Industri Halal Tumbuh Pesat di Dunia, Apa Problemnya?

Halal artinya diperbolehkan dalam Islam, istilah yang dapat berlaku kepada semua produk atau pelayanan yang tidak bertentangan dengan hukum dan norma sosial dalam Islam.

Apa yang membedakan industri halal dengan industri lainnya, yang tidak hanya sekedar keterkaitan dengan Islam, namun mencakup adanya upaya secara sadar untuk mengakomodasi tuntutan konsumen Muslim.

Industri tersebut beragam mulai dari pelayanan jasa perbankan yang menghindari riba hingga pewarna kuku yang tidak mengganggu para Muslimah saat berwudhu. Disamping sektor makanan, pakaian dan turisme.

Trend ini meningkat tajam di antara komunitas Muslim di negara-negara Barat, seperti Inggris dimana beberapa merek internasional seperti KFC dan Subway menawarkan menu halal, perusahaan pakaian seperti H&M dan Mark and Spencer turut menjual pakaian Muslimah, supermarket-supermarket memiliki bagian halal dan beberapa bank besar menawarkan jasa dan produk keuangan Syariah.

Dosen Universitas Cardiff Dr Jamal Ahmed menjelaskan bahwa konsumsi produk halal didorong oleh komitmen untuk sesuai dengan aturan-aturan Islam.

“Dengan mengonsumsi halal, baik makanan, pakaian, wisata dan keuangan memberikan mereka semacam identitas dan juga perasaan ketenangan dan kebebasan dari kecemasan,” tandasnya.

“Penelitian akademis menunjukkan bahwa etnik minoritas pada umumnya, namun Muslim pada khususnya merasa sangat terkait dengan identitasnya ketimbang orang-orang di negara asalnya,” tambah Ahmed.

“Oleh karena itu, Muslim mencari identitas jati dirinya ketika mereka membangun pandangan kediriannya dan kemudian menyatakan siapa dirinya.”

Pada saat bersama, ketika seorang konsumen melihat adanya pemenuhan kewajiban agama atau menegaskan indentitas mereka, maka pada saat itu pula pemerintah melihat potensi fiskal.

Pameran bisnis halal baru-baru ini di Jepang dan Turki  mendapatkan dukungan kuat dari pemerintah.

Pada 2013, mantan PM David Cameron menyatakan keinginannya untuk membuat London sebagai “salah satu ibukota keuangan Islam internasional” dan mengumumkan pemerintah akan menerbitkan obligasi Syariah.  Inggris menjadi negara non Muslim  pertama yang melakukannya.

Ini tidak hanya dalam industri keuangan yang dimana negara-negara non Muslim bisa berpartisiapsi aktif dalam penumbuhannya.

Muslim Brazil misalnya adalah bagian kecil dari populasi negara itu, hanya 200 ribu jiwa, namun negeri itu menjadi eksportir utama daging halal dengan nilai industri mencapai 6 milyar dollar pada 2015.

Hampir sama, Selandia Baru juga menjadi eksportir utama daging halal, meskipun jumlah Muslim disana sangat kecil. Nilai ekspor mereka mencapai 576 juta dollar pertahunnya.

Abdul Azim Ahmed, peneliti agama mengatakan bahwa pada saat pertumbuhan sektor hahal memberikan alternatif kepada penduduk Muslim, ada bahaya karena mereduksi etika Muslim sebagai pilihan konsumen.

Ahmed menjelaskan bahwa menempatkan terlalu tinggi keinginan konsumen pada produksi halal akan menghilangkan aspek proses produksi atau perlakuan pekerja yang tidak sesuai dengan aturan Islam.

“Aksesibilitas lebih besar daging halal menjadi hal bagus dalam mendemokratisasi makanan, namun masih ada pertanyaan berikutnya apakah penyembelihan daging dalam skala besar sesuai dengan etika Islam atau tidak.”

Contoh lain, produk pro Hijab Nike dipilih sebagai salah satu penemuan terbaik pada 2017 oleh Majalah Time. Nike Pro Hijab akan bermasalah bagi para Muslim karena adanya tuduhan praktik tidak benar kepada para pekerjanya. Jadi pertanyaannya adalah bagaimana etik produk tersebut dikonsumsi Muslim.”

“Jadi saya percaya bahwa pendekatan benar-benar Islami terhadap bisnis, manufaktur dan konservasinya menghendaki pendekatan radikal yang melibatkan pemerintah dan organisasi internasional, hal yang tidak dapat dicapai hanya dengan perubahan praktik konsumen saja,” pungkasnya.

 

65fb6a693a4547368857589e39b01ec0_6

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *