Kekerasan Daesh di Mesir

Daesh mengaku bertanggung jawab atas tewasnya 29 warga Koptik Mesir Jumat ketika mereka dalam perjalanan menuju Dier Anba Samwail, barat Minya di Mesir Atas. Ini ketiga kalinya Daesh menarget warga Koptik dan membunuh mereka karena alasan agama. Ini setelah sebelumnya mereka membom Gereja Botroseya 12 Desember dan pemboman Ahad Agung di Gereja Mark Girgis di Tanta, demikian pula Gereja Ortodok St Mark di Alexandria pada 9 April serta menewaskan 46 orang dan melukai puluhan lainnya. 

Serangan Daesh terakhir atas 2 bus dan sebuah truk yang mengangkut warga sipil, termasuk anak-anak menjadi indikator paling menyakitkan peran keamanan dan akibat krisis politik di Mesir. Serangan ini menjadi poin pembunuhan warga sipil di siang bolong tanpa pengawasan keamanan atau perlindungan dari negara, sementara rejim mengklaim bahwa mereka sukses  menjaga keamanan negara. Serangan ini membawa banyak kejahatan dan tindakan tidak manusiawi. 

Menurut pengakuan korban kejahatan:

“Orang-orang bersenjata keluar dari mobil truk dan menghentikan dua bis dan truk dijalan tidak beraspal menuju gereja. Mereka meminta penumpang keluar dari mobil dan mulai menembaki mereka. Insiden tersebut direkam di video dan mereka meninggalkan begitu saya korbannya.”

Eksekusi kejahatan di wilayah dengan tanpa aparat keamanan dan sarana komunikasi merefleksikan derajat perencanaan, persiapan dan riset yang dilakukan oleh para pelaku atas wilayah dan topografinya. 

Kekerasan sektarrian atas Koptik Mesir bukan sesuatu yang baru, dan jika Daesh menarget mereka sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Mereka telah secara terbuka mengatakan dalam pernyataannya beberapa bulan lalu akan menyerang kelompok agama lain dan tidak hanya karena sikap politiknya saja. Daesh mengeksploitasi krisis politik yang terjadi saat ini untuk membenarkan tindakan brutalnya. 

Organisasi itu tidak hanya mencoba membalas posisi politik gereja yang dianggap mendukung pemerintah sekarang, namun juga sebagai persiapan  untuk melikuidasi dan memusnahkan mereka. Hal yang sama juga dilakukan rejim Mesir kepada para penentang politiknya, khususnya Ikhwanul Muslimin. 

Sejak Desember lalu, jumlah serangan terhadap kelompok Koptik, masih atas gereja atau di jalanan meningkat. Tampaknya, setiap Koptik sekarang menjadi target Daesh. Kita boleh jadi akan menyaksikan tindakan Daesh di masa akan datang dalam membantai warga Koptik di jalanan, sebagaimana mereka telah lakukan di Sirte Libya 2 tahun yang lalu. 

Meskipun tidak logis untuk meminta tanggung jawab penduduk atas peristiwa ini, namun kebanyakan warga Mesir menganggap gereja bertanggung atas kondisinya sekarang karena dukungannya terhadap pemerintah. Kita tidak dapat menghilangkan tanggung jawab pemerintah yang menggunakan warga Kristen sebagai bidak dalam pertarungan politik keji demi mempertahankan kekuasaan. 

Secara politik, pemerintah sekarang benar-benar bertanggung jawab atas situasi sekarang ini di Mesir, yang meremehkan krisis yang terjadi sejak 2013. Pemerintah masih menganggap tidak ada krisis tersebut dan dalam banyak hal justru berkontribusi atas meluasnya krisis tadi. Ini termasuk melebarnya polarisasi dan perpecahan, tidak hanya politik, sosial namun juga fungsional. 

Krisis ini telah menjadikan konflik politik menjadi gerbang penindasan, pembunuhan dan likuidasi. Krisis ini telah memberikan dalih politik bagi gerakan radikal untuk membalas dendam kepada pemerintah dan para pendukungnya, termasuk penduduk Koptik. Benar bahwa pentargetan mereka tidak semata didasari motivasi politik, seperti saya telah sebutkan sebelumnya, namun sebagai bentuk survavilitas atas  krisis politik tanpa resolusi. 

Pemerintah yang mengklaim sedang memerangi terorisme dan ekstrimisme tidak akan berhasil dengan sikap dan posisi politik sekarang ini yang memerangi kelompok ekstrimis dengan cara yang brutal. Mesir sekarang menyaksikan derajat kekerasan politik dan sektarian, di sepanjang sejarah modern, seperti yang kita saksikan  selama 4 tahun. Pemerintah tidak dapat mengklaim telah melakukan hal itu sementara  variabel yang paling penting berupa penindasan dan otoritarianisme pemerintah terus terjadi, sehingga menjustifikasi ekstrimisme dan kekerasan. Tidak pelak, kita sekarang berada di lingkaran setan kekerasan.

Dalam konteks keamanan, kasus yang menjadikan warga Koptik sebagai subyek pembunuhan, pemboman dan pengusiran menunjukkan kegagalan besar pemerintah untuk melindungi mereka dalam kedudukannya sebagai warga negara. Kegagalan tersebut terwujud dalam banyak level, termasuk perlindungan kepada mereka, khususnya setelah Daesh secara eksplisit menyatakan mereka sebagai target serangan. Kegagalan untuk menahan dan menyeret mereka yang bertanggung jawab atas aksi kekerasan tersebut berikut kegagalan untuk meminta pertanggung jawaban aparat keamanan.

Mereka yang bertanggung jawab pertama adalah menteri dalam negeri yang secara teoritis bertanggung jawab dalam memberikan perlindungan kepada penduduk Mesir. Mereka hingga sekarang belum dianggap sebagai pihak yang bertanggung jawab. Karena kegagalan tersebut, penduduk Mesir harus membayar mahal kehidupannya. 

Pada saat pemerintah sibuk mengejar, menangkap dan memenjarakan para pengkritik dan kelompok oposisi, mereka justru gagal melindungi rakyat dari serangan teroris dan ekstrimis. Pemerintah membanggakan diri telah menyerang kamp-kamp pelatihan teroris di luar negeri namun mereka justru tidak berdaya di dalam negeri menghadapi mereka. 

Sumber krisis di dalam negeri, sementara di luar negeri hanyalah salah satu faktor sekundernya saja. 

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *