Kisah Menyentuh Tentara Terakhir Usmani yang Menjaga Masjid Al Aqsa

Inilah adalah kisah seorang tentara Usmani yang tetap loyal dengan tugasnya menjaga Masjid Al Aqsa setelah militer Usmani mundur dari Yerusalem pada 9 Oktober 1917.

Almarhum sejarawan Ilhan Bardakci bertemu dengan sisa tentara Usmani  tersebut pada 12 Mei 1972 dan kemudian mengabadikan pertemuan bersejarah tersebut.

Masjid Al aqsa, Jumat, 21 Mei 1972. teman jurnalis saya, almarhum Said Terzioğlu dan aku berkeliling tempat suci tersebut dengan bantuan pemandu kami. Pada saat itu, kami berada di tangga atas halaman Masjid suci dimana aku melihat dia. DIa hampir dua meter tingginya. DIa memakai pakaian usang yang membungkus tubuhnya yang juga sudah renta, namun tetap kokoh berdiri. Aku melihat wajahnya dan agak takut, seperti orang yang baru keluar dari lumpur. Dia memiliki banyak luka di wajahnya.

“Siapa pria ini?” tanya saya kepada pemandu saya. Dia menggelengkan kepalanya dan menjawab,“Tidak tahu, mungkin orang gila. Dia selalu berdiri disini, dia tidak pernah meminta dari orang lain.”

Saya tidak tahu mengapa, saya kemudian mendekatinya dan berkata dalam bahasa Turki,”Assalamualaikum, baba (ayah)”. Kelopak matanya terbuka lebar dan menjawab dengan bahasa Turki,  “Waalaikum salam,  oğul  (anak)!”

Saya sungguh terkejut dan sejenak memeluk dan mencium tangannya. “Siapakah anda ayah?” selidik saya. Dia kemudian menjelaskan:

“Saya kopral Hasan dari Korps 20, Batalion 36, skuadron ke-8  senapan mesin yang ditempatkan di Masjid Al Aqsa pada hari kita kehilangan kota Al Quds.”

 

Pasukan Usmani yang berjaga di Masjid Al Aqsa

Pemerintah Usmani telah memerintah selama 401 tahun, 3 bulan dan 6 hari di Al Quds. Pada hari Ahad 9 Desember 1917, mereka keluar dari Palestina. Negara Usmani sendiri berada di jurang kejatuhan dan hanya meninggalkan satu skuadron yang berjaga di Masjid Al Aqsa untuk melindungi dari penjarahan sebelum pasukan Inggris masuk ke kota.

Ya Allah, aku tatap wajah itu sekali lagi, kepalanya seperti balkon menara yang ditopang pundak yang tegak. Saya meraih tangannya sekali lagi dan dia mulai berbicara:

“Bolehkah aku meminta tolong, anakku? Saya punya keinginan yang kusimpan bertahun-tahun, maukah kami menyampaikan pesan itu?”

“Tentu, apakah itu”, tanyaku.

“Ketika kamu kembali ke Turki, jika kamu berada Tokat Sanjak, cari dan temukan komandan saya yang menempatkan saya disini, Kapten Musa. Ciumlah tangannya untukku dan beritahu dia bahwa Kopral Hasan dari Provinsi  Iğdır  dari skuadron senapan mesin masih tetap di tempatnya.”

Jantungku seperti berhenti berdetak.

Bertahun-tahun kemudian.

Kepala staff angkatan bersenjata memutuskan memanggil Ilhan Bardakci untuk membantu mencarikan prajurit gagah berani yang diceritakan di televisi pemerintah. Bardaksci kemudian menulis: “Kopral Hasan adalah salah satu dari kita. Nasibnya terlupakan. Inilah yang terjadi. Kita bahkan tidak pernah mencarinya dan membiarkannya sendirian. Dia tidak lagi dapat ditemukan. Dia seperti pohon kokoh yang menjulang kelangit. Dan kita, sekalipun mendongakkan kepala kita hanya tampak seperti rumput yang hanya mampu menyentuh akarnya. Kita hanya tahu bagimana untuk melupakannya. Sama seperti lainnya, kita juga lupa bahwa permata itu masih berada di tempatnya, kopral Hasan”.

 

Sumber

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *