Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/u692536656/public_html/wp-includes/post-template.php on line 275

Inside ISIS: Kesaksian Mantan Orang Dalam (2)

“Bom bunuh diri adalah pilihan,” kata pria yang dipanggil Abu Khaled ini sambil menghirup rokok Marboro Red untuk kesekian kalinya. “Kapan anda bergabung dengan ISIS, selama kelas agama, mereka bertanya, “Siapa yang bersedia syahid? Orang-orang mengangkat tangannya, maka mereka masuk ke kelompok terpisah.”

Namun banyak juga para rekurtmen tadi yang menolak, kata Abu Khaled, banyak dari mereka tidak ingin mencari surga dengan jalan yang cepat. “Hanya saja banyak juga yang menawarkan diri,” tukasnya.

Di dunia di luar Daulah al Islamiyyah, kami melihat juga beberapa para pemuda fanatik yang siap melakukan apa saja. Ada misalnya nama Jake Bilardi, warga Australia dari Melborune, berusia 18 tahun yang meledakkan dirinya di tempat pemeriksaan di perbatasan Irak. Dia dalam deskripsi di blognya kurang lebih dapat digambarkan sebagai orang yang bertransisi dari Chomskyisme kepada takfirisme.

Abu Abdullah al Australi, ketika menjemput kematiannya di Ramadi, sangat meyakini jika dirinya sedang menjalankan misi mulia, mengorbankan dirinya untuk kepentingan khilafah. Menurutnya, Jihad harus dimulai dari tempat tinggalnya. “Titik balik dalam perkembangan ideologi saya”, sebagaimana tulisannya, merefleksikan kebenciannya yang sempurna dan perlawanannya terhadap keseluruhan sistem yang berlaku di Australia dan keseluruhan dunia. “Inilah saat saya menyadari bahwa revolusi bersenjata global dibutuhkan untuk menghapuskan sistem pemerintahan yang berlaku di dunia, dan oleh karena itu, saya mungkin akan terbunuh dalam perjuangan ini,” tulisnya. Abu Khaled benar dalam bagian terakhir ini tentang bagaimana teman-teman revolusionernya menetapkan nilai kemanfaatannya.

Untuk alasan pragmatis, ISIS telah mendorong homogenitas dalam struktur katibah atau batalion militer mereka, seperti halnya Republikan dalam brigade internasional mereka selama Perang Sipil Spanyol. Salah satu katibah terbaik dan memiliki senjata lengkap adalah katibah Anwar al Awlaki, ulama al Qaeda yang tewas karena serangan pesawat tanpa awak Amerika di Yaman pada 2011. “Segala sesuatu dalam katibah ini adalah dalam bahasa Inggris”, ujar Abu Khaled. “Kami juga punya katiba yang terdiri atas orang-orang Amerika. Diantara mereka adalah Abu Muhammad al Amiriki, nama seorang pria dari New Jersey. Dia tewas di Kobani dan katibahnya terdiri atas orang-orang asing.”

Namun akhir-akhir ini, katiba yang ditentukan karena bahasa dan etnik pada akhirnya dibubarkan dan digabungkan dengan yang lainnya. Begitu banyaknya orang sama yang berkumpul pada satu tempat dan dengan satu bahasa menjadikan mereka lebih loyal kepada pemimpin ketimbang organisasinya. Al Battar adalah salah satu katibah terkuat dalam ketentaraan ISIS. Katibah ini terdiri atas 750 orang Libya, yang akhirnya dibubarkan karena faktor diatas.

48257520.cachedTidak lama bergabung dengan ISIS, Abu Khaled berencana membentuk katibah Francophone yang terdiri atas 70-80 pejuang yang tidak bisa berbahasa Arab. Orang-orang ini berkumpul dan setuju untuk membentuk katibah tersebut. Selanjutnya, Abu Khaled membawa proposal itu ke markas besar di Raqqa. Namun proposal itu ditolak. Mengapa? Mereka memberitahu bahwa mereka  telah mengalami masalah dengan orang-orang Libya sebelumnya. “Kami tidak ingin ada orang-orang Perancis dalam satu katibah.”

Tentara ISIS dari Rusia juga sering dianggap pembuat masalah di al Daulah. Semua pejuang dari Kaukasus atau bekas republik Uni Soviet cenderung disebut sama “Chechen”.  Abu Omar al Shishani, etnik Chechen dari Georgia adalah salah satu dari para komandan perang yang paling dikenal dalam ISIS. Para “Chechen” itu memiliki seragam sendiri dan jarang diawasi atau bahkan berada sering kali berada diluar kontrol atau komando dari Raqqa. Akibatnya, hal ini sering menimbulkan ketegangan atau bentrokan dengan para jihadis Arab dan sekitarnya.”Saya pernah berada di Raqqa sekali, dan ada 5 atau 6 orang Chechen, Mereka marah tentang sesuatu. Sehingga mereka menemui amir di Raqqa. Dia sangat takut dengan kedatangan orang-orang Chechen sehingga memerintahkan ISIS untuk menempatkan para penembak jitu diatas gedung-gedung. Dia mengira orang-orang Chechen akan menyerangnya. Para penembak jitu berada disana hingga dua jam lamanya.”

ISIS menolak tapal batas yang dibuat kekuatan imperialis Eropa. Penolakan ini tidak pelak berimplikasi kepada konsekuensi yang tidak diinginkan, lahir apa yang disebut imperialisme jihadis. Kepemimpinan ISIS yang didominasi orang-orang Irak sebenarnya lebih berorientasi nasionalistik, yakni keinginan untuk mengembalikan kepemimpinan Sunni di Baghdad, sementara partnernya para muhajirun sendiri lebih berambisi untuk mengakhiri produk perjanjian Sykes-Picot. Hanya saja, mereka tidak menyadari bahwa mereka sebenarnya sedang dieksploitasi oleh para bekas orang-orang dekat Saddam Hussein.

Struktur keamanan mereka malahan mangadopsi struktur badan intelejen dari para penguasa tiran Arab yang sebenarnya ingin mereka hancurkan. Struktur keamanan ISIS dibagi menjadi empat badan keamanan terpisah, dimana masing-masing memiliki perannya sendiri. Ada Amn al Dakhili, semacam kementeriaan dalam negeri ISIS, yang bertugas menjaga keamanan masing-masing kota.

Ada al Amn al Askari, badan intelejen ISIS, yang bertugas melakukan pengawasan dan anatomi posisi musuh serta kemampuan berperang mereka.

Amn al Khariji, badan intelejen luar negeri yang bertugas mengirim para agennya ke garis belakang musuh untuk melakukan aksi spionase atau aksi terorisme. Namun konsep ‘garis belakang musuh’ tidak semata merujuk negara dan kota-kota di Barat, namun juga meliputi wilayah-wilayah yang dikontrol FSA (pasukan oposisi Suriah) atau rejim Assad. Secara teknis, konsep ini mencakup wilayah yang berada diluar batas khilafah dan operasinya melibatkan para intelejen asing.

Konsep ini menjadi krusial  untuk mengetahui bahwa organisasi ini sukses melebarkan sayapnya di Suriah dan Irak. Mereka menugaskan para  agen yang ditanam untuk merekrut agen dan informan baru atau sekedar mengumpulkan informasi tentang kelompok-kelompok lawan, baik itu dari para milisi atau tentara resmi. Abu Khaled berulang kali menekankan keahlian strategi ketimbang kecakapan berperang sehingga  mampu meluaskan dan menjaga wilayahnya.

Keseluruhan aparat diberi keleluasaan yang bersifat semi otonom, mengawasi apa yang dilakukan oleh yang lain hingga keatas. Departemen intelejen umum melaporkan kepada “amir keamanan” untuk suatu wilayah yang dikendalikan oleh para wakil amir di masing-masing distrik.  Sel mata-mata di tingkat lokal  melaporkan kepada wakil amir di tingkat distrik. “Tujuannya setiap orang mengawasi orang lain.”

In mengingatkan dengan model badan rahasia Uni Soviet KGB atau Stasi. Tentu ini bukan hal yang kebetulan karena para pemimpin utama ISIS adalah mantan anggota badan intelejen Irak pada masa Saddam Hussein dan mereka adalah bekas murid-murid organ keamanan Pakta Warsawa. Faktanya, orang yang membangun jaringan ISIS di Suriah adalah mendiang Haji Bakr. Dia adalah  kolonel di badan intelejen angkatan udara era Saddam.

“Sepekan sebelum saya keluar, saya duduk dengan kepala Amn al Khariji, Abu Abdur Rahman al Tunisi. Mereka mengetahui titik lemah FSA. Al Tunisi bicara kepada kepada saya; “Kita akan melatih orang-orang yang kita ketahui, orang-orang Suriah yang kita rekrut. Ambil, latih dan kirim mereka kembali ke tempat asal. Kita akan memberi mereka 200 ribu hingga 300 ribu dollar AS. Karena mereka punya uang, maka FSA akan menempatkan ke posisi penting.”

“Ini cara ISIS mengambil alih Suriah,” kata Abu Khaled. “Mereka punya kebun di desa-desa yang dikendalikan FSA, dan orang-orang itu ada di dalam FSA.”

Dengan kata lain: Tidak semua kelompok yang diduga sekutu Amerika di Suriah merupakan sekutu AS. Beberapa dari mereka, menurut Abu Khaled adalah orang-orang ISIS yang bekerja secara rahasia.

Abu Khaled menjadi anggota Amn al Daulah, atau keamanan negara ISIS. Ini seperti Shin Bet (Israel) atau FBI yang bertanggung jawab melakukan operasi konter intelejen (mulai dari mata-mata asing seperti FSA, rejim Assad, atau intelejen negara-negara sekitar atau Barat), mencegat komunikasi internal (seperti telepon atau membobol akun internet) dan menjalankan program terkenal mereka, penahanan. Mohammed Emwazi kelahiran Inggris, yang memiliki nama samaran “John Jihadi”, sosok yang terungkap dalam video rekaman pemenggalan kepala para tahanan Barat, namun kemudian tewas karena serangan drone AS adalah anggota al Amn al Daulah.

“Ketika setiap orang dari keempat cabang ini bekerja,” kata Abu Khaled, “biasanya mereka pakai penutup kepala.” Namun pada kasus Emwazi, identitasnya terbongkar karena adanya laporan dari seorang informan yang memperoleh gambar video yang bersangkutan berlarian disekitar Raqqa tanpa mengenakan masker penutup kepaala dan video itu dikirimkan ke London.

Biasanya para agen dimasing-masing cabang adalah orang Suriah, selain para pemimpinnya. Untuk sejumlah alasan, Abu Khaled tidak dapat menjelaskan, misalnya kepala amniyeen cenderung diberikan kepada orang Palestina dari Gaza.

Seperti halnya birokrasi-birokrasi lainnya, faktor teroritorial kerap kali menjadi pendorong konflik dan faksionalitas diantara mereka. “Kita punya militer dan amniyeen (polisi),” kata Abu Khaled. “Mereka tidak suka sama lain. Ketika saya biasa melatih amniyeen, teman-teman saya dari militer biasa mengatakan kepada saya, ‘Oh sekarang kamu lagi bekerja dengan para kufar ya?.”

 

 

 

 

Facebook Comments

Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/u692536656/public_html/wp-includes/class-wp-comment-query.php on line 405

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *