Keputusan Menentukan Erdogan Pasca Tuduhan Korupsi 17 Desember

Dapat saya simpulkan bahwa 50 persen lebih kemenangan AKP dalam pemilu lokal 30 Maret silam (2011)  karena faktor Erdogan. Untuk memahami ini, perlu kita telisik kondisi politik yang berkelindan 3 bulan menjelang pemilu lokal ini. Ada tiga tuduhan serius yang dialamatkan kepada Erdogan oleh oposisi yang dimotori kelompok Gulenis, sekutu yang berujung seteru politik.

Pertama, Erdogan dituduh mempersenjatai pelbagai kelompok yang berafiliasi dengan Al Qaeda di Suriah. Puncaknya, kepolisian Turki (Gendarmarie) yang berada dibawah kendali Gulenis merampas rangkaian container milik intelejen Turki yang hendak menuju perbatasan Suriah dan menggerebek kantor cabang IHH, lembaga sosial Turki yang berafiliasi dengan AKP atas tuduhan memfasilitasi aktivitas terorisme.

Kedua, pemerintah Turki melanggar sanksi ekonomi internasional atas Iran melalui aktivitas perdagangan illegal Bank papan merah, HalkiBank.

Ketiga, Erdogan dan keluarga dituduh menerima suap dan terlibat korupsi.

Tiga manuver Machiavelis ini tentu dimaksudkan merusak kredibilitas Erdogan. Targetnya jelas, Erdogan dan AKP harus tersingkir dari pemerintah. Situasi ini sama gentingnya bagi Erdogan ketika menerima ancaman kudeta dari militer di 2007 sesaat setelah pencalonan Abdullah Gul sebagai kandidat presiden Turki menggantikan Necdat Sezer dari kubu sekuler yang telah habis masa tugasnya.

Sebagai strategi, tiga konstruksi tuduhan yang dirancang kelompok Gulenis ini dapat dianggap sebagai konstruksi dekonstruksi pemerintah AKP yang nyaris sempurna. Betapa tidak? Dalam perspektif Andre Beaufre, pakar strategi perang Perancis, Erdogan dan AKP sudah cukup memenuhi syarat untuk kemudian terjungkal dari kekuasaan karena lengkapnya elemen interior dan exterior manuver lawan.

Secara internasional, Erdogan terisolasi karena tuduhan membiayai kelompok militant Islam dan bermain mata dengan Iran. Sedangkan, tuduhan korupsi pasca operasi 17 Desember oleh elemen parallel state yang dilengkapi ‘bukti-bukti’ rekaman berpotensi menggerus kepercayaan publik Turki.

Implikasinya, beberapa menteri Erdogan harus mundur. Sementara, para petinggi AKP dan beberapa kolega bisnis mereka ditangkap karena tuduhan suap. Dua anak Erdogan sendiri tidak luput masuk dalam daftar calon tersangka. Sebagai bagian aksi demarketisasi, puluhan anggota parlemen AKP dari kubu Gulenis mundur massal. Ekonomi Turkipun terguncang. Harga saham beberapa perusahaan papan atas Turki meluncur turun bak papan seluncur. Dalam sekejap, Turki mengalami kerugian tidak kurang 270 milyar kurang dalam sepekan.

Maka laiknya pisau bermata dua, kesalahan bersikap dan memilih strategi yang tepat akan berdampak kepada masa depan AKP. Disaat banyak petinggi AKP tidak begitu percaya diri karena serangan bertubi-tubi tersebut. Erdogan justru menyeruak tampil kemuka, mengambil alih kendali partai dan menyerang balik. Dia balik menuduh bahwa elemen internasional melalui dukungan para pebisnis dan kekuatan media berada dibalik aksi destabilisasi Turki dengan menggunakan actor lokal (kelompok Gulenis).

Erdogan berkeliling di kota-kota Turki menyakinkan rakyat bahwa elemen-elemen tersebut tidak menginginkan kebangkitan Turki. Puluhan ribu rakyat Turki mendengarkan penjelasannya. Tidak kurang, Erdogan menyerang langsung jantung perlawanan atas dirinya, Fethullah Gulen. Menantang sang Hoca yang berdomisili di Pennsylvania, AS ini untuk kembali ke Turki, membentuk partai politik dan bersaing dengan dirinya secara terbuka, ketimbang berada dibalik kuasa gelap shadow government. Pemilu lokal dikatakannya sebagai momentum rakyat Turki untuk mundur ke masa lalu atau melanjutkan kemajuan dibawah kepemimpinan Erdogan.

Rupanya track record dan keberanian Erdogan menantang badai mampu menarik simpati publik Turki. Kelompok konservatif memiliki rasional tersendiri untuk memberi dukungan kepada Erdogan dan AKP. Partai ini kembali memenangi pemilu lokal dengan perolehan yang cukup menyakinkan, 45 persen, naik dari perolehan di 2008, 38 persen.

Kita dapat berandai-andai apa yang terjadi sekiranya Erdogan tidak tampil berani dan tegas melawan upaya sistemik penjatuhan citra dirinya dan AKP? Salah satu keunggulan Erdogan adalah dia mampu memberi alasan tersendiri, yang jauh dari kesan apologis atas tindakan dan manuver politiknya. Dia tidak perlu mendengarkan common sense atau bahkan cara mem-bully lawan politiknya.

Apa yang terjadi seandainya Erdogan gagal meredam kegelisahan internal AKP di satu sisi dan disi lain tidak mampu mencegah manuver sebagian kelompok Gulenis dalam tubuh AKP menjadi bola liar dan pada akhirnya melemahkan soliditas partai?

Dalam konteks ini, menyerang balik menjadi strategi terbaik Erdogan. Namun bukan semata counter-strategy, tampaknya modalitas kepemimpinan Erdogan, track record dan keseksamaan politik dirinya juga menjadi kekuatan pendukung yang patut diperhatikan.

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *