Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/u692536656/public_html/wp-includes/post-template.php on line 275

Kelompok Ekstrimis Yahudi: Palestina dan Masjid Al Aqsa Mitos

Beberapa hari sebelum ribuan warga Palestina menunaikan shalat di jalanan Kota Tua Yerusalem untuk mempertahankan Masjid Al Aqsa, malam sebelumnya, bendera Israel dikibarkan dan wakil menteri pertahanan Israel berpidato dalam pertemuan dengan kelompok Yahudi radikal menyerukan Israel untuk mengambil alih total Temple Mount, sebutan Yahudi bagi Masjid Al Aqsa agar kuil Yahudi dapat didirikan.

Polisi menutup jalan ketika 300 kelompok Yahudi tersebut berpawai di jalanan Yerusalem Timur. Aksi pawai ini diorganisir oleh Women in Green, organisasi pemukim Yahudi ilegal dalam rangka merayakan hari Yahudi Tisha B’Av, peringatan atas penghancuran 2 kuil kuno Yahudi.

“Jika kuil ini dibangun, maka Yahudi akan beribadah setiap hari dan setiap jam. Tidak ada kekuatan di dunia ini yang dapat menghentikan bangsa Yahudi, dan kita akan berkerja untuk mewujudkan cita-cita ini,” ujar wakil menteri pertahanan Eli Ben Dahan.

“Tahun ini pawai kita punya makna penting karena beberapa pekan lalu, kita mengalami penghinaan oleh musuh kita,” teriak Nadia Matar, wakil ketua Women in Green.

“Keseluruhan kekacauan yang disebabkan alat pendekteksi logam menjadi perasaan kemenangan yang menyedihkan dari musuh-musuh atas pemerintahan kita dan untuk itu, kita sangat kecewa.”

Dalam pawai tersebut, perasaan terluka dan kemarahan, kelompok radikal sayap kanan ini ditumpahkan.

“Tahun ini menjadi pengingat kita, setelah hal yang buruk terjadi atas orang-orang Arab, ternyata bahwa segala sesuatunya yang ada disini bukan milik kita dan tiba-tiba kita menyadari bertapa pentingnya pawai kita kali ini,” ucap Matar kepada kerumunannya.ย “Setiap tempat, kita berjalan milik kita dan kita akan menyelematkan Yerusalem.”

Israel memasang pemindai logam di pintu masuk Masjid suci ketiga umat Islam setelah 3 warga Palestina dan 2 polisi Israel tewas di halaman masjid pada 14 Juli.

Langkah tersebut tidak pelaj dianggap sebagai pelanggaran atas status quo kota milik rakyat Palestina ini dan 2 pekan kemudian aksi protes pecah. Pada akhirnya, alat pemindai logam ini dibongkar pada 27 Juli.

Pembongkaran Pemindai Logan Dianggap Sebagai “Kekalahan”

Saluran Channel 2 Israel menayangkan hasil polling yang menunjukkan bahwa 77 persen warga Israel menyebutkan pembongkaran alat pemindai logam sebagai “kekalahan” Israel.

Pernyataan yang sama disuarakan oleh politisi Partai Likud Yehuda Glick, pendiri pendirian kuil” yang menuntut pemerintah berpihak kepada “nilai-nilai rakyat”.

“Perang kita berada di belakang tembok (Masjid Al Aqsa), katanya. “Pendirian negara Israel dan penguasaan Yudea dan Samaria dicapai oleh rakyat diluar pertimbangan logika dan politik. Maka kita harus menjadikan kendali (penuh) atas Temple Mount (Masjid Al Aqsa) sebagai fakta.”

Eli Ben Dahan, Wakil Menteri Pertahanan, menyerukan kuil tersebut dibangun kembali, sembari mengutip Taurat bahwa “kebangkitan bangsa Yahudi dapat dicapai hanya dengan penguasaan penuh atas Temple Mount.”

“Tidak cukup kita hanya punya kedaulatan dalam kertas, kecuali kita harus mewujudkan kedaulatan tersebut dan menunjukkan siapa yang berkuasa disini,” ujar Matar.

“Sepanjang kita ketahui, keberadaan rakyat Palestina adalah mitos. Jika mereka baik, boleh tinggal disini, jika tidak, kita usir”,ย teriak peserta aksi lainnya.

Status Quo

Status quo adalah prinsip yang dijalankan sejak era Usmani bahwa tidak ada perubahan atas status masjid Al Aqsa dan kota tua dan semakin dipertegas ketika Israel berhasil merebut Yerusalem Timur dari Yordania.

Ketika Israel menguasai kota Yerusalem Timur, negara Zionis tersebut menyerahkan kendali Masjid Suci Al Aqsa dibawah Kementerian Waqaf Yordania.

Rakyat Palestina takut bahwa Israel secara sistemik hendak mengubah status quo Masjid Al Aqsa, yang sebelumnya juga mendorong perlawanan dari rakyat Palestina, seperti kerusuhan pada 2014 danย 2015.

Pada 2000, Intifadha kedua meletus, ketika Ariel Sharon, yang menjadi pemimpin oposisi pada saat itu, secara provokatif memasuki kompleks Masjid Al Aqsa dengan pengawalan tentara Israel.

Katakutan rakyat Palestina semakin memuncak karena aktivitas pelbagai kelompok ekstrim Yahudi di sekitar kompleksย Masjid Al Aqsa dengan fasilitas dan perlindungan aparat keamanan Israel.

Sementara dalam ajaran Yahudi ortodok, aktivitas di sekitar Temple Mount dilarang agama, namun yang terjadi sebaliknya, kini jumlah kunjungan dan aktivitas keagamaan para pemukim Yahudi radikal di kompleks Masjid Al Aqsa justru semakin meningkat.

Dalam sehari, menurut hitungan Koran Jerusalem Post, kunjungan yahudi ke kompleks Masjid Al Aqsa mencapai lebih 1000 orang sehari. Dalam 6 bulan, diperkirakan mencapai lebih dari 17.500.

Jadi, krisis Masjid Al Aqsa tampaknya masih akan berlangsung.

Para pembicara dalam aksi pawai tersebut sesumbar menyatakan:

“Penduduk lokal kini menyatakan kemenangannya,” ujar Glick, anggota parlemen dari partai pemerintah,” Namun ini hanya sementara. Tuhan akan memberikan tanah Israel kepada kita. Kita kuat dan kita akan menyelesaikannya sesuai keinginan kita.”

 

Sumber: Middleeasteye

Facebook Comments

Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/u692536656/public_html/wp-includes/class-wp-comment-query.php on line 405

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *