Islam Tidak Bertanggung Jawab atas Kebangkitan ISIS (1)

Peter Obone

Berikut ini adalah seri tulisan Peter Obone yang membantah film dokumenter Tom Holland tentang ISIS: The Origins of Violence yang membangun tesis keterkaitan ajaran Islam dengan ekstrimisme ISIS. Simak dalam serial tulisannya yang dimuat dalam Middleeasteye.

Tidak seperti banyak sejarahwan lainnya, Tom Holland menulis buku yang membawa kembali masa lalu dalam kehidupan sekarang. Ini menjadikan dirinya sebagai asset nasional yang sangat berharga.

Namun saya sedemikian kaget dengan karya dokumenternya tentang ISIS yang berjudul “ISIS: Asal Usul Kekerasan”.

Film itu berargumen bahwa kekerasan ekstrim yang dilakukan ISIS harus diinterpretasikan dalam cara signifikan sebagai manifestasi ajaran Islam sendiri.

Holland mengajukan tesis bahwa pasukan Usmani yang merebut Konstantinopel pada 1453 adalah awal bagi kebangkitan ISIS. Dia kemudian mengaitkannya dengan institusi politik Sunni yang paling terkenal, yakni Khilafah.

Dia juga mengaitkan ISIS dengan teks dari Al Qur’an yang menyatakan bahwa kekejaman ISIS secara langsung terkait dengan ajaran dalam kitab suci Al Qur’an.

Dia menggunakan Rasulullah Muhammad SAW , yang dianggap oleh semua Muslim sebagai manusia sempurna memberi dasar bagi perilaku genosida ISIS pada abad 21 ini.

Holland membandingkan wahyu dan hadist tentang Rasulullah sebagai “ranjau yang menunggu untuk meledak, bahan peledak yang disempurnakan, dan mereka ada selama berabad-abad dan sesuatu penting terjadi untuk memicunya dan anda akan mendapatkan hal ini.”

Dengan basis argumen ini, Holland secara implisit menuntut Islam harus mereformasi dirinya sendiri.

Kami sering mendengar variasi dari tesis ini -bahwa Islam dan peradaban barat liberal tidak dapat duduk berdampingan- dari pelbagai kelompok seperti English Defense League, para ideolog Donald Trump, lembaga think tank neo-konservatif, koran-koran partai sayap kanan di Eropa.

Namun jarang terdengar dari salah satu para intelektual terhormat yang disuarakan oleh TV Channel 4 yang berkelas.  (Film ditayangkan oleh Channel 4 pada 17 Mei)

Inilah mengapa saya yakin bahwa analisis skeptik dari klaim dokumenter ini dibutuhkan.

Ideologi Baath Dibalik ISIS

Saya adalah pengagum Holland. Namun, argumen yang dibuatnya dalam film ini sama sekali tidak jujur secara intelektual. Dia gagal memasukkan informasi yang tidak sesuai dengan tesisnya dan buruknya mendistorsi fakta yang seolah-olah mendukungnya.

Problem pertama adalah pandangan Holland tentang asal usul ISIS yang diabaikannnya, Ada dua fakta penting tentang ISIS:

Asal muasal kelompok ini adalah invasi AS di Irak adan dampaknya yang brutal pada 2003.

Pasukan Baathis Saddam Hussein dibubarkan oleh koalisi, namun para tentaranya tidaklah hilang. Tersingkir dari kehidupan mereka, banyak pengikut Baathis berubah menjadi musuh gigih AS dan rejim baru di Baghdad.

Para pejuang ini melakukan persekutuan dengan Abu Musab al Zarqawi, seorang Salafi Jihadi dan pemimpin Al Qaeda di Irak. Meskipun Zarqawi pada akhirnya tewas dalam serangan udara AS pada 2006, namun organisasinya yang ganas dengan cepat berevolusi menjadi IS (Islamic State) yang kita ketahui sekarang.

Banyak para pimpinannya pernah ditahan di penjara Abu Ghraib dan Bucca, dimana mereka membangun kontak dan mengembangkan strategi penaklukan yang menggegerkan Timur Tengah beberapa tahun kemudian.

Latar belakang ini menjelaskan mengapa para pakar memperkirakan sepertiga komandan ISIS adalah mantan para prajurit Baathis.

Para pakar mengatakan bahwa dua tangan kanan pemimpin ISIS Abu Bakr al Baghdadi adalah Iyad Al Obaidi dan Ayad al Jumaili adalah mantan perwira Irak pada era Saddam Hussein.

Sepanjang berkaitan dengan eksistensi para komandannya, maka ISIS adalah proyek renaisan Baathis, insitusi sekuler yang bertujuan mendapatkan kembali status dan kekuasaan yang telah dipreteli dari mereka pada 2003.

Dengan kata lain dari jurnalis Der Spiegel Christoph Reuter yang mempelajari tentang ISIS:“Tidak ada hal yang relijius dari tindakan, perencanaan strategis, perubahan aliansi dan narasi propaganda yang dipraktekkannya.”

Keyakinan bahkan dalam bentuknya ekstrim hanya salah satu dari alat untuk mencapai tujuan. “Negara Islam (ISIS) hanya alat konstan untuk perluasan kekuasaan bagaimanapun caranya.”

Namun sayangnya pandangan Tom Holland tentang ISIS sama sekali tidak menyebut asal muasal Baathis didalamnya.

Sama halnya menghilangkan adanya faktor Arab Saudi didalamnya. Mantan agen M16 Alastair Crooke menjelaskan, tidak mungkin untuk memahami ISIS tanpa mengetahui tentang kesepakatan yang dibuat antara Dinasti Saud dengan pengikut Muhammad bin Abdul Wahhab, pendiri Wahabi.

Wahabi percaya bahwa Muslim perlu kembali ke Tauhid dan bahwa penyebaran dakwah Nabi Muhammad SAW berpijak kepada Tauhid.

Dia mempertahankan pandangan bahwa Islam harus dibersihkan dari semua penyembahan kepada sesama manusia dan semua Muslim hanya pilihan apakah tunduk kepada perilaku bid’ah (seperti peringatan Maulid) atau dihukum mati dengan semua harta bendanya dirampas.

Wahabi dan pemimpin suku Ibnu Saud menjalankan doktrin ini melalui kampanye penghancuran dan kematian pada 1802, menewaskan ribuan orang di Karbala, merampok makam-makam orang suci, sebelum kemudian merebut Taif, Mekkah dan akhirnya Medinah. Semua itu dijalankan dengan pedang dan senjata.

Kitabut Tauhid menjadi buku rujukan terpenting orang-orang yang direkrut ISIS.

Ada satu ledakan lain Wahabisme setelah PD I, yakni keterlibatan seorang pejabat militer Inggris, Harry Saint John Philby (ayah mata-mata Kim Philby) menawari Abdul Azis, kemudian sebagai penguasa Nejd untuk menjadi raja bagi semua wilayah Arab sebagai pengganti Usmani.

Wahabisma adalah alat bagi Abdul Azis, hanya saja dia membutuhkan dukungan dari pemerintah Inggris untuk memperkuat dominasinya. Untuk melakukan ini, dia membutuhkan gerakannya tampak seperti negara modern (Philby -pun menasehatinya dengan baik), yakni pasukannya yang suka memenggal kepala dan penghancur tempat-tempat suci harus dikendalikan.

Inggrispun akhirnya bersedia membantunya, senapan mesin dan pesawat Inggris digunakan untuk membunuh hampir semua anggota Ikhwan yang membangkang Abdul Azis pada 1929.

Baca: ISIS, “Ikhwan” dan Wahabisme

Philby akhirnya memeluk Wahabisme dan menjadi penasehat senior Raja Abdul Azis.

Kontradiksi antara Wahabisme sebagai ajaran dengan keluarga kerajaan yang pro Barat sebenarnya sangat dalam. Target nyatanya ISIS seperti dijelaskan oleh Holland dalam dokumenternya adalah bukan Barat, namun  sebagai kemarahan Wahabi terhadap keluarga kerajaan yang korup.

Maka dapat disimpulkan adalah ISIS merupakan kombinasi mematikan antara keahlian militer para jenderal Baathis dengan para pengikut Wahabisme. Hanya saja, dokumentasi ini sama sekali tidak menyingggung peran Baathisme Irak dengan Wahabisme Arab Saudi. 

Kegagalan Holland tidak pelak menimbulkan serangkaian kontradiksi dalam filmnya. 

 

Bersambung.

 

 

 

 

 

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *