang menuntut semua lembaga kemanusiaan internasional diusir dari negara bagian Rakhine agar militer dan pemerintah Budha dapat ditegakkan disana. Kerumunan massa dengan pelbagai spanduk ini mendukung langkah pembasmian “teroris” dan “serangan pihak asing” yang dilakukan oleh militer.

Memperkuat retorika nasionalis, pemimpin de facto Burma, Aung San Suu Kyi merilis pernyataan yang menuduh komunitas bantuan internasional bekerjasama dengan “para ekstrimis teroris”. Dalam pernyataan lain, dia memperingatkan baik jurnalis lokal dan internasional “yang menulis di media yang mendukung teroris ekstrimis dan ARSA akan dilarang masuk.”

ARSA sendiri menolak tuduhan teroris oleh pemerintah. Dalam pernyataannya via twitter yang dianggap mewakili ARSA, Komandan ARSA Ataullah mengatakan bahwa mereka “keluar secara sah dibawah hukum internasional untuk mempertahankan diri, melindungi dan menyelamatkan komunitas Rohingya di Arakan sebagai upaya terbaik mereka yang berdasarkan kepada prinsip membela diri.”

Lihat: Kekerasan mendorong lebih bnyak Rohingya lari ke Bangladesh.

Namun seiring meningkatnya kekuatan nasionalis ekstrim di negara itu, tuntutan mereka tampaknya tidak diperhatikan. 

“Pernyataan Aung San Suu Kyi atas situasi ini sangat disesalkan. Kantornya alih-alih memperkuat kampanya anti Rohingya dan sentimen terhadap para pekerja asing, hal yang seharusnya dilakukan adalah meredamkan suasana dan sikap menahan diri,” kritik Matthew Smith dari lembaga HAM, Fortify Rights. 

“Ketika rakyat menyerukan pertumpahan darah. Pemerintah malah memperkuat tuntutan mereka bahwa semua Rohingya adalah musuh dan ancaman bagi negara. Ini hal yang tidak dapat dimaafkan,” tukasnya. 

Sebaliknya pemerintah dengan dukungan masyarakat Budha merestui kebijakan militer Birma melanjutkan politik bumi hangus terhadap penduduk Rohingya yang telah ditindas sebelumnya. 

“Setidaknya saya masih punya buku ini,” kata Ahmad sedikit gembira ditengah asap hitam yang menyelimuti desa Myoma Kayin Dan. “Namun situasi disini menyedihkan. Saya akan mencoba mencari ketenagan disini.”

Dia menambahkan bahwa dirinya sedang menunggu kapan militer akan membumihanguskan tempat pelarian terakhirnya ini. 

 

 

 

Source: Al Jazeera News

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *