ISIS Inside : Kesaksian Mantan Orang Dalam (1)

*Michael Weiss

Butuh waktu cukup lama untuk meyakinkan orang yang kami sebut Abu Khaled  mau bercerita.  Berminggu-minggu percakapan lewat Skype dan Whatsapp sebenarnya telah menjadi satu biografi tersendiri sejak kami berinteraksi pertama kali dengannya di awal revolusi Suriah. Dia bergabung dengan salah satu cabang “keamanan negara” (Amn al Dawlah) Daulah Islam (ISIS), yang bertugas melatih para jihadis infantri dan rekrutmen agen asing. Kini, dia telah meninggalkan ISIS sebagai seorang pengkhianat, dan tak pelak menjadikan dirinya sebagai orang yang ditandai. Meski demikian, dia tidak ingin meninggalkan Suriah. Sementara itu, The Daily Beast (tempat Weiss bekerja) jelas tidak akan mengirimnya masuk  ke Raqqa, yang dikenal sebagai ibukota pemenggalan kepala dan penculikan. Saya sering bertemu dengan Abu Khaled di zona perang Suriah di masa lalu, sebelum bangkitnya ISIS. Ini yang membuatnya saya dapat mempercayainya, walau tidak semua. “Beruntung kamu, Amerika tidak mau bayar tebusan,” ujarnya bergurau. Sejak itu, kami mulai rileks sehingga guyonan tentang tawanan ISIS itu dilontarkannya.

Saya tahu dari pengalaman  bahwa dia dapat dipercaya, walau tidak sepenuhnya. Dia memiliki banyak informasi luar biasa tentang bagaimana cara kerja ISIS. Abu Khaled adalah saksi tangan pertama tentang gambaran kepemimpinan di dalam ISIS, mulai dari orang-orang Irak yang arogan hingga elit asing di tanah airnya, Suriah. Dia dapat menjelaskan cara kerja birokrasi dalam ‘cikal bakal negara’, kekejaman beragam alat keamanan ISIS, baik dalam mengawasi rakyat dan di antara mereka sendiri. Dia juga dapat menceritakan bagaimana banyak orang masih tetap bertahan dengan kekuasaan totalitarian, yang bahkan tidak berkurang sama sekali kekejaman dan tindakan ultra kekerasan yang mereka praktikkan.

Abu Khaled telah bekerja dengan ratusan pejuang asing di bawah bendera ISIS, yang beberapa diantara mereka telah kembali ke negaranya, sebagai bagian upaya kelompok ini untuk menanam sel rahasia di antara musuh-musuhnya.

Abu Khaled tidak ingin meninggalkan isterinya dan apartemen yang dimilikinya di pinggiran Aleppo. Dia juga tidak ingin mengambil resiko melakukan perjalanan jauh ke kota pelabuhan di Turki. Sejak dia keluar dari ISIS, dia mengaku sibuk membuat batalion sendiri yang terdiri atas 78 relawan untuk melawan bekas teman jihadnya.

Segala hal menarik sebenarnya telah saya tanyakan, namun kami perlu bertemu secara pribadi. Itu artinya, kami berdua harus mengukur resikonya.

Pemboman terburuk dalam sejarah modern Turki telah dilakukan oleh agen ISIS di jalanan Ankara, yang menewaskan sekurangnya 100 warga Turki tampak sekali menjelaskan konsep paling dasar ideologi khilafah model ISIS, yakni tapal batas tidak lagi relevan karena ISIS dapat menghampiri anda dimana saja anda berada. Ini yang ingin  anda ketahui. Ada kemungkinan  jika Abu Khaled masih menjadi mata-mata ISIS, dan apa yang dia lakukan masih menjadi bagian aksi operasi kelompok itu untuk menarik rekrutmen baru.

Bagi Abu Khaled, jika kita anggap ceritanya benar, maka resiko dia jelas lebih besar. ISIS mungkin akan melacaknya di seluruh ‘Wilayah Orang-Orang Kafir” dan segera menghukumnya disana. Ini pula yang telah dialami dua aktivis Suriah dari Raqqa yang dipotong kepalanya di Sanliurfa Turki pada akhir Oktober lalu. Dan ada agen-agen yang dididik langsung oleh Abu Khaled yang telah kembali ke negara asalnya untuk beroperasi “di belakang garis musuh”.

Ketika anda ada di badan intelejen, segala sesuatunya dikontrol,” tuturnya. “Anda tidak bisa begitu saja meninggalkan wilayah daulah Islam.” Ini khususnya akan menjadi sulit bagi dirinya karena semua perbatasan telah dikendalikan oleh aparat keamanan dimana dia pernah bergabung. “Saya melatih orang-orang ini. Kebanyakan mereka kenal saya.”

“Saya tidak bisa pergi, Mike,” dia mengatakan berulang kali, ketika kami chatting berjam-jam. “Saya kini kafir, “ orang tidak beriman dalam pandangan ISIS. “Saya dulu Muslim dan saya kini (dianggap) kafir. Anda tidak dapat kembali dari Muslim ke kafir dan kembali lagi menjadi Muslim. Hukumannya mati,” tambahnya.

Karena kondisi itu, tampak mungkin, atau bahkan lebih disukai jika dia bisa meninggalkan Suriah selamanya dengan membawa serta isterinya ke Istanbul dan selanjutnya menuju Eropa. Namun, dia menolaknya dan bahkan tidak pernah berpikir semacam itu. Abu Khaled berkata bahwa dia lebih siap mati di Suriah. “Anda pasti mati dimanapun juga. Bagaimana jika hal yang sama terjadi atas negerimu? Apakah kamu siap mati untuknya, untuk generasi mendatang atau sebaliknya anda akan melarikan diri?“, bantahnya.

Sepertinya persuasif, sehingga saya ingin menanyakan lebih banyak lagi. Saya terus bertanya dan bertanya. Dia harus tetap ditanya perihal  kontradiksi dalam pernyataannya. Saya mengamati bahasa tubuhnya, perubahan roman mukanya, cara berceritanya. Dan semua itu hanya dapat dilakukan secara personal.

Abu Khaled akhirnya bersedia. Dia meminjam sekitar 1000 dollar untuk melakukan perjalanan 750 mil jauhnya, dengan mobil dan bis dari Aleppo ke Istanbul pulang pergi. Kami bertemu akhir Oktober. Dan selama 3 hari lamanya, kami bertemu di Cafe, restauran dan taman di kota yang membelah sisi Eropa dan Asia. Saya mengamatinya lewat asap rokok yang dihisapnya, sambil menikmati kopi Turki yang pahit. Dia juga membalas menatap saya dan selanjutnya memulai ceritanya.

“Sepanjang hidup saya, benar saya  Muslim, tetapi saya bukan seorang yang relijius,” mengawali pembicaraannya. “Suatu hari, saya memandang dirinya saya lewat kaca, memiliki jenggot panjang. Saya tidak kenal dirisaya. Ini seperti orang lain. Ada orang lain di kepala saya, yang bukan saya.”

Tidak banyak para jihadis yang memiliki kata sempurna untuk menggambarkan “kerusakan otak”. Abu Khaled bukanlah orang muda fanatik yang ingin mencari syahid, namun dia lebih tampak sebagai orang Suriah dalam umur tiga puluhan yang memiliki kecakapan, termasuk ketrampilan militer yang dimiliki sebelumnya, sehingga dianggap bermanfaat oleh para pemimpin ISIS.

Dalam novelnya Money, Martin Amis menggambarkan wajah pelakunya seperti “diliputi kelesuan dan rasa capai”. Wajah Abu Khaled persis seperti gambaran novel itu, dihiasi jambang lebat, tampak jelas seperti wajah orang yang letih dan tersiksa.

Seperti teman-temannya lain, dia banyak terlibat perang yang kini memasuki tahun kelima. Dia bergabung dengan ISIS pada 19 Oktober 2014, sebulan setelah Operasi udara Koalisi Inherent Resolve yang dipimpin Amerika menghantam Raqqa, Provinsi bagian selatan yang dijadikan sebagai ibukota ISIS.

Abu Khalid merasa terpanggil karena dia menganggap Amerika adalah kaki tangan konspirasi global, yang dipimpin Iran dan Rusia dalam rangka mempertahankan kekuasaan Bashar al Assad. Dia memandang bahwa AS sedang memerangi Sunni dan membiarkan rejim Syiah Alawi yang bertanggung jawab atas pembunuhan massal, sementara pasukan Syiah Iran sama sekali tidak disentuh AS.

Selain itu, Abu Khaled mengaku dirinya sebagai petualang. “Saya kesana sebagai petualang, “ katanya. “Saya ingin mengetahui bagaimana orang-orang disana. Jujur saja, saya tidak menyesal. Saya ingin tahu mereka. Kini, mereka musuh saya-dan saya tahu kondisi mereka.” 

Prosedur yang mengantarnya masuk dalam birokrasi ISIS sepenuhnya terorganisir. Dia mendekati kota perbatasan Tal Abyad yang masuk dalam wilayah ISIS. “Mereka menanyai saya, ‘Mau kemana?’ Saya jawab; ‘Raqqa’. Mereka selanjutnya menanyakan mengapa. Saya jawab mau bergabung dengan ISIS. Mereka kemudian memeriksa tas bawaan saya.”

48254546.cached
Wilayah yang dikontrol ISIS

Setelah masuk ke Raqqa. dia harus pergi ke “kedutaan Homs”, nama untuk gedung administrasi ISIS, dimana semua warga harus mendaftar.  Dia menghabiskan dua hari disana, setelah itu dipindahkan ke apa yang dinamakan “Departemen Administrasi Perbatasan“.

“Pada awalnya mereka menganggap saya imigran karena saya tinggal di luar khilafah.” Maka Abu Khaled harus dinaturalisasi dulu dan mengikuti wawancara kewarganegaraaan yang dilakukan oleh seorang Irak yang bernama Abu Jaber.

“Mengapa kamu ingin menjadi mujahid?”, tanyanya. Dia menjawabnya dengan  sesuatu berkaitan dengan keinginannya berperang melawan orang-orang kafir Salibis. Maka, tidak lama, dia lolos dalam tes Abu Jaber.

Tahap berikutnya adalah indoktrinasi: “Saya pergi ke mahkamah Syariah selama dua pekan. Anda harus masuk kelas persiapan. Mereka akan mengajari anda bagimana membenci orang,” tawa Abu Khaled. “Dia diajari Islam model ISIS -bahwa non Muslim harus dibunuh karena mereka musuh masyarakat Islam. Ini adalah pencucian otak,” katanya.

Para ulama yang bertanggung jawab untuk program ini adalah para anak muda dari negara asing yang tidak tahu apa-apa. “Ada satu orang yang saya kenal berasal dari Libya, mungkin usianya sekitar pertengahan dua puluhan. “Apa yang menjadi otoritas Islam untuk anak yang begitu muda, “ tutur Abu Khaled tidak habis pikir. “Dan dimana  orang-orang Suriah?”

Di minggu pertamanya bergabung dengan ISIS, Abu Khaled bertemu dengan orang-orang Jerman, Belanda, Perancis, Venezuela, Trinidad, Amerika dan Rusia -semua orang-orang baru ini datang untuk menjadi pembela agama yang benar. Kurang lebihnya mantra ISIS adalah “tinggal (di wilayah Daulah) dan meluaskan (wilayah Daulah)”.

Banyak para jihadis internasional yang tidak bisa  bahasa Arab, maka sukarelawan bahasa seperti Abu Khaled menjadi sangat berharga. Dia cakap berbicara Arab, Inggris dan Perancis, maka tidak lama kemudian direkrut menjadi penerjemah. “saya punya dua kelompok”, katanya. “Di sisi kiri, saya memiliki kelompok Perancis dan menerjemahkan Arab ke Perancis; dan disisi kanan, saya ada orang-orang Amerika, menerjemahkan dari Arab ke Inggris.”

Sebagai bagian agitrop (Agitasi dan propaganda), ISIS sering mendemonstrasikan ritual bakar paspor kepada para muhajirin atau para pejuang asing  untuk menunjukkan bahwa mereka tidak akan kembali. Mereka semua melepaskan kewarganegaraannya di Dar al Harb, negeri perang dan tidak bertuhan, agar dapat menjadi warga Dar al Islam, negara orang-orang beriman dan damai (setelah memenangkan semua peperangan). Namun kebanyakannya hanya sekedar pertunjukan. Sebelumnya, para pendatang tetap memegang paspor mereka atau “menyerahkannya” “Kepada siapa?,” selidik saya. “Bagian sumber daya”, jawab Abu Khaled.

48254545.cached
Ledakan di Kota Kobane, Suriah yang menjadi basis Kurdi

Namun kebijakan personil yang relatif lebih rileks berubah sekarang. ISIS semakin meningkatkan pembatasan dan pengendalian setelah kalah dalam beberapa pertempuran, beberapa diantaranya dengan harga yang mahal.

Sebelum perang di basis Kurdi di kota Kobani tahun lalu, khilafah seperti memiliki aura tidak terkalahkan sehingga banyak orang dari penjuru dunia yang bergegas bergabung dengan bendera hitam mesianistik ISIS. Namun dalam pertempuran di Kobani yang berlangsung berbulan-bulan, paramiliter Kurdi yang dibantu pesawat udara AS ternyata lebih unggul. ISIS -seperti yang digambarkan Abu Khaled- mengirim secara sia-sia ribuan pejuangnya ke dalam medan pembantaian, karena tanpa kemampuan taktis dan strategis. ISIS kehilangan setidaknya antara 4000-5000 pejuangnya, yang kebanyakan non Suriah.

“Jumlah yang luka dua kali lipatnya dan tidak dapat lagi berperang,” tutur Abu Khaled. “Mereka kehilangan kaki atau tangannya.” Para imigran itu kemudian dianggap tidak berguna? Dia mengangguk. September tahun lalu, menjadi klimaks peningkatan rekrutmen para pejuang asing, yang menurut Abu Khaled derasnya para pejuang asing yang bergabung dengan ISIS sangat mengherankan dirinya. “Kami menerima 3000 pejuang asing yang datang setiap harinya untuk bergabung dengan ISIS, setiap harinya. Namun kini bahkan tidak bisa merekrut seharinya untuk  50 atau 60 orang.”

Akibat turunnya secara drastis rekrutmen membuat komando tertinggi ISIS merubah strateginya. Mereka meminta orang di luar  Suriah dan Irak untuk tetap berada di negaranya dengan tetap berhidmat kepada perjuangan ISIS. “Hal yang paling penting, “ kata Abu Khaled, “adalah bahwa mereka dapat menjadi sel tidur di seluruh dunia.” Kepemimpinan ISIS telah “meminta orang-orang untuk tetap tinggal di negeri mereka dan bertempur disana, membunuh orang, meledakkan gedung, atau apapun yang mereka dapat lakukan. Anda tidak perlu datang kesini.”

48254546.cached (1)
Pejuang ISIS merayakan kemenangan setelah menduduki Kota Tabqa dekat Raqqa.

 Beberapa jihadis di bawah pengawasan Abu Khaled telah meninggalkan Daulah dan kembali ke negara asalnya. Dia menyebutkan dua orang Perancis yang berusia 30 tahunan. Siapa nama mereka? abu Khaled mengaku tidak tahu. “Kami tidak menanyakan pertanyaan seperti ini. Kami semua dipanggil Abu.  Sekali anda menanyakan sejarah pribadi mereka, ini bahaya.”

Menyusul serangan Paris pada 13 November yang terjadi sebulan setelah pertemuan kami di Turki, saya kembali mengontak Abu Khaled. Di Aleppo, dia memberitahu saya bahwa di sangat yakin  satu atau dua orang Perancis yang dibinanya terlibat dalam serangan terkordinasi, serangan terburuk Perancis sejak Perang Dunia II, yang menewaskan setidaknya 132 orang dan melukai banyak lainnya. Dia mengatakan kini sedang menunggu foto pelakunya dimuat di pers internasional.

Pada waktu itu, dia menggambarkan sosok fisik mereka. Pertama, seorang Afrika Utara, mungkin dari Aljazair atau Maroko, botak dengan tinggi dan berat badan rata-rata. Yang satunya, adalah orang Perancis bermata biru, rambut pirang dan pendek, sepertinya baru masuk Islam, yang memiliki isteri dan anak berusia 7 tahun.

Tampak seperti informasi bermanfaat, saya kemudian menanyakan apakah dirinya memperingatkan orang tentang kedua pria itu? “Ya”, jawabnya.

 

 

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *