Islam Tidak Bertanggung Jawab atas Kebangkitan ISIS (2)

Kegagalan ini menyebabkan pandangan Holland terjebak dalam banyak kontradiksi.

Misalnya, bagaimana Holland melihat biara Mar Mattai di Irak utara, sebelah selatan Mosul. Dia mencatat bahwa 1200 tahun yang lalu, kawasan ini menjadi “detak jantung Kristen”.

Dia mengatakan bahwa “wilayah-wilayah Kristen disana menikmati masa-masa keemasannya“. Dia juga mengatakan “hanya ada sedikit  biarawan yang meninggalkan tempatnya, dan jika biarawan meninggalkan tempatnya dan menuju dua desa Muslim didekatnya, maka mereka akan dibunuh oleh Kristen lainnya di tempat itu juga”.

Dia mengatakan bahwa untuk pertama kalinya dalam 1500 tahun, keberadaan mereka tidak lagi terdengar di Mosul, “Dan alasannya,” katanya,“adalah tanah-tanah itu yang dulunya sebagai tanah Kristen kini menjadi Daulah Islam (ISIS).”

Dia menuduh bahwa merosotnya penduduk Kristen di wilayah itu berkaitan dengan adanya dikotomi yang salah antara Kristen dan Islam (dan ISIS).

Namun apa yang disampaikan dalam dokumenternya sama sekali tidak menyebutkan bahwa 1200 tahun yang lalu, tanah yang disebutnya sebagai “jantung Kristen ini” selama ratusan tahun dipimpin oleh penguasa Muslim.

Periode disaat orang-orang Kristen menikmati kemakmurannya seperti yang dia sendiri sebutkan adalah periode dimana ketika mereka hidup dibawah kekuasaan Islam, yang coba diadopsi ISIS. (Bendera yang digunakan ISIS adalah bendera kekhilafahan Abbasiyah).

Era yang disebutnya sebagai “era keemasan Kristen” terjadi di wilayah yang disebut sebagai “era keemasan Islam.”

Memang benar konsep koeksistensi damai adalah konsep yangtidak sederhana dan mudah dijalankan. Namun kedatangan Salahuddin al Ayyubi, seorang Kurdi Sunni yang mendirikan Dinasti Ayyub, setelah sukses menundukkan banyak wilayah wilayah pernah mendorong larinya banyak para biarawan meninggalkan biara mereka, namun kondisi tersebut tidak berlangsung lama, karena kemudian mereka kembali dan menikmati kembali masa keemasannya. Hanya kemudian, Mongol datang dan menghancurkan sebagian biara tersebut pada akhir abad 13.

Biara-biara tersebut ditinggalkan hingga 1795 hingga penguasa Usmani datang. Biara tersebut kembali direnovasi dan bahkan didirikan dinding pemisah.

Kristen tidak hilang di Mosul karena wilayah ini sejak lama telah menjadi wilayah Muslim. Kristen hilang karena wilayah itu berada dibawah kekuasaan tanpa toleransi agama. Ini yang dilakukan ISIS, bukan Islam  seperti yang dituduhkan disaat orang-orang Kristen di Irak Utara sedang berhadapan masa-masa sulit.

Namun Holland gagal menanyakan bagaimana biara-biara tersebut menikmati masa kebangkitannya dibawah kekuasaan Usmani yang kembali menurutnya menjadi awal bagi kebangkitan ISIS.

Dengan tesisnya tersebut, Usmanilah yang seharusnya menghancurkan biara-biara tersebut dan mengusir para biaranya setelah 1453. Namun hal yang sebaliknya terjadi: Usmani mengijinkan orang-orang Kristen kembali mendiami biara-biara tersebut dan merenovasinya megah seperti sebelumnya.

Penguasa Usmani tidak hendak menindas orang-orang Kristen apa yang menjadi bagian wilayahnya. Usmani melihat orang-orang Kristen sama seperti memperlakukan orang-orang Yahudi yang dianggap sebagai ahlul kitab yang harus dilindungi.

Baca: Ketika Khilafah Islam Selamatkan 150 ribu Yahudi

Seperti dikatakan sejarahwan Bernard Lewis, posisi Kristen dan Yahudi di khilafah Usmani “Jauh lebih menyenangkan dan mudah ketimbang non Kristen atau Kristen pembuat Bid’ah pada era Katolik Eropa.”

Kegagalan Intelektualitas

Holland gagal menunjukkan kepada para pemirsanya. Dengan bersikap jujur maka Holland harusnya berpendapat bahwa Islam bukanlah ancaman substansial terhadap orang-orang kafir, katakanlah Kristen.

Saya Kristen, saya anggota Gereja Inggris dan rutin beribadah disana. Saya menyesal untuk mengatakan bahwa saya dapat mudah membuat film dokumenter tentang Kristen dan kekerasannya jika mau seperti yang dilakukan oleh Holland tentang ISIS dan Islam.

Saya dapat menggali banyak ayat dari Injil dimana Tuhan memerintahkan kita untuk membunuh orang-orang kafir. Saya juga dapat mengisahkan beberapa ayat mengerikan tentang hukuman kepada para pezina dan mengutipnya di luar konteks yang dimaksud.

Saya juga dapat mengantarkan kembali ke era abad pertengahan yang membandingkan tindakan orang-orang Kristen dalam pasukan Salib ketika merebut Yerusalem pada `1099 dengan tindakan Khalifah Umar pada 450 sebelumnya, yakni 1099 atau Salahuddin seabad berikutnya, 1187.

Saya juga dapat bercerita tentang Sebrenica pada 1995, satu-satunya praktik genosida di Eropa selepas PD II. Saya dapat menjelaskan bahwa genosida tersebut dilakukan oleh orang-orang Kristen seperti yang diakui oleh Justin Welby, uskup Canterbury, Inggris di BBC setelah insiden di Jembatan London beberapa waktu lalu.

Saya dapat bercerita bagaimana orang-orang Serbia mendirikan banyak gereja di perbatasan Bosnia-Serbia dalam rangka mengusir orang-orang Muslim. Saya juga dapat bercerita bagaimana Mladen Grujiac, walikota Sebrenica Kristen yang hingga kini membantah genosida pernah terjadi di kotanya diundang oleh Presiden Donald Trump dalam acara doa bersama di Gedung Putih pada Februari lalu.

Saya dapat menunjukkan bagaimana gereja-gereja Kristen tutup mata atas praktik Holocoust Nazi terhadap Yahudi sementara pada saat bersamaan mengatakan bahwa pandangan Kristen Martin Luther yang menolak sikap Anti Yahudi telah menebar benih teror di masa depan.

Saya juga dapat menunjukkan bahwa genosida di Rwanda dua dekade lalu dilakukan oleh para pemimpin gereja lokal.

Namun cara pandang  ini selektif dan generalisasi tersebut tidak adil. Ketika saya melaporkan berita di Sebrenica awal tahun lalu, saya hati-hati untuk menyalahkan Kristen. Dengan tidak berhati-hati,  berarti saya mengabaikan fakta banyak kebajikan dan amal kemanusiaan telah dilakukan gereja di seluruh dunia yang tak terhitung banyaknya, kebenaran abadi dalam keyakinan saya adalah keyakinan Kristen.

Dalam waktu yang sama, saya juga dapat menceritakan pelbagai kekejaman yang dilakukan oleh penganut Budha yang normalnya sering disebut sebagai agama tanpa kekerasan.

Beberapa pekan lalu, saya pergi ke Myanmar untuk mendokumentasikan penindasan atas Muslim Rohingya. Saya menggunakan istilah kekerasan Budha karena peran yang dilakukan para pendeta Budha dalam menyulut kebencian terhadap Muslim.

Namun sekali lagi, ini adalah tindakan tidak adil. Diluar banyak faktor yang berkelindan.

Holland tidak lebih dari contoh orang-orang bingung. Ini  merupakan kegagalan intelektualitas karena memaksa untuk berkesimpulan bahwa ISIS adalah wakil sah Islam.

Coba anda pikirkan.

ISIS mengklaim legitimasi merekasebagai tindakan atas nama Islam. Padahal mayoritas ulama dan intelektual Islam menolak pandangan ini karena mereka berprinsip Islam adalah agama damai.

Para ulama mengatakan bahwa tindakan ISIS bertentangan dengan ajaran Rasulullah. Lantas mengapa ada seorang sejarahwan Inggris yang dihormati tiba-tiba mengatakan bahwa klaim organisasi ini benar?

 

Baca: Islam Tidak Bertanggung Jawab atas Kebangkitan ISIS (1)

Bersambung ke Bagian Ketiga

 

 

 

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *