𝗞𝗲𝘁𝗶𝗸𝗮 𝗕𝗮𝗴𝗵𝗱𝗮𝗱 𝗠𝗲𝗻𝗷𝗮𝗱𝗶 𝗘𝗽𝗶𝘀𝗲𝗻𝘁𝗿𝘂𝗺 𝗣𝗲𝗿𝗮𝗱𝗮𝗯𝗮𝗻 𝗗𝘂𝗻𝗶𝗮

Kota Baghdad kini diguncang oleh bom dan pelbagai aksi kekerasan. Bagi banyak orang, Baghdad kini disamakan dengan kekacauan, kematian dan kehancuran. Namun jika kita membuka sejarah kota ini, maka kita akan mendapatkan bahwa Baghdad dulu pernah menjadi episentrum ilmu pengetahuan dan pembelajaran. Dulu  Baghdad, buku dan karya intelektual adalah istilah-istilah sinomim yang berlangsung  ratusan tahun. Rak-rak buku perpustakaan menghiasi rumah-rumah penduduk dan toko buku bertebaran di seluruh penjuru kota Baghdad.

Ketika Eropa masih bergulat dalam mistisme dan kebodohan, Baghdad menjadi kota favorit yang dikunjungi para intelektual dari seluruh penjuru dunia dan tempat terbitnya karya-karya besar mereka. Jika gereja-gereja Eropa pada waktu itu hanya memiliki  koleksi buku yang dapat dihitung dengan jari, maka kota Baghdad memiliki tidak kurang 100 toko yang menjual pelbagai buku dan alat-alat tulis dengan ribuan koleksi. Jika intelektualisme Eropa hanya terbatas kepada kalangan gereja dan orang-orang kaya, maka Baghdad pada waktu itu telah memiliki lebih dari 30 perpustakaan umum yang dapat diakses oleh masyarakat dari pelbagai strata sosial.

Dalam 200 tahun setelah wafatnya Nabi SAW, negara Islam kecil yang didirikannya tumbuh menjadi kerajaan yang membentang dari Afrika Utara hingga Arab, dari Persia hingga Uzbekistan dan terus melebar hingga India dan sekitarnya. Pada 750 M, Baghdad, kota yang dibangun di tepi sungai Tigris ini menjadi ibukota kekhilafahan Islam. Baghdad tidak hanya menjadi pusat pemerintahan, namun juga menjadi pusat budaya dan pembelajaran masyarakat dunia.

Pria dan wanita dari seluruh penjuru wilayah Abbasiyyah berbondong bondong ke Baghdad untuk belajar dan mengembangkan pengetahuan yang didapatkan dari pelbagai sudut dunia.

Muslim, Yahudi, Kristen, Hindu, Zoroaster dan bahkan orang yang tidak jelas agamannyapun senang untuk tinggal di Baghdad. Buku dan karya intelektual telah menjadi simbol kehidupan Baghdad, dimana para pengarang, penerjemah, penulis dokumen, penggambar sampul, pustakawan, pencetak buku, kolektor dan pedagang saling berinteraksi dan terhubung satu sama lain. Bahasa Arab tumbuh menjadi bahasa ilmu pengetahuan.

Karya Plato, Aristoteles, Ptolemy dan Plutarch adalah diantara karya-karya yang diterjemahkan dalam bahasa Arab. Para filosof Yahudi menggunakan terjemahan Arab tersebut sebagai rujukan untuk menulis karya-karya mereka sendiri. Ketika memasuki abad pencerahan, Eropa juga menggunakan karya-karya terjemahan yang sama untuk membangun Eropa dan menjadi fundasi peradaban Barat. Mereka sudah tidak mendapatkan sumber-sumber aslinya lagi. Para ilmuwan Islam telah menyelamatkan warisan dan pencapaian ilmu pengetahuan yang sejak lama mereka tinggalkan. Tidak pelak, Barat berhutang budi dengan dunia Islam.

Para ilmuwan Baghdad telah menjaga dan mewariskan pelbagai karya klasik baik dari Yunani, Romawi, Mesir, Persia, India dan China. Dari pelbagai terjemahan Arab inilah kemudian para ilmuwan mereka menerjemahkan kembali dalam bahasa Latin, Persia, Ibrani dan Turki. Pendeta Katolik Thomas Aquinas mengajukan teori integrasi agama dan akal setelah membaca karya filsafat Aristoteles dalam terjemahan Arab.

Para ilmuwan Baghdad tidak hanya mengumpulkan dan menerjemahkan  karya-karya tadi, namun juga mensintesiskan dan mengembangkan pelbagai teori baru yang belum dikenal sebelumnya, seperti mekanik, astronomi, matematika dan ilmu kedokteran. Seorang ilmuwan Baghdad -diantaranya- menghasilkan buku panduan pertama tentang penanganan penyakit mata, yang dilengkapi dengan gambar-gambar anatomi tubuh manusia. Karya ini menjadi buku rujukan dunia lebih dari 8 abad.

Ketika Baghdad bertransformasi menjadi pusat ilmu pengetahuan pada era Khalifah Harun al Rasyid, maka anaknya, Al Makmun melanjutkannya dengan membangun institusi think tank pertama, Bayt al Hikmah (Rumah kebijakan). Para ilmuwan di Bayt al Hikmah tidak memiliki spesialisasi khusus seperti halnya para ilmuwan modern. Al Razi misalnya selain sebagai filosof dan matematikawan, dia juga dikenal sebagai pakar kedokteran. Al Kindi tidak hanya menulis karya tentang logika, filsafat, geometri dan penghitungan aritmatika, namun juga seorang musisi dan astronom. Beberapa karya mereka adalah “Mengapa Hujan Jarang Turun di Tempat-Tempat Tertentu”, “Sebab-Sebab Penyakit Vertigo” dan “Pengawinan Silang Merpati”.

Sejarawan al Maqrizi mengambarkan keadaan Bayt al Hikmah pada 1004 M, “Para pelajar punya tempat tinggal sendiri-sendiri. Buku-buku mereka didapatkan dari banyak perpustakaan…dan masyarakat umum juga diperkenankan mengakses. Siapa saja boleh menyalin buku, atau hanya sekedar membacanya di perpustakaan. Para pelajar mempelajari Al Qur’an, astronomi, tata bahasa, leksiografi dan kedokteran. Gedung tersebut dihiasi dengan karpet dan semua pintu maupun jendela bertirai. Para manajer, portir, pelayan dan pegawai-pegawai lainnya digaji untuk memberikan pelayanan.”

Buku-buku telah memainkan peran penting dalam kehidupan Baghdad pada waktu itu. Pada abad 11, sebuah manuskrip di Baghdad digambarkan “seukuran buku modern, yang terbuat dari kertas yang berkualitas bagus dengan tulisan di sisi kanan dan kirinya, serta dijilid dengan cover dari kulit”.

Toko-toko buku di Baghdad menjual ratusan karya, mulai dari Al Qur’an dan tafsirnya, bahasa dan kaligrafi, buku-buku Kristen dan Yahudi, sejarah, buku-buku tentang pemerintahan, hukum dan pengadilan, puisi Islam dan sebelum Islam, pelbagai karya pemikir Islam, biografi, astronomi, karya kedokteran Yunani dan Islam, cerita-cerita diksi serta buku panduan perjalanan (ke India, China dan Indochina).

Pada saat penyerbuan bangsa barbar Mongol ke kota Baghdad, mereka telah membuang dan membakar tidak kurang satu juta koleksi buku ke sungai Tigris sehingga air sungai berwarna hitam pekat karena larutan tinta. Lebih dari itu, konon kuda-kuda serdadu Mongol dapat melintasi sungai Tigris karena saking banyaknya buku yang dibuang didalamnya.

Kini, Baghdad kembali terkoyak dalam perang dan kebrutalan. Intelektualisme diganti dengan permusuhan dan aksi sektarianisme yang merenggut ratusan ribu nyawa. Lamat-lamat namun pasti warisan kebanggaan itu menghilang dan tidak tahu sampai kapan kembalinya kebanggaan tersebut. Wallahu A’lam. 

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *