Ketika Ancaman AS “Berpengaruh” atas 65 Negara PBB

Sidang Umum PBB Kamis kemarin melakukan pemungutan suara dengan hasil 128 setuju melawan 9 memutuskan bahwa manuver Dolad Trump yang mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel “tidak sah dan batal”.

Meskipun dipermalukan dengan hasil tersebut, namun AS dan Israel mengklaim memperoleh derajat kemenangan dengan menyatakan bahwa 65 negara tidak memberikan suara dukungan resolusi untuk mengecam Washington. Mereka dipandang menambah angka suara yang menyatakan tidak, berupa sikap abstain maupun tidak hadir dalam sidang. 

Diantara 193 negara anggota PBB, 9 menentang, 35 abstain dan 21 negara tidak datang. 

Duta besar AS untuk PBB Nikki Haley mentwit bahwa “65 negara menolak mengutuk AS atas keputusannya tersebut” dan mengatakan AS menghargai negara-negara itu “karena tidak ikut-ikutan terlibat dalam mengikuti keputusan PBB yang tidak bertanggung jawab.”

“Ketika resolusi disetujui, suara yang memberikan cerita yang berbeda,” kata juru bicara AS di PBB. “Jelas bahwa banyak negara memprioritaskan hubungannya dengan AS atas upaya yang tidak produktif untuk mengisolasi kita atas keputusan negara yang memiliki kedaulatan.”

Kata pengamat Israel, Raphael Ahren mengatakan kekalahan besar Israel tidak seburuk tampaknya. 

“Hasilnya tidak begitu penting di lapangan karena hanya satu resolusi tanpa mengikat,” bantahnya. 

Juru bicara Menlu Israel menggambarkan bahwa fakta 65 negara abstain atas keputusan Trump menjadi sangat penting. 

Apakah Ancaman Trump Berdampak?

Keputusan Trump pada 6 Desember untuk mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel mengundang kecaman di PBB. Negara-negara Islam mengajukan desakan untuk menyelenggarakan sidang baik di Dewan Keamanan maupun Sidang Umum.

Sidang khusus PBB Kamis lalu diselenggarakan atas permintaan negara-negara Arab dan dunia Islam setelah sebelumnya AS memveto rancangan resolusi di Dewan Keamanan. 

Trump telah mengancam akan  memotong bantuan keuangan kepada negara-negara yang mendukung resolusi. 

“Mereka mengambil jutaan dollar dan bahkan milyaran dollar dan kemudian mereka menentang kita,” kata Trump di Gedung Putih. “Oke, kami akan mengawasi suara anda. Silahkan lawan kami. Kami akan banyak menghemat dan tidak peduli.” 

Ukraina, yang mendukung resolusi yang sama di Dewan Keamanan, berada diantara 21 negara yang tidak datang dalam pemungutan suara Kamis, menunjukkan bahwa ancaman Trump benar-benar berpengaruh kepada pemerintahannya berada diantara negara-negara yang abstain. Kanada dan Meksiko, dua negara bertentangga yang tengah bernegosiasi dalam Kesepakatan Perdagangan Bebas dengan AS berada diantara jajaran 35 negara tersebut.

Pemerintahan Trump yang proteksionis telah mengancam menarik diri dari kesepakatan.

“Kami kecewa bahwa resolusi ini satu sisi saja dan tidak mendukung prospek perdamaian yang kita inginkan, itulah mengapa kami abstain dalam pemungutan suara,” ujar duta besar Kanada untuk PBB.

Meksiko telah mencantelkan kebijakan luar negerinya lebih dekat dengan Washington sejak Trump berkantor di Gedung Putih. Negara itu ingin mendapatkan perhatian lebih dari AS dalam kesepakatan perdagangan.

Guatemala, Honduras, Israel, Marshall Islands, Micronesia, Nauru, Palau and Togo bergabung dengan AS dengan memberikan suara tidak.

Suara tidak dari Honduras diberikan setelah Washington mengirimkan sinyal untuk mengakui Presiden petahana Juan Orlando sebagai pemenang pemilihan presiden setelah hasil pemilu yang kisruh.

Awal pekan ini, pemerintah Trump memutuskan untuk mendukung Hernandez atas pesaingnya Salvador Nasralla setelah adanya seruan dari Organisasi Negara-Negara Amerika untuk diselenggarakannya pemilu baru karena banyaknya kecurangan.

Resolusi Tidak Mengikut Namun Penting

Meskipun tidak mengikat, namun hasil resolusi ini sangat mempermalukan Washington karena bertabrakan dengan pendirian internasional.

Tidak seperti Dewan Keamanan dimana para anggota permanennya, AS, China, Rusia, Inggris dan Perancis yang dapat membatalkan rancangan resolusi sesukanya, namun tidak ada veto di Sidang Umum.

Fakata bahwa resolusi disetujui dua pertiga dari 193 negara anggota menunjukkan penentangan yang meluas dunia atas keputusan Trump.

Dengan kata lain, seperti dikatakan utusan Palestina di PBB, Riyad Mansour, hasil suara tersebut menjadi “kekalahan besar” AS.

Karena -selain Israel- AS hanya mendapatkan dukungan 7 negara yang tidak penting dan begitu dikenal dalam kancah internasional.

Sementara utusan China untuk PBB menegaskan bahwa pemerintah China mendukung perjuangan rakyat Palestina untuk mendapatkan hak sahnya dan kemerdekaan Palestina berdasarkan perbatasan 1967 dengan ibukota Yerusalem dan berkedaulatan penuh.

“Posisi ini tidak pernah berubah,” tandas Shen Bon, utusan China.

Sumber:CGTN

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *