Inflasi Menggila, Rakyat Mesir Menderita

Meskipun pemerintah Mesir menaikkan suku bunga, namun inflasi di negara itu masih tetap meningkat tajam, mencapai level tertingginya dalam 30 tahun.

Berdasarkan rilis Badan Statistik Pemerintah, rata-rata inflasi tahunan mencapai 34,2 persen naik dari bulan sebelumnya sebesar 30,9 persen pada Juni. 

Para ekonom percaya bahwa tingkat inflasi yang tinggi ini akan merusak daya beli masyarakat, terlebih dengan tidak tersedianya mata uang asing di pasaran.

Banyak bank lokal mengeluhkan inflasi yang tidak terkendali ini, khususnya setelah pemerintah meningkatkan 4 persen  suku bunga perbankan, namun hanya berpengaruh tipis naiknya mata uang lokal terhadap Dollar Amerika. 

IMF berulang kali menyerukan pentingnya pemerintah Mesir menghentikan inflasi di Mesir, terutama setelah badan keuangan dunia ini bersedia menggelontorkan pinjaman 12 milyar dollar dalam jangka 3 tahun untuk kepentingan reformasi fiskal di negara itu. Dalam pertengahan Januari, pemerintah Mesir berjanji akan mencegah inflasi karena mengancam stabilitas makro ekonomi. 

Harga-Harga Tinggi

Profesor keuangan dari Universitas Kairo, Hisham Ibrahim mengatakan bahwa kenaikan harga BBM dan listrik telah mengakibatkan dampak negatif di sektor ekonomi. 

Pada akhir Juni, pemerintah Mesir memutuskan untuk menaikkan harga bensin 55 persen dalam rentang hanya 8 bulan. Tarif listrik juga meningkat 42,1 persen.

Otoritas Mesir tidak memiliki kapasitas keuangan dan moneter untuk menangani inflasi yang meroket ini, tandas Ibrahim seraya menambahkan pentingnya pemerintah mengendalikan kenaikan harga bahan pokok di pasaran. 

Pada Juli, nilai tukar Dollar terhadap pound Mesir turun dari 18 EGP menjadi 17,82 EGP.

“Satu-satunya cara mengatasi inflasi ini dalam jangka menengah maupun panjang adalah dengan meningkatkan kapasitas produksi dan menarik lebih banyak investasi asing langsung,” ujar pengamat ekonomi ini.

Dalam rentang 6 bulan, Bank Sentral Mesir telah meningkat suku bunga menjadi 4 persen, sehingga mencapai 18,75 dan 19,75 persen dalam 45 hari. Langkah tersebut diambil dalam rangka meredakan dampak sampingan dari peningkatan tarif listrik dan BBM.

Reformasi Pasar

Prime Holding, perusahaan investasi Mesir baru-baru ini mengumumkan bahwa inflasi di Mesir sulit untuk diturunkan hingga dibawah 20 persen sebelum 2018, namun perusahaan tersebut mengklaim bahwa akan ada penurunan inflasi hingga 21 persen pada tahun fiskal ini.

Keuangan Mesir mulai pada Juli dan berakhir pada akhir Juni tahun depan.

“Jika pemerintah mulai mengendalikan harga pasar, suku bunga akan turun tajam pada paruh kedua kwartal tahun keuangan ini,” prediksi perusahaan Mesir tersebut. 

Sementara, Arqam Capital milik UEA mengatakan bahwa inflasi akan mencapai 31-32 persen rata-rata pada dua bulan kedepan, karena naiknya harga BBM, Listrik dan air, disamping tarif biaya telpon.

Economis Capital yang berbasis di London juga melaporkan bahwa inflasi di Mesir meningkat pada Juli ke titik tertinggi sejak 1986. Perusahaan tersebut secara pesimis memprediksikan bahwa inflasi tidak akan turun dalam 9 bulan kedepan. 

Perusahaan Inggris tersbeut mencatat bahwa inflasi yang meningkat dari 10 persen pada awal 2016, telah mendorong Bank Sentral melakukan kebijakan keuangan yang ketat. 

“Bank Sentral Mesir harus memotong suku bunga deposit hingga 100 basis point (1 persen) dalam pertemuan komite kebijakan keuangan tahun depan,” ujarnya. 

Meskipun pemerintah berupaya keras untuk melonggarkan dampak reformasi ekonominya melalui pelbagai langkah, seperti peningkatan subsidi pangan, namun rakyat Mesir masih mengeluhkan tingginya harga-harga kebutuhan rumah tangga yang melampaui penghasilan mereka. Akibatnya, mereka tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar hidup mereka. 

Jutaan rakyat Mesir terancam tidak lagi sanggup membeli kebutuhan bahan pangan setelah kenaikan sejumlah harga kebutuhan pokok mereka, seperti listrik, BBM dan ongkos transportasi metro yang menjadi tulang punggung transportasi rakyat Mesir.

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *