Kaum Muslimin Spanyol Meminta Bantuan Sultan Usmani

Sejarah politik Islam dapat dilihat sebagai siklus naik turun dan antara kuat dan lemah. Khalifat Abbasiyah yang berkontribusi banyak atas perkembangan matematika dan sains dari abada 8 hingga 11 pada akhirnya jatuh seiring dengan kehancuran Baghdad pada 1258. Dinasti Usmani yang bangkit dari abu kehancuran pada satu sisi menjadi imperium paling kuat di Eropa, namun juga pada akhirnya jatuh seiring berakhirnya Perang Dunia I. Pelbagai contoh ini menjelaskan bangkit dan jatuhnya masyarakat Muslim. 

Dalam siklus jatuh bangunnya, ada waktunya ketika satu masyarakat yang jatuh berbarengan dengan bangkitnya satu masyarakat yang lain,  sehingga berujung adanya interaksi atas keduanya. Salah satu kasus yang terjadi pada akhir abada 15 atau awal abad 16, ketika Andalusia di Mediterania barat kehilangan kemerdekaannya, sementara imperium Usmani bangkit menjadi kekuatan utama di Timur. 

Pada 1492, pemerintahan Muslim terakhir di Iberia, kesultanan Granada jatuh dibawah Kerajaan Castile dan Aragon yang kemudian bernama Spanyol. Para penduduk Muslim yang tersisa, yang disebut Morisco, yang sebelumnya dijanjikan kebebasan beragama oleh kerajaan Katolik, namun pada 1402, dekrit kerajaan memaksakan ajaran Katolik kepada seluruh penduduk Muslim dan setiap Muslim harus berpindah agama atau menghadapi hukuman berat.

Dalam suasana penindasan agama, pada 1502, seorang penyair Andalusia menulis surat permohonan bantuan kepada Sultan Usmani Bayezid II (1481-1512) yang berbunyi:

“Maka ketika pasukan kaveleri dan pejalan kaki telah musnah dan kami mendapati tidak ada pertolongan dari saudara-saudara kami,

Dan ketika makanan terakhir kami telah habis, persedian kami menipis, kami tunduk meskipun melawan kehendak kami atas tuntutan mereka, karena takut dihinakan,

Dan takut anak-anak kami ditangkap atau secara keji dibantai,

Dengan keadaan kami yang masih tetap seperti Mudejar (Muslim Andalusia) sebelum kami, para penduduk di wilayah lama,

Dan bahwa kami diijinkan untuk tetap mengumandangkan adzan dan berkhutbah, sementara kami tidak dipaksa untuk meninggalkan ajaran agama kami. 

Dan bahwa siapapun dari kami sangat ingin menyeberangi lautan agar selamat, sampai ke pantai (Afrika) dengan harta yang kami miliki,

Demikian pula ketetapan lain,

Maka Sultan mereka (Fernando of Aragón) dan para bangsawan mereka mengatakan kepada kami: “Apa yang anda inginkan terkabulkan untuk anda semuanya,”

Menunjukkan kepada kami dokumen yang berisi pakta dan perjanjian:”Ini adalah amnesti dan perlindungan saya kepada anda,

Maka tetaplah berbahagia dengan harta benda dan rumah anda seperti sebelumnya, tidak diganggu.”

Namun ketika kami berada dibawah perjanjian perlindungan, pengkhianatan mereka terhadap kami menjadi nyata setelah dia melanggar perjanjian.

Dia melanggar perjanjian, dia menipu kita dan memaksa kita masuk Kristen dengan paksaan, dengan kekejaman dan kebrutalan, 

Membakar buku-buku yang kami punya dan merobek-robeknya dan digunakan cebok,

Meskipun buku-buku itu adalah kitab agama kami. Namun. mereka tetap bakar dengan penghinaan dan ejekan,

Tidaklah mereka tinggalkan satu kitabpun kepada Muslim ataupun satu lembar yang dapat dibaca dalam kesunyian.

Siapapun dari kami yang puasa maupun shalat, dan ketika hal itu diketahui, maka mereka dilemparkan kedalam api,

Dan siapapun dari kami tidak pergi ke tempat-tempat beribadah mereka, maka para pendeta akan menghukumnya dengan pedih, 

Apalagi, saat Ramadhan, mereka menghina kami dengan makan dan minum,

Dan mereka memerintahkan kami untuk mengutuk Rasulullah dan dilarang menyebut namanya disaat tenang maupun susah.

Jika mereka mendengar ada orang menyebutkan namanya, maka mereka akan menderita luka di tangan mereka,

Maka para hakim, gubernur menghukum mereka dengan pukulan, pemenjaraan, dan penghinaan.

Siapa saja yang terbaring sekarat, dan tidak dapat hadir dalam kebaktian, mereka tidak bersedia menguburkannya, 

Sebaliknya dia biarkan tergeletak seperti keledai atau binatang yang mati. 

Mereka terus melakukan banyak hal yang sama, perbuatan memalukan dan banyak tindakan keji lainnya. 

Nama-nama kami diubah dan diberi nama baru tanpa persetujuan dan keinginan kami. 

Bahkan Sungguh mereka mengubah agama Muhammad untuk menjadi anjing-anjing Kristen, mahkluk paling buruk!

Sungguh nama-nama diubah dengan nama-nama non Arab!

Sungguh anak-anak kami harus menghadap pendeta setiap paginya,

yang mengajari mereka kekafiran, kemusrikan dan kesesatan sementara mereka tidak dapat membendung orang-orang Kristen sama sekali,

Sungguh masjid-masjid diubah menjadi kandang binatang!

Sungguh menara-menara masjid diganti dengan lonceng-lonceng gereja!

Sungguh kota-kota yang indah kini menjadi tempat-tempat yang gelap!

Mereka menjadi benteng ibadah orang-orang Kristen, dengan begitu mereka menjadi aman dari serangan-serangan,

Kami menjadi budak, bukanlah tawanan yang dapat ditebus, ataupun seorang Muslim yang tetap bertahan dengan keyakinannya!

Maka, hendaklah lihatlah apa yang terjadi dengan kami, mereka telah menguras air mata kami.

Sungguh, sungguh celakalah kami, celakalah kepedihan yang menimpa kami, yang membahayakan, menyedihkan karena jubah penindasan!”

 

Sumber: “Morisco Appeal to the Ottoman Sultan.” Medieval Iberia: Readings from Christian, Muslim, and Jewish Sources. Ed. Olivia Constable. Philadelphia: U of Pennsylvania, 2012.

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *