Ibnu Sina, Raja Kedokteran Eropa Modern

Salah satu representasi kedokteran Islam pada abad pertengahan terpenting, Ibnu Sina menghasilkan 270 karya selama 57 tahun usia hidupnya yang singkat. Disebut sebagai “Aristotles timur”, “Es-Seyhu’r-Reis” dan“Sultan Para Dokter”, Ibnu Sina yang dipanggil “Avicenna” di barat menlusi banyak karya tentang kedokteran, psikologi, biologi, geologi, astronomi, fisika, filsafat, matematika, mistisme dan musik. Karena kemashuran dan penemuannya di bidang kedokteran, buku Ibnu Sina, “Al Kanun fit Tibb” diajarkan di sekolah-sekolah kedokteran di Eropa seperti Universitas Louvain dan Montpellier hingga abad 17.

Buku ini menjadi produk dan akumulasi pengetahuan yang panjang. Buku ini diterjemahkan dalam bahasa Latin pada abad 12 oleh Gerhard von Cremano, Spanyol dan diterbitkan 30 kali di Eropa pada abad yang sama. Pendirian platform “Avicenna” di Universitas Valladolid sebagai penerjemahan bahasa latin atas bukunya “Al Kanun fit Tibb”, diterbitkan  di Pavia pada 1510, dengan gambar Ibnu Sina ditengahnya dan bertuliskan “Penguasa Kedokteran”, sementara gambar Hippocrates di sebelah kiri dan Galinos di sebelah kanannya. Juga pada penerbitan bukunya di Venice, bergambarkan Ibnu Sina sebagai Pangeran kedokteran dengan mahkota di kepalanya menunjukkan derajat pengaruh dan otoritasnya di Eropa.

Terdiri atas lima bab “Kanun fit Tibb” dalam bab pertamanya “Kulliyat” menjadi bagian utama dalam bukunya yang memberi informasi dasar kedokteran, penggambaran tubuh manusia, anatomi, fisiologi berikut semua gambarnya. Bab kedua, “Mufradat” menyebutkan kedokteran sederhana yang dapat digunakan untuk perawatan orang sakit dan termasuk, kebanyakannya herbal, yang mencakup daftar 800 obat-obatan herbal.  Bab ketiga, “Mualakat” mencakup metode perawatan dan semua jenis penyakit yang dapat terjadi pada tubuh manusia. Bab Keempat, “Hummiyat” mencakup informasi tentang penyakit demam, bengkak, rasa sakit, penyakit kulit, abscess, problem tulang, keracunan, pembedahan dan perlakuan terhadap pelbagai penyakit tersebut. Bab terakhir, “Murakkabat” adalah tentang obat kompleks yang jumlahnya mencapai 650, produksi obat-obat tersebut hingga kepemilikannya. 

Buku Ibnu Sina mengambil manfaat warisan literatur Helenistik, Byzantium, kedokteran medis Syriac dan Asia Tengah serta hasil dari pengamatan, eksperimen dan pengujian pribadi. Karyanya ini dianggap sebagai referensi paling penting dalam dunia kedokteran selama berabad-abad. Nizami-i Aruzi dalam bukunya “Ceher Makale” yang merupakan kajian kitab “El-Kanun fi’t-Tib” mengatakan,” jika Hippocrates dan Calinus (Galen) masih hidup, maka karyanya bukan apa-apa di hadapan buku ini.” 

 Menjadikan kedokteran sebagai basis ilmu pengetahuan, Ibnu Sina, berkaiatan dengan definisi penyakit, diagnosis dan perawatannya, membagi kedokteran menjadi dua, pertama, sebagai praktik kedokteran reguler dan keuda, kedokteran kuratif. Dia menetapkan tujuh syarat agar tubuh menjadi sehat: kesehatan mental, kesehatan fisik, pilihan makanan dan minuman, pakaian sehat, kebersihan udara yang dihirup, menyingkirkan bahan-bahan yang berbahaya dan berpikir sehat. Dia menekankan pentingnya kesehatan lingkungan, kesehatan di rumah, tidur, latihan fisik untuk kesehatan badan. 

 Identifikasi dan penemuan medis Ibnu Sina dapat diringkas sebagai berikut: Tidak seperti Aristoteles dan Galinos, dia berpendapat bahwa darah adalah nutrisi yang bersifat cair. Dia menerangkan  kamar jantung dan sistem katupnya serta sirkulasi besar dan kecil. Memberi definisi luas tentang infeksi dan memberi informasi tentang kuman dan penyakit infeksi, pentingnya penyaringan air berikut metodenya, menemukan metode diagnostik yang sama dengan radang paru-paru. Dia juga mendapati bahwa tuberculosis berbahaya dan menggunakan serbat mawar untuk mengobatinya. Mendeteksi dini penyakit meningitis. Menemukan cacing tambang untuk pertama kalinya dalam sejarah kedokteran. Dia mendiagnosis kanker dan mengusulkan operasi jaringan yang terinfeksi sebagai perawatannya. Menemukan bahwa maag perut terjadi dengan dua penyebab; pesikologis dan organik. Dia menjadi dokter pertama yang menyebutkan bahwa air kencing penderita diabetes ada kadar gulanya, menguji urine untuk diagnosis dan menggunakan uap merkuri sebagai obatnya. Dia juga menyebutkan perbedaan antara lumpuh yang disebabkan karena penyakit dalam dengan lumpuh karena penyakit eksternal. Ibnu Sina menjelaskan tentang gigitan serangan dan jenis-jenis racunnnya. Mengusulkan kesehatan dan perawatan bayi. Membedakan jenis kolic yang disebakan karena kandung empedu, usus besar dan batu ginjal. Menggambarkan penyakit seperti campak dan cacar.

Pentingnya palpasi denyut nadi dan metode perawatan tangan juga dibahas Ibnu Sina. Untuk meredakan rasa sakit selama pengobatan, khususnya pembedahan, dia menggunakan opium, kelapa dan zat-zat lain yang dikembangkan sebagai obat anastetik untuk pertama kalinya. Perawatan injeksi dengan es, merawat luka dengan panas atau pemberian alkohol. Menganalisis penyakit mental dan menyebutkan perawatannya dengan kesibukan, kejutan, inspirasi, musik, pemberian obat, Ibnu Sina telah meletakkan dasar psikiatri modern. Ibnu Sina menemukan peralatan bedah yang yang hampir sama dengan peralatan bedah modern.

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *