Kalangan Reformis Iran Peringatkan Implikasi Kejatuhan Aleppo bagi Iran dan Syiah

Kejatuhan Aleppo, khususnya perilaku yang ditunjukkan oleh pasukan pro Assad telah membuka borok perpecahan mendalam dikalangan para pemimpin religio-politik diseluruh Timur Tengah.

Ayatullah Mohammad Emami Kashani

Ayatullah Mohammad Emami Kashani, ulama yang memimpin sholat Jumat di Teheran mengatakan dua pekan lalu bahwa “kemenangan Aleppo” adalah kemenangan “Muslim atas orang-orang kafir”, yang menjadi pukulan bagi para pemberontak Sunni yang sedang berperang melawan rejim Assad untuk mempertahankan kota tersebut.

Ulama garis keras, 78 tahun ini memberi khotbah di Universitas Teheran, yang menjadi tanggung jawab bergilir diantara para elit ulama di Iran.

Namun sebaliknya, Syeikh Subhi al Tufayli, salah satu ulama Syiah terkemuka di Lebanon menyampaikan khotbah yang berbeda.

“Pesawat tempur Rusia sedang mengebomi negara Muhammad dan sayangnya, kita bersama dengan mereka hari ini seperti halnya kita bersama mereka kemarin -berbahagia karena membunuh anak-anak Muslim.”

Tufayli adalah sekjen Hizbullah pertama kali sejak pendiriannya pada 1989 hingga 1991. Dia sebelumnya mengkritik tajam keterlibatan Iran dan Hizbullah dalam perang sipil di Suriah.

“Perhatian”, sarannya kepada jamaah Jumat,“Semua upaya, tekanan, militer dan perang melawan oposisi Suriah yang tulus. Meskipun faksi ISIL harus ada untuk rejim dan sekutunya agar keduanya dapat dibandingkan. Tak seorangpun dapat menerima ISIL, maka mereka harus menerima rejim.”

Di akhir khotbahnya, Tufayli mengatakan: “Orang-orang ini (pasukan pro Assad) mengklaim bahwa mereka sedang memerangi organisasi teroris. Anda membesarkan mereka (ISIL) dan terus melanjutkannya. Anda sebenarnya teroris. Anda adalah pembunuh baik secara rahasia maupun terang-terangan. Dan biar saya katakan kepada anda: Jika anda berhasil merebut Aleppo dan ratusan warga Aleppo -anda tetap dapat dikalahkan.”

“Saya yakin  Rusia tidak akan dapat tenang di Suriah,” katanya tentang intervensi Moskow di Suriah.

“Mereka akan berperang hingga mereka dapat ditundukkan, dan saya nasehati mereka yang mendukung Rusia untuk mundur. Jangan senang dengan pembunuhan yang anda lakukan atas anak-anak Aleppo. Jangan senang dengan pengusiran yang anda lakukan di Aleppo!”.

Kalimat keras bukan hal yang baru bagi Tufayli, yang sebelumnya menyandingkan pemboman Aleppo dengan tragedi Karbala, yakni perang penting dalam sejarah Islam yang diperingati dalam kesedihan oleh para Muslim Syiah.

“Akan Butuhkan 20 Tahun untuk Menyelesaikannya”

Diplomat reformis Mir Mahmoud Mousavi -anggota dinasti politik di Iran juga turut mengkritik pembantaian di Aleppo, katanya:

“Kejatuhan Aleppo tidak berarti apa-apa kecuali “dua malam kegembiraan” yang akan dibayar Teheran 30 tahun berikutnya.”

Pembunuhan 300 ribu warga dan pengusiran 12 juta lainnya di Suriah hanya akan mengundang kebencian dan kekerasan; ada 10 juta keluarga Suriah yang terdampak dan hidup ditengah kebencian,” katanya.

“Ini akan membutuhkan dua dekade untuk menyelesaikannya,” ujarnya seraya menambahkan bahwa “kondisi di Suriah akan semakin memburuk setelah itu.”

Mir Mahmoud Mousavi berasal dari dinasti politik yang penting di Iran.

Saudaranya adalah Mir Hossein Mousavi, mantan PM Iran antara 1981-1989.

Mir Hossein Mousavi pernah maju menghadapi Mahmoud Ahmedinejad dalam pemilu presiden pada 2009 dan kalah ditengah tuduhan adanya pemalsuan suara sehingga mengundang aksi protes. Dia hingga kini masih menjalani hukuman tahanan rumah.

Seorang akademisi Syiah dan juga analis politik Hareth Suleiman juga memiliki pandangan yang buruk atas prospek perdamaian di kawasan ini setelah kejatuhan Aleppo.

“Anda telah menanamkan benih kematian, kehancuran, kebencian dan kebiadaban,” tulisnya dalam akun facebook. “Maka tunggulah musim panennya.”

Dia menyebut peristiwa di Aleppo sekarang sebagai “rasa malu  dan kemunduran atas status kemanusiaan.”

“Malulah anda para monster Putin, Khameini, Assad dan para relawan perang dari seluruh pelosok dunia, mereka yang menari kegirangan atas kejahatannya dan mereka yang bersuka cita dengan darah anak-anak dan tangisan para wanita,” tulisnya.

“Kemenangan yang anda rayakan,” tambahnya,“Bukanlah kemenangan untuk anda, tidak hari ini maupun lusa.”

“Waktunya untuk Penaklukan Islam”

Pandangan banyak orang tentang pengambilalihan Aleppo tidak dapat dipisahkan dari pandangan para elit militer Iran.

“Ini saatnya untuk penaklukan Islam,” kata Jenderal Hossein Salami dari pasukan garda pengawal revolusi kepada media Iran.

“Setelah pembebasan Aleppo, harapan Bahrain akan segera terealisasi dan Yaman akan senang dengan kekalahan musuh-musuh Islam,” tambahnya mengacu kepada beberapa konflik lain di kawasan Timur Tengah.

Hanya saja, dalam pertemuan Menlu Iran-Rusia dan Turki di Moskow tentang masa depan Suriah, Menlu Iran Mohammad Javad Zarif mengatakan bahwa hanya ada satu solusi politik bagi konflik di Suriah -bukan militer.

Namun pelbagai laporan menyebutkan bahwa kesepakatan evakuasi Aleppo yang didesakkan Turki di mata Iran dan milisinya lebih banyak memberikan keuntungan kepada para pemberontak Suriah.

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *